Jurnalekbis.com – Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan kesedihan mendalam atas wafatnya ulama kharismatik Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, yang dikenal sebagai Tuan Guru Bagu.
Bagi Rizal, Tuan Guru Bagu bukan sekadar tokoh agama yang dihormati masyarakat NTB. Ulama sepuh tersebut juga menjadi figur ayah yang memberinya nasihat dan arahan selama bertugas di NTB, terutama ketika menghadapi sejumlah persoalan besar, mulai dari penanganan gempa bumi hingga pandemi Covid-19.
“Terus terang secara pribadi, saya sangat kehilangan beliau. Beliau sudah saya anggap sebagai orang tua, kakak, orang tua angkat saya,” kata Rizal saat mengenang sosok Tuan Guru Bagu.
Ia mengungkapkan, kedekatan tersebut bermula ketika dirinya pertama kali bertugas di NTB. Saat itu, ia sengaja mencari tokoh agama yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat untuk meminta nasihat dalam menjalankan tugas.
Pesan Tuan Guru Bagu Saat Gempa NTB
Rizal mengaku memiliki kesan mendalam sejak pertemuan pertamanya dengan Tuan Guru Bagu. Menurut dia, sang ulama menyambutnya dengan hangat dan langsung memperlakukannya seperti anak sendiri.
“Sudah, Nak Rizal. Nak Rizal berbuat yang terbaik di Nusa Tenggara Barat, mengabdi untuk rakyat Nusa Tenggara Barat,” tutur Rizal mengulang pesan Tuan Guru Bagu kepadanya.
Nasihat tersebut menjadi pegangan Rizal ketika menghadapi gempa bumi dahsyat yang melanda NTB. Dalam situasi darurat itu, ia mengaku meminta arahan langsung kepada Tuan Guru Bagu mengenai langkah yang harus diprioritaskan untuk membantu masyarakat.
Tuan Guru Bagu, kata Rizal, memberikan empat arahan penting: menyelamatkan masyarakat, segera merawat korban, memenuhi kebutuhan logistik warga yang mengungsi, serta mempercepat rehabilitasi rumah-rumah yang rusak.
Rizal menyebut arahan tersebut sejalan dengan tugas pemerintah dalam melindungi masyarakat terdampak bencana.
Ia juga menyinggung pembangunan kembali lebih dari 276 ribu rumah pascagempa yang, menurut keterangannya, dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua setengah tahun.
Bagi Rizal, pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, aparat, dan tokoh agama dalam menangani bencana.
Peran Ulama dalam Mendorong Vaksinasi Covid-19
Rizal juga mengenang peran Tuan Guru Bagu ketika NTB menghadapi pandemi Covid-19. Saat itu, pemerintah dan aparat menghadapi tantangan dalam meyakinkan masyarakat agar bersedia mengikuti program vaksinasi.
Menurut Rizal, sempat muncul keraguan di tengah masyarakat, termasuk isu mengenai kehalalan vaksin. Kondisi tersebut membuat pendekatan melalui tokoh agama menjadi penting.
Ia kemudian meminta arahan kepada Tuan Guru Bagu. Sang ulama menyarankan agar para tuan guru dikumpulkan untuk mengikuti doa bersama sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai vaksinasi.
Tuan Guru Bagu juga mendukung pelaksanaan vaksinasi dan membantu menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui pendekatan keagamaan.
“Beliau membuat testimoni bahwa vaksin itu halal,” ujar Rizal.
Rizal menilai dukungan para ulama membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari upaya pemerintah memperluas cakupan vaksinasi di NTB.
Upaya itu juga berkaitan dengan persiapan penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika. Rizal menjelaskan, saat itu pemerintah menghadapi target vaksinasi yang tinggi sebagai bagian dari persiapan kegiatan internasional tersebut.
Bantu Pemerintah Menyiapkan Mandalika
Selain penanganan gempa dan pandemi, Rizal menyebut Tuan Guru Bagu turut berperan dalam proses persiapan kawasan Mandalika sebagai destinasi pariwisata dan lokasi penyelenggaraan MotoGP.
Menurut Rizal, pemerintah saat itu menghadapi persoalan terkait masyarakat yang menggarap lahan di kawasan tersebut. Dalam proses penyelesaiannya, pendekatan kepada masyarakat menjadi salah satu aspek penting.
Ia mengatakan Tuan Guru Bagu ikut memberikan nasihat dan pemahaman kepada warga, baik melalui tausiah di masjid maupun pesan yang disampaikan melalui media sosial.
Sang ulama, lanjut Rizal, mengingatkan masyarakat bahwa pembangunan yang dilakukan pemerintah perlu diarahkan pada kemaslahatan bersama dan membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Rizal menilai pengaruh tokoh agama sangat besar dalam membangun komunikasi dengan masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan administratif atau aparat, tetapi juga perlu melibatkan figur yang dipercaya warga.
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa tokoh agama memiliki peran strategis dalam membantu menyelesaikan persoalan sosial di daerah.
Dirut Bulog Sampaikan Duka Pemerintah
Setelah menerima kabar wafatnya Tuan Guru Bagu pada Kamis sekitar pukul 13.30 WITA, Rizal mengaku langsung melaporkan berita duka tersebut kepada sejumlah pejabat pemerintah, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan, Menteri Koperasi, Menteri Sosial, serta Menteri Pertanian.
Ia mengatakan para pejabat tersebut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Pemerintah kemudian menugaskannya untuk mewakili negara menyampaikan takziah ke kediaman Tuan Guru Bagu di NTB.
Rizal berangkat dari Surabaya melalui Bandara Juanda menuju Lombok dan tiba di rumah duka pada malam harinya. Di sana, ia bertemu keluarga almarhum, menyampaikan belasungkawa, serta mengikuti rangkaian doa dan penghormatan terakhir.
Dalam kesempatan itu, Rizal menyampaikan bahwa kehadirannya membawa pesan duka dari pemerintah atas wafatnya tokoh yang dinilainya memiliki jasa besar bagi masyarakat NTB.
Ia berharap keteladanan Tuan Guru Bagu terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa.
Rizal pun mendoakan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Mudah-mudahan kami berdoa atas nama pemerintah, mendoakan Tuan Guru Bagu husnulkhatimah dan insyaallah diterima di sisi Allah SWT, ditempatkan di surga, dan beliau menjadi suri teladan kita, penerus-penerus bangsa Indonesia,” ujarnya.
Bagi Rizal, kepergian Tuan Guru Bagu bukan hanya kehilangan bagi masyarakat NTB, melainkan juga kehilangan pribadi atas sosok yang selama bertahun-tahun menjadi tempat meminta nasihat dan menemukan ketenangan dalam menjalankan pengabdian.
Ia mengenang sang ulama sebagai figur ayah yang membimbingnya untuk mengutamakan keselamatan rakyat, mengabdi dengan tulus, dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.












