Bawang Putih Sembalun Dibidik Jadi Mesin Swasembada

Bawang Putih Sembalun Dibidik Jadi Mesin Swasembada
Bawang Putih Sembalun Dibidik Jadi Mesin Swasembada
Materi Iklan FINAL 2026

Jurnalekbis.com– Petani Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mulai kembali menaruh harapan besar pada bawang putih. Dengan dukungan alat dan penguatan benih, kawasan yang memiliki hampir 5.000 hektare lahan pertanian itu dinilai punya peluang ikut mendorong target swasembada bawang putih nasional.

Ruspaini Efendi Sembahulun dari Kelompok Tani Lendang Luar, Sembalun, mengatakan kebutuhan bawang putih Indonesia mencapai sekitar 650 ribu hingga 700 ribu ton per tahun. Pemerintah menargetkan swasembada bawang putih pada 2031, sedangkan swasembada benih ditargetkan mulai 2029.

“Kalau semua nanam bawang putih, areal kita di Sembalun ini kan hampir 5.000 hektare. Kalau semuanya bisa ditanami bawang putih serentak seperti dulu, insyaAllah swasembada itu di depan mata,” kata Ruspaini.

Menurut dia, Sembalun memiliki pengalaman panjang dalam budidaya bawang putih. Petani setempat kini tidak hanya mengejar produksi untuk konsumsi, tetapi juga memperkuat ketersediaan benih.

Ruspaini menyebut kelompoknya saat ini telah memiliki sekitar 1.260 ton benih, yang berasal dari persiapan untuk areal hampir 500 hektare. Sementara kebutuhan benih lokal Sembalun hingga akhir tahun diperkirakan sekitar 280 ton.

Permintaan benih juga datang dari berbagai daerah di Indonesia. Pengiriman bahkan pernah mencapai Aceh hingga Sentani, Papua.

“Untuk seluruh Indonesia sekarang masih minta. Kalau keluar NTB, benih pernah saya kirim sampai Sentani. Ke barat sampai Aceh,” ujarnya.

Di tingkat budidaya, produktivitas bawang putih Sembalun saat ini rata-rata mencapai 13–14 ton basah per hektare. Dengan harga sekitar Rp16.000 per kilogram di lahan, satu hektare berpotensi menghasilkan omzet sekitar Rp208 juta jika mencapai 13 ton, dan sekitar Rp224 juta untuk produksi 14 ton.

Namun, angka tersebut masih bergantung pada kondisi lahan dan cuaca. Ruspaini menyebut terdapat tiga karakter tanah di Sembalun, mulai dari subur, sedang, hingga kurang subur.

“Faktor koreksi lapangan itu 79 persen untuk tanaman bawang putih. Yang 21 persen itu perlakuan kita, seperti pengolahan tanah dan pengobatan. Kalau cuaca jelek, bagaimanapun kita pupuk dan obati enggak bisa,” katanya.

Untuk memperkuat produksi, Bank Indonesia turut memberikan dukungan alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani. Bantuan traktor dinilai memangkas waktu pengolahan lahan secara signifikan.

Ruspaini menggambarkan, pengolahan manual dengan cangkul hanya mampu mencapai sekitar tiga are per orang dalam sehari. Dengan traktor, kapasitasnya bisa mencapai sekitar dua hektare per hari.

“Jadi bisa dibayangkan bagaimana pengaruh dan dampaknya,” ujarnya.

Materi Iklan FINAL 2026

Petani juga mulai menguji pola tanam dengan jarak lebih renggang untuk menghasilkan umbi konsumsi berukuran besar. Jika pola umum menggunakan jarak sekitar 7,5 x 10 sentimeter, pola pengembangan umbi besar menggunakan sekitar 15 x 20 sentimeter.

Sembalun sendiri masih mengandalkan varietas lokal Sangga Sembalun dan Lumbu Putih. Ruspaini menyebut bawang putih lokal memiliki karakter rasa dan kandungan allicin yang menjadi keunggulan dibandingkan produk impor.

Meski prospeknya besar, petani menghadapi persoalan kepemilikan lahan yang semakin sempit akibat pembagian warisan. Kondisi itu membuat sebagian petani beralih ke komoditas lain seperti stroberi yang memiliki masa produksi lebih panjang.

Bagi Ruspaini, penguatan benih, mekanisasi, riset, dan pendampingan menjadi kunci untuk mengembalikan kejayaan bawang putih Sembalun.

“InsyaAllah, kalau semua nanam bawang putih, swasembada itu di depan mata,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *