Surabaya, Jurnalekbis.com – Pimpinan Wilayah Perum Bulog Jawa Timur, Langgeng Wisnu A, memastikan distribusi Minyakita terus dioptimalkan meski di sejumlah pasar masih ditemukan kekosongan stok. Hingga 26 Februari 2026, Bulog Jatim telah menyalurkan sekitar 6 juta liter Minyakita ke 2.250 titik pedagang di 160 pasar kabupaten/kota.
Langgeng mengatakan, langkah percepatan distribusi dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran. Ia mengakui, peran Bulog dalam skema Domestic Market Obligation (DMO) memang tidak dominan karena sebagian besar distribusi berada di tangan swasta.
“Dalam skema DMO, 65 persen distribusi dilakukan pihak swasta dan 35 persen oleh BUMN, yakni Bulog, IDFOOD, dan Agrinas. Sesuai hasil zoom anev Satgas Pangan pada 26 Februari 2026, Bulog sudah merealisasikan sekitar 20 persen dari penugasan DMO,” ujar Langgeng di Surabaya, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, Minyakita yang disalurkan Bulog sudah terlihat di pasar dan angka penjualannya relatif stabil. Distribusi dilakukan bertahap dan terukur, dengan pengawasan bersama tim pengendali inflasi daerah serta Satgas Pangan.
Data Bulog Jatim mencatat, sejak 19 Januari hingga 26 Februari 2026, sebanyak 6 juta liter Minyakita telah disebar ke berbagai wilayah. Penyaluran mencakup 2.250 titik pedagang di 160 pasar tradisional yang tersebar di kabupaten/kota di Jawa Timur.
“Penyaluran kami lakukan secara merata dan terpantau. Kami juga mendapat apresiasi dari Bapanas dan Tim Satgas Pangan karena distribusi Bulog dinilai berjalan baik dan stoknya nyata ada di pasar,” tegasnya.

Meski demikian, di lapangan masih ditemukan laporan kekosongan Minyakita di beberapa pasar. Langgeng menilai kondisi itu tidak sepenuhnya mencerminkan pasokan secara keseluruhan, mengingat porsi distribusi Bulog hanya sebagian dari total DMO nasional.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang Lebaran, Bulog Jatim menyiapkan tambahan stok 2,7 juta liter. Stok tersebut akan digunakan untuk kegiatan stabilisasi harga dan pasokan, termasuk operasi pasar dan program Gerakan Pangan Murah.
“Kami siapkan 2,7 juta liter hingga Lebaran untuk kegiatan stabilisasi harga dan pasokan. Fokusnya agar masyarakat tetap mendapatkan Minyakita sesuai harga eceran tertinggi (HET),” kata Langgeng.
Bulog Jatim juga menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten/kota dalam pengawasan distribusi. Seluruh kantor cabang diminta aktif turun ke lapangan bersama tim pengendali inflasi dan aparat penegak hukum guna memastikan tidak terjadi penimbunan atau penyimpangan distribusi.
Langgeng menekankan, kelancaran pasokan di tingkat pengecer membutuhkan sinergi semua pihak. Mengingat 65 persen distribusi berada di tangan swasta, ia berharap para distributor lain turut menjaga ketersediaan barang dan kepatuhan terhadap HET.
“Karena sebagian besar distribusi dilakukan pihak lain, kami berharap seluruh distributor dapat mengawal penjualan agar sesuai HET dan pasokan tetap lancar di tingkat pengecer,” ujarnya.
Pemerintah menempatkan Minyakita sebagai salah satu komoditas strategis dalam pengendalian inflasi pangan. Dengan distribusi yang lebih masif dan pengawasan terpadu, Bulog Jatim optimistis kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi hingga momentum Lebaran, sekaligus menekan potensi gejolak harga di pasar tradisional.














