Mataram, Jurnalekbis.com – Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) membeberkan sejumlah komoditas pangan yang berpotensi kuat menekan laju inflasi daerah, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Cabai rawit, bawang putih, telur ayam ras, hingga daging sapi disebut menjadi komoditas yang perlu diantisipasi karena menunjukkan tren kenaikan harga dalam tiga tahun terakhir.
Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riyadno, mengatakan pemetaan tersebut dilakukan berdasarkan pengolahan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta hasil Survei Pemantauan Harga Pangan Strategis (PHPS) hingga Februari 2026.
“Kalau dilihat dari slide ini, semakin ke kanan artinya tekanan inflasi makin besar. Sementara kalau ke atas itu berarti upaya menekan inflasi tiap bulan. Dari data BPS yang kami olah, sejak 2021 komoditas utama penyumbang inflasi meliputi angkutan udara, cabai rawit, beras, dan perhiasan,” ujar Andhi dalam pemaparannya. Selasa (10/2).
Selain itu, BI NTB juga mencatat komoditas hortikultura seperti tomat, bawang merah, dan cabai merah memiliki frekuensi inflasi paling tinggi. Sementara pada periode Ramadan dan Idul Fitri, lonjakan inflasi biasanya dipicu bawang putih, cumi-cumi, serta kelompok protein seperti ayam hidup dan daging ayam ras akibat peningkatan permintaan konsumsi masyarakat.
Andhi menyebut kondisi tersebut sejalan dengan langkah Pemerintah Provinsi NTB yang mulai mengintensifkan operasi pasar pada komoditas strategis.

“Ini sejalan dengan arahan Pak Gubernur untuk melakukan sidak pasar, terutama pada komoditas yang trennya selalu naik menjelang hari besar keagamaan,” katanya.
Berdasarkan survei PHPS, harga beras dan gula pasir saat ini masih terpantau stabil karena pasokan relatif memadai. Namun BI NTB memberi perhatian khusus pada komoditas yang mulai bergerak naik di luar pola rata-rata, seperti cabai rawit, bawang putih, telur ayam ras, dan daging sapi.
“Kalau yang garis biru ini artinya harganya perlu kita antisipasi karena sudah keluar dari rentang normal. Ini terlihat jelas menjelang bulan-bulan besar keagamaan,” jelas Andhi.
Untuk bawang merah, kondisi pasokan dinilai masih aman karena sentra produksi di Bima tengah memasuki masa panen. Namun cabai rawit dan bawang putih menjadi perhatian utama karena menunjukkan kenaikan harga yang cukup konsisten.
BI NTB juga menyoroti meningkatnya permintaan daging sapi dan telur ayam ras seiring tradisi konsumsi masyarakat NTB menjelang Ramadan dan Lebaran. Untuk menekan gejolak harga, pemerintah daerah bersama berbagai klaster pangan telah melakukan gerakan pasar dan penguatan distribusi.
“Yang perlu kita pastikan sekarang adalah ketersediaan stok di bulan-bulan ini, terutama untuk cabai rawit dan bawang putih yang trennya terus naik,” tegas Andhi.
Bank Indonesia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan kelompok tani mampu menjaga stabilitas harga pangan, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi musiman.













