Sade Bangkit! Tradisi Nyemulak Jadi Simbol Pulih Usai Kebakaran

Sade Bangkit! Tradisi Nyemulak Jadi Simbol Pulih Usai Kebakaran

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com — Dusun Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, mulai menata kembali semangat warganya setelah musibah kebakaran menghanguskan sejumlah rumah adat.

Semangat pemulihan itu ditandai dengan pelaksanaan tradisi Nyemulak atau Nanjak Teken, yang digelar di pelataran Dusun Adat Sade. Prosesi adat tersebut menjadi penanda dimulainya kembali aktivitas pembangunan dan pembersihan lingkungan setelah musibah.

Ratusan warga menghadiri kegiatan tersebut. Sejumlah pejabat daerah, tokoh adat, tokoh agama, unsur Forkopimda, serta tamu undangan turut hadir, termasuk Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah.

Spanduk bertuliskan #SadeBangkit terpampang di lokasi kegiatan. Pesan itu menggambarkan tekad masyarakat untuk memulihkan kawasan adat sekaligus menjaga kehidupan budaya Sasak yang selama ini menjadi identitas Sade.

Ketua Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PD KAMMI) Lombok Tengah, yang juga merupakan warga asli Dusun Adat Sade, hadir dalam prosesi tersebut.

Ia mengaku terharu dapat mengikuti tradisi adat di tengah upaya masyarakat memulihkan kampung halaman mereka.

Baca Juga :  Eksekusi Dusun Bug Bug Lingsar Berlangsung Aman

“Kehadiran saya hari ini bukan hanya sebagai Ketua PD KAMMI, tetapi juga sebagai anak asli Sade. Nyemulak ini adalah bukti bahwa semangat kami tidak padam.”

Menurutnya, kebakaran tidak boleh menghentikan kehidupan masyarakat maupun keberlangsungan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menegaskan masyarakat Sade memiliki tekad untuk kembali membangun rumah-rumah adat yang terdampak.

“Sade akan bangkit, adat dan budaya kami akan terus hidup, dan kami siap bergotong royong membangun kembali rumah-rumah yang terbakar,” ujarnya.

Nyemulak Setelah Musibah

Bagi masyarakat Sasak, Nyemulak atau Nanjak Teken bukan sekadar prosesi seremonial. Tradisi tersebut menjadi bagian dari penanda dimulainya kembali aktivitas setelah suatu musibah.

Momentum ini sekaligus memperlihatkan bagaimana masyarakat adat menggunakan tradisi sebagai bagian dari proses pemulihan sosial.

Di Sade, prosesi tersebut berlangsung ketika masyarakat tengah menghadapi pekerjaan besar untuk mengembalikan kondisi dusun setelah kebakaran.

Rumah adat yang rusak atau terbakar tidak hanya memiliki nilai sebagai bangunan fisik. Keberadaannya berkaitan erat dengan kehidupan sosial, tradisi, dan identitas masyarakat Sasak di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Geger! Fenomena Air Sumur Nyembur Gemparkan Warga di Lombok Tengah

Karena itu, pemulihan Sade tidak sebatas membangun kembali bangunan yang terdampak. Pelestarian karakter adat dan budaya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Pemerintah Dorong Pemulihan Sade

Kehadiran Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah dalam kegiatan adat tersebut menjadi bagian dari dukungan pemerintah terhadap proses pemulihan Dusun Adat Sade.

Dalam sambutannya, Gubernur NTB menegaskan pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten akan bersinergi mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan yang terdampak.

Pemulihan diharapkan dapat mengembalikan fungsi Sade sebagai destinasi wisata budaya sekaligus memastikan keberlanjutan kehidupan masyarakat adat.

Bagi warga, dukungan pemerintah menjadi salah satu faktor penting untuk mempercepat proses pembangunan kembali setelah kebakaran.

Namun, proses pemulihan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Gotong royong menjadi kekuatan utama warga untuk menata kembali lingkungan dan rumah adat yang terdampak.

Sade Menatap Masa Depan

Prosesi Nyemulak kemudian ditutup dengan doa bersama. Warga mendoakan keselamatan masyarakat serta kelancaran proses pembangunan kembali kawasan adat tersebut.

Baca Juga :  Pelarian Berakhir, Buronan Penyerangan Lombok Barat Dibekuk di Pantai Selong Belanak

Dari pelataran Sade, pesan yang muncul bukan hanya tentang musibah kebakaran, tetapi juga tentang ketahanan masyarakat mempertahankan identitasnya.

#SadeBangkit menjadi simbol bahwa kebakaran tidak menghapus adat, budaya, dan semangat masyarakat untuk kembali berdiri.

Dusun Adat Sade kini menghadapi tahap pemulihan. Di tengah pekerjaan membangun kembali rumah-rumah yang terdampak, masyarakat berharap kawasan tersebut segera kembali pulih dan tetap menjadi ruang hidup bagi tradisi Sasak.

Lebih dari sekadar destinasi wisata, Sade merupakan rumah bagi masyarakat dan warisan budaya yang ingin terus mereka jaga untuk generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *