Berita, NTB  

Waspada! BMKG Peringatkan Kemarau NTB 2026 Bakal Lebih Kering dan Panjang

Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) NTB, Nuga Putrantijo.(Foto: Jurnal Ekbis/Taufik)
Materi Iklan FINAL 2026

JURNALEKBIS.com — LOMBOK BARAT, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mewaspadai musim kemarau yang berlangsung lebih panjang pada 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi fenomena El Nino yang saat ini berada pada kategori sangat kuat. Fenomena itu turut menyebabkan musim hujan di NTB datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

“El Nino kita adalah El Nino yang sangat kuat. Ini menyebabkan panjangnya musim kemarau di tahun 2026,” kata Nuga.

Baca juga: Tiga Hari Jelang MotoGP Mandalika, PLN Pantau 6 Titik Kelistrikan

Menurutnya, berdasarkan prakiraan BMKG, awal musim hujan di NTB tidak terjadi secara serentak. Sejumlah wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada 10 hari terakhir November 2026 atau Dasarian III November.

Wilayah yang diperkirakan lebih dahulu memasuki musim hujan tersebut berada di Zona Musim (ZOM) NTB 1 dan NTB 10.
Nuga menjelaskan, ZOM merupakan wilayah yang memiliki karakteristik pola curah hujan relatif sama. Pembagian ZOM tidak mengikuti batas administratif kabupaten maupun kota.

“Yang masuk bulan November pertama kali masuk musim hujan adalah NTB 1 dan NTB 10. NTB 1 itu wilayah Mataram, Lombok Barat, dan NTB 10 sebagian Lombok Tengah bagian barat dan utara,” ujarnya.

Sementara itu, wilayah lainnya diprakirakan baru memasuki musim hujan pada Dasarian II dan Dasarian III Desember 2026.
Dari total 27 ZOM di NTB, sebanyak 10 ZOM diperkirakan memasuki musim hujan pada Dasarian II Desember, sedangkan 15 ZOM lainnya pada Dasarian III Desember.

Baca juga: Marc Marquez, Mario Aji, Veda Bikin Mataram Bergemuruh

Dengan kondisi tersebut, BMKG menyebut seluruh wilayah ZOM di NTB mengalami kemunduran awal musim hujan. Dampaknya, periode musim kemarau menjadi lebih panjang.

“Secara umum, NTB 100 persen wilayah zona musimnya awal prakiraan musim hujan kita mundur. Artinya, kalau awal musim hujannya mundur, berarti kemaraunya lebih panjang,” kata Nuga.

Tak hanya kemarau yang lebih panjang, BMKG juga memprediksi musim hujan 2026/2027 cenderung berlangsung lebih singkat. Namun, intensitas curah hujan diperkirakan lebih tinggi.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena hujan dengan intensitas tinggi dalam periode yang relatif singkat berpotensi memicu bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor.

“Karena pendek, kita memprediksi nanti curah hujan akan lebih tinggi intensitasnya. Inilah yang biasanya memicu bencana hidrometeorologis, biasanya banjir dan tanah longsor,” jelasnya.

Baca juga: Mario-Veda Diserbu Fans Honda di Mataram

Nuga mengatakan, BMKG telah menyampaikan potensi tersebut kepada Pemerintah Provinsi NTB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi perubahan kondisi cuaca.

Di sisi lain, BMKG juga menjelaskan penyebab suhu udara yang belakangan terasa semakin menyengat di sejumlah wilayah NTB.

Menurut Nuga, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari musim kemarau, fenomena El Nino, hingga pergerakan posisi matahari yang saat ini bergerak ke wilayah selatan.

Materi Iklan FINAL 2026

“Musim kemarau, kemudian ada fenomena El Nino yang menyebabkan lebih kering daripada tahun-tahun sebelumnya. Yang ketiga adalah posisi matahari yang saat ini bergerak ke selatan,” katanya.

Kondisi udara yang lebih kering membuat panas matahari terasa lebih kuat. Apalagi, ketika tutupan awan dan kandungan uap air di atmosfer berkurang, paparan radiasi matahari yang diterima permukaan bumi dapat terasa semakin menyengat.

Meski demikian, Nuga menyebut suhu 29 hingga 34 derajat Celsius masih berada dalam kisaran suhu yang umum terjadi di NTB.

Baca juga: WNA Korea Hilang Saat Snorkeling di Gili Trawangan

Untuk menghadapi kondisi cuaca panas dan kemarau panjang, BMKG mengimbau masyarakat mengurangi paparan langsung sinar matahari, terutama pada siang hari.

Masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar ruangan disarankan menghindari aktivitas di bawah terik matahari dan memilih waktu pagi atau sore hari.

Selain itu, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air untuk mencegah dehidrasi. Penggunaan kipas angin atau penyejuk ruangan juga dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap nyaman saat suhu udara meningkat.

“Kalau kena paparan langsung di cuaca yang sangat panas, kemudian kondisi musim kemarau, biasanya dehidrasi yang kita khawatirkan. Makanya banyak minum air,” ujar Nuga.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca, terutama menjelang peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Dengan musim hujan yang diprediksi datang lebih lambat namun berpotensi memiliki intensitas lebih tinggi, masyarakat dan pemerintah daerah di NTB diharapkan melakukan langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *