Mataram, Jurnalekbis.com – Perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) tetap mencatatkan pertumbuhan tinggi meski aktivitas sektor pertambangan mulai kembali normal setelah berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB mencatat ekonomi daerah tumbuh 7,41 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Triwulan II 2026. Angka tersebut menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia sekaligus berada di atas rata-rata nasional.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, M.M., mengatakan capaian tersebut menunjukkan ekonomi daerah tetap mampu bertahan di tengah perubahan dinamika sektor pertambangan. Bahkan, menurutnya, sumber pertumbuhan kini semakin beragam.
“Pertumbuhan pada Triwulan II memang tidak setinggi Triwulan I karena aktivitas pertambangan memasuki fase normalisasi setelah berakhirnya relaksasi ekspor konsentrat tembaga. Namun kondisi ini tidak menunjukkan pelemahan ekonomi. Justru struktur pertumbuhan NTB semakin sehat karena sektor riil tetap tumbuh positif,” kata Wahyudin saat Berita Resmi Statistik (BRS) di Mataram, Rabu (5/8).
BPS mencatat nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan berdasarkan harga konstan 2010 sebesar Rp29,89 triliun. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Semester I 2026 mencapai 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontribusi terbesar masih datang dari sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 30,57 persen. Namun, sejumlah sektor nonpertambangan juga menunjukkan kinerja kuat. Industri pengolahan meningkat 7,45 persen, didorong aktivitas smelter dan industri makanan-minuman. Sementara sektor penyediaan akomodasi serta makan-minum tumbuh 11,42 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas pariwisata.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa melonjak 49,42 persen, menandakan daya saing produk NTB di pasar internasional masih terjaga.
“Data ini memperlihatkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi NTB tidak lagi hanya bergantung pada pertambangan, tetapi juga diperkuat sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pariwisata, dan jasa,” ujar Wahyudin.
Kinerja ekonomi tersebut turut berdampak pada pasar tenaga kerja. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026, jumlah angkatan kerja mencapai 3,24 juta orang, meningkat sekitar 5,56 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Penduduk yang bekerja juga bertambah menjadi 3,14 juta orang.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 1,07 juta pekerja atau 33,95 persen dari total tenaga kerja. Peningkatan ini sejalan dengan naiknya luas panen padi dari 13.748 hektare pada Februari menjadi 30.248 hektare pada Mei 2026. Produksi gabah kering giling juga melonjak dari 74.984 ton menjadi 158.559 ton.
Di sisi lain, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 2,98 persen, lebih rendah dibandingkan Februari 2026. Penurunan tersebut menunjukkan tambahan angkatan kerja masih dapat diserap oleh berbagai lapangan usaha.
Perbaikan juga terlihat pada indikator kesejahteraan masyarakat. BPS mencatat persentase penduduk miskin di NTB pada Maret 2026 turun menjadi 11,17 persen, lebih rendah 0,21 poin persen dibandingkan September 2025 dan turun 0,61 poin persen dibandingkan Maret 2025.
Secara jumlah, penduduk miskin berkurang 26,07 ribu orang, dari 654,57 ribu menjadi 628,50 ribu orang dalam satu tahun.
“Pencapaian ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Wahyudin.
Indikator pemerataan juga membaik. Gini Ratio NTB turun menjadi 0,358, lebih rendah dibandingkan September 2025 sebesar 0,364 dan Maret 2025 sebesar 0,369. Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia, distribusi pengeluaran masyarakat NTB masih berada dalam kategori ketimpangan rendah dengan porsi pengeluaran kelompok 40 persen penduduk terbawah mencapai 19,57 persen.
Meski demikian, BPS mengingatkan masih ada tantangan yang harus diselesaikan, terutama meningkatkan jumlah pekerja formal, memperluas lapangan kerja berkualitas, serta memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan lebih merata hingga wilayah perdesaan.
Data Triwulan II 2026 menunjukkan ekonomi NTB tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi mulai bergerak menuju pertumbuhan yang lebih berkualitas. Diversifikasi sumber pertumbuhan, membaiknya pasar tenaga kerja, serta menurunnya kemiskinan dan ketimpangan menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan ekonomi daerah pada periode berikutnya.













