BisnisEkonomi

Harga Kedelai Tembus Rp11 Ribu, Perajin Tahu Tempe di Mataram Mulai Gulung Tikar

×

Harga Kedelai Tembus Rp11 Ribu, Perajin Tahu Tempe di Mataram Mulai Gulung Tikar

Sebarkan artikel ini
Harga Kedelai Tembus Rp11 Ribu, Perajin Tahu Tempe di Mataram Mulai Gulung Tikar

Mataram, Jurnalekbis.com – Kenaikan harga kedelai impor yang kini menembus lebih dari Rp10 ribu hingga Rp11 ribu per kilogram membuat para perajin tahu dan tempe di Lingkungan Kekalik, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, semakin tertekan. Untuk menekan kerugian, sebagian perajin terpaksa mengurangi ukuran dan ketebalan tahu maupun tempe yang diproduksi. Bahkan, sejumlah usaha kecil memilih berhenti beroperasi karena tak lagi sanggup menanggung biaya produksi.

Salah seorang perajin tahu dan tempe di Kekalik, Ripai, mengatakan harga kedelai yang menjadi bahan baku utama terus melonjak dalam sebulan terakhir. Jika sebelumnya harga kedelai masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram, kini harganya sudah menembus Rp10.100 hingga Rp11.000 per kilogram.

“Kalau sekarang harganya per kilo Rp10.100. Sebelumnya masih Rp8.000 sampai Rp9.000. Sekarang sudah lebih dari Rp10.000 per kilo,” kata Ripai saat ditemui, Senin (6/4/2026).

Menurut dia, kenaikan harga kedelai terjadi sejak sekitar satu bulan terakhir. Sebagian besar kedelai yang digunakan perajin di Mataram berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat. Ripai menduga konflik dan ketegangan global, termasuk perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ikut mempengaruhi harga bahan baku di pasar.

Baca Juga :  Indosat Ooredoo Hutchison Jamin Kelancaran Jaringan Saat Mudik Lebaran 2024

“Kedelainya impor. Ada yang dari Amerika, ada juga dari Jawa. Kalau di NTB belum banyak yang tanam, biasanya baru ada saat musim hujan,” ujarnya.

Karena tidak mungkin menaikkan harga jual tahu dan tempe, para perajin akhirnya mencari jalan lain agar usaha mereka tetap bertahan. Cara yang paling banyak dilakukan adalah mengurangi isi dan ketebalan produk secara perlahan agar pelanggan tidak langsung menyadarinya.

“Siasatinya ya dikurangi isinya sedikit, ketebalannya dikurangi. Tidak bisa langsung dinaikkan harga jualnya karena pelanggan pasti protes,” kata Ripai.

Ia menjelaskan, biasanya satu cetakan tahu menggunakan takaran dua kilogram kedelai. Namun sekarang takaran tersebut mulai dikurangi agar biaya produksi tidak terlalu besar.

Baca Juga :  Program Gebyar Kemerdekaan 2023 PLN Diapresiasi Pelanggan

“Biasanya isi per cetak 2 kilogram. Sekarang takarannya dikurangi sedikit. Dari situ baru ada keuntungan sedikit,” ujarnya.

Meski demikian, langkah tersebut belum cukup menyelamatkan seluruh usaha. Ripai menyebut sejumlah perajin skala kecil sudah mulai menutup usahanya karena pendapatan yang diperoleh tidak lagi mampu menutupi biaya operasional.

Perajin yang sebelumnya hanya memproduksi sekitar 25 kilogram kedelai per hari menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka memilih berhenti karena keuntungan yang diperoleh semakin tipis.

“Yang produksi sedikit banyak yang tutup. Pendapatannya tidak bisa mencukupi lagi. Kalau yang masih bertahan biasanya produksi satu kuintal,” kata dia.

Ripai sendiri mengaku terpaksa menurunkan jumlah produksi. Sebelum harga kedelai naik, ia bisa mengolah hingga 1,5 kuintal kedelai per hari. Namun sekarang produksinya hanya sekitar satu kuintal.

“Dulu produksi satu setengah kuintal, sekarang tinggal satu kuintal. Tidak berani produksi banyak karena nanti tidak habis di pasaran,” ujarnya.

Baca Juga :  6.470 Pelari PLN Electric Run 2024 Kurangi Emisi 14.363 Kg CO2

Selain daya beli masyarakat menurun, pelanggan juga mulai mengurangi jumlah pembelian karena ukuran tahu dan tempe yang dijual semakin kecil. Keluhan dari pembeli pun bermunculan.

“Banyak yang komplain. Mereka bilang sekarang tipis, sekarang kecil. Tapi mau bagaimana lagi, harga kedelai naik,” katanya.

Di sisi lain, perajin juga tidak bisa menaikkan harga jual karena persaingan usaha tahu dan tempe di Kota Mataram semakin ketat. Jika dulu sentra produksi hanya terpusat di Kekalik, kini usaha serupa juga tumbuh di sejumlah wilayah lain seperti Pagesangan, Abian Tubuh, hingga kawasan sekitar Kota Mataram.

Kondisi itu membuat para perajin di Kekalik berada dalam posisi sulit. Di tengah harga bahan baku yang terus melambung, mereka harus memilih antara memperkecil ukuran produk, mengurangi produksi, atau menutup usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *