Jakarta, Jurnalekbis.com — Ketidakpastian global yang kian kompleks, mulai dari konflik geopolitik, tekanan ekonomi dunia, hingga disrupsi teknologi, dinilai berpotensi melemahkan ketahanan sosial jika tidak diantisipasi secara serius. Di tengah keterbatasan negara dan mekanisme pasar dalam merespons krisis berlapis, sejumlah tokoh nasional menilai kekuatan masyarakat justru harus dibangun dari bawah, berbasis nilai kemanusiaan dan integritas diri.
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi terbatas yang berlangsung di Jakarta, Minggu (18/1/2025), yang melibatkan aktivis senior Hariman Siregar, ekonom Bambang Wiwoho, pengamat sosial Sidra Tahta, serta praktisi komunikasi Ariady Achmad. Diskusi digelar dalam suasana silaturahmi dan refleksi mendalam, tanpa agenda politik praktis.
Para peserta sepakat bahwa dunia tengah bergerak dalam lanskap yang sulit diprediksi. Ketegangan antarnegara, fluktuasi ekonomi global, serta derasnya arus informasi digital menciptakan kegelisahan baru di tengah masyarakat, sekaligus menguji ketahanan sosial bangsa.
Dalam diskusi tersebut, para tokoh menilai negara memiliki keterbatasan struktural dalam merespons krisis yang sifatnya kompleks dan multidimensi. Mekanisme pasar pun dinilai tidak selalu berpihak pada kelompok rentan ketika terjadi guncangan ekonomi atau sosial.
“Ketika krisis datang bersamaan ekonomi, sosial, politik, teknologi negara sering kali bekerja dengan jeda. Di titik inilah ketahanan masyarakat menjadi faktor penentu,” ujar salah satu peserta diskusi.
Menurut mereka, ketahanan sosial tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada kebijakan negara atau intervensi ekonomi semata. Diperlukan fondasi sosial yang kuat agar masyarakat mampu bertahan, beradaptasi, dan saling menopang di tengah ketidakpastian.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah pentingnya silaturahmi sebagai modal sosial. Dalam konteks meningkatnya polarisasi politik dan fragmentasi sosial, relasi antarindividu yang dilandasi kepercayaan dinilai semakin krusial.
Silaturahmi tidak lagi dipahami sekadar tradisi kultural, melainkan instrumen strategis untuk menjaga kohesi sosial. Relasi yang terbangun secara personal dinilai mampu membuka ruang dialog, meredam kecurigaan, serta mencegah konflik horizontal yang kerap dipicu oleh disinformasi.
“Masyarakat yang saling mengenal dan terhubung memiliki daya lenting yang lebih kuat ketika menghadapi tekanan ekonomi maupun sosial,” ungkap peserta diskusi lainnya.
Dalam situasi banjir informasi dan narasi yang sering kali memecah belah, silaturahmi dinilai menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama dan menjaga keutuhan sosial.
Diskusi juga menyoroti menguatnya logika transaksional dalam kehidupan modern. Hubungan sosial yang sebelumnya berbasis solidaritas kini kerap bergeser menjadi relasi untung-rugi.
Para tokoh menilai nilai tolong-menolong justru semakin relevan di tengah situasi tersebut. Solidaritas sosial tidak dipandang sebagai bentuk belas kasihan, melainkan kesadaran kolektif bahwa krisis yang menimpa satu kelompok pada akhirnya akan berdampak pada kelompok lain.
“Ketahanan sosial hanya bisa terwujud jika masyarakat menjaga semangat saling menopang, terutama bagi mereka yang berada dalam posisi paling rentan,” kata seorang peserta diskusi.
Dalam konteks ekonomi yang fluktuatif, praktik tolong-menolong dinilai dapat menjadi jaring pengaman sosial informal yang melengkapi peran negara.
Isu kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam diskusi tersebut. Para tokoh sepakat bahwa ketahanan masyarakat tidak mungkin dibangun di atas individu-individu yang rapuh secara fisik maupun mental.
Tekanan ekonomi, konflik sosial, serta paparan informasi berlebihan dinilai berpotensi melahirkan kelelahan kolektif. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memicu instabilitas sosial yang lebih luas.
Kesehatan dalam diskusi ini dimaknai secara holistik, mencakup kesehatan jasmani, mental, emosional, hingga spiritual. Individu yang sehat dinilai lebih mampu berpikir jernih, bersikap tenang, dan tidak mudah terprovokasi dalam situasi krisis.
“Kesehatan bukan isu personal semata, tapi fondasi ketahanan sosial,” ujar salah satu pembicara.
Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi, diskusi justru menekankan pentingnya integritas diri dan keterampilan manusiawi. Integritas dipandang sebagai fondasi utama kepercayaan sosial, agar relasi antarwarga tidak terjebak pada kepentingan sempit atau sekadar pencitraan.
Sementara itu, keterampilan manusiawi—seperti empati, kemampuan mendengar, komunikasi yang jujur, serta kerja sama lintas perbedaan—dinilai sebagai keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Teknologi bisa menggantikan banyak hal, tapi tidak bisa menggantikan empati dan kejujuran,” kata peserta diskusi.
Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi penentu kualitas peradaban di tengah perubahan zaman yang serba cepat.
Diskusi terbatas ini tidak menghasilkan deklarasi besar atau agenda politik praktis. Namun, para tokoh sepakat bahwa membangun ketahanan masyarakat sering kali merupakan ikhtiar sunyi yang berangkat dari kesadaran individu dan relasi sosial yang sehat.
Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, diskusi ini menjadi pengingat bahwa kekuatan bangsa tidak semata ditentukan oleh angka pertumbuhan ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan oleh manusia yang berintegritas, saling terhubung, dan berpegang pada nilai kemanusiaan.













