Warga Langko Timuq Bangun Jaringan Air Bersih Secara Swadaya, Ini Rahasianya

Warga Langko Timuq Bangun Jaringan Air Bersih Secara Swadaya, Ini Rahasianya

Lombok Barat, Jurnalebis.com – Ancaman musim kemarau tidak membuat warga Dusun Langko Timuq, Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, tinggal diam. Sebanyak 230 kepala keluarga (KK) memilih bergerak bersama memperbaiki jaringan distribusi air bersih secara swadaya agar pasokan tetap tersedia bagi seluruh masyarakat.

Kegiatan gotong royong yang berlangsung pada Minggu (26/7/2026) dipusatkan di kawasan hulu sumber mata air. Warga memperbaiki embung penampungan sekaligus melakukan pemeliharaan jaringan distribusi yang selama puluhan tahun menjadi penopang kebutuhan air bersih masyarakat setempat.

Kepala Dusun Langko Timuq, Abdul Majid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Menurutnya, masyarakat memahami bahwa menjaga sumber air merupakan tanggung jawab bersama.

“Semangat warga sangat luar biasa. Mereka dengan sukarela meluangkan waktu dan tenaga untuk bergotong royong karena air bersih merupakan kebutuhan bersama. Kami harus bersiap menghadapi musim kemarau agar pasokan air tetap tersedia untuk seluruh warga,” kata Abdul Majid.

Baca Juga :  Bhayangkara ke-79, Polres Lobar Komit Tingkatkan Layanan Warga

Ia menjelaskan, setiap musim kemarau debit mata air di kawasan hulu cenderung menurun sehingga kapasitas tampungan menjadi faktor penting. Karena itu, perbaikan embung dilakukan agar mampu menampung lebih banyak air sebelum debit berkurang.

Langkah tersebut juga menjadi upaya mengurangi potensi gangguan distribusi ketika kebutuhan air meningkat selama musim kering. Dengan kondisi jaringan yang lebih baik, suplai air diharapkan tetap mengalir hingga ke rumah-rumah warga tanpa kendala berarti.

Abdul Majid menegaskan, keberhasilan menjaga ketersediaan air bersih selama ini tidak terlepas dari budaya gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat. Hampir seluruh pekerjaan dilakukan secara swadaya tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan dari luar.

Baca Juga :  Optimalkan Lahan Kurang Produktif, Ahmad Rusni Bentuk “Tim Pemburu Tai”

Sementara itu, Koordinator Pengelola PAM Dusun Langko Timuq, Ismail, S.Pd, menyebut sumber air yang dimanfaatkan masyarakat berasal dari kawasan hutan dan telah digunakan selama puluhan tahun. Sistem tersebut tetap bertahan karena masyarakat rutin melakukan pemeliharaan jaringan.

“Warga hanya dibebani biaya pemeliharaan sebesar Rp10.000 per bulan. Dana itu digunakan untuk perawatan jaringan agar distribusi air tetap lancar dan bisa dinikmati seluruh masyarakat,” ujarnya.

Menurut Ismail, iuran tersebut bukan untuk mencari keuntungan, melainkan memastikan seluruh fasilitas distribusi tetap berfungsi. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan perbaikan jaringan, mengganti komponen yang rusak, serta mendukung operasional pengelolaan air bersih.

Ia berharap semangat kebersamaan yang telah diwariskan selama bertahun-tahun terus dipertahankan, terutama oleh generasi muda. Keberlanjutan sistem air bersih berbasis swadaya dinilai sangat bergantung pada rasa memiliki masyarakat terhadap fasilitas yang mereka bangun sendiri.

Baca Juga :  Banjir Tak Surut Lebih dari Sebulan, Warga Jerowaru Hidup di Atas Genangan

Di tengah meningkatnya ancaman kekeringan di berbagai daerah, apa yang dilakukan warga Dusun Langko Timuq menunjukkan bahwa kolaborasi masyarakat masih menjadi solusi nyata. Dengan bergotong royong memperbaiki embung dan jaringan distribusi, mereka tidak hanya menjaga pasokan air bersih bagi 230 kepala keluarga, tetapi juga mempertahankan tradisi kebersamaan yang menjadi fondasi ketahanan desa menghadapi musim kemarau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *