Mataram, Jurnalekbis.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB merilis Informasi Iklim Dasarian II November 2025. Dalam laporan terbaru ini, BMKG menegaskan bahwa musim hujan di Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin meluas dan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi curah hujan tinggi, angin kencang, hingga bencana hidrometeorologi.
Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Angga Permana, menyampaikan bahwa pola hujan di wilayah NTB menunjukkan peningkatan signifikan dalam sepuluh hari terakhir.
Pada dasarian II November 2025, curah hujan tercatat bervariasi dari kategori rendah hingga sangat tinggi, bahkan mencapai lebih dari 300 mm per dasarian di beberapa titik. Pos hujan Lenek Duren, Lombok Timur, mencatat curah hujan tertinggi mencapai 423 mm/dasarian, menjadi yang terbesar di NTB sepanjang periode tersebut.
Di sisi lain, sifat hujan secara umum berada pada kategori Atas Normal (AN). Namun beberapa wilayah seperti Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Bima mencatat sifat hujan Normal (N) hingga Bawah Normal (BN). Angga menjelaskan bahwa kondisi ini menggambarkan fase awal musim hujan yang mulai aktif tetapi masih tidak merata.
BMKG juga memantau status Hari Tanpa Hujan (HTH). Secara umum, NTB berada pada kategori Sangat Pendek (1–5 hari). Namun terdapat wilayah yang mengalami HTH lebih panjang, seperti Pos Hujan Ampenan, Kota Mataram, dengan durasi hingga 6 hari.
Dinamika Atmosfer: IOD Negatif dan La Nina Lemah Masih Berpengaruh
Berdasarkan hasil monitoring atmosfer, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada nilai -1.7, menandakan fase negatif yang diprediksi bertahan hingga Desember 2025. Kondisi ini berpotensi meningkatkan suplai uap air yang memperkuat hujan di wilayah Indonesia termasuk NTB.
Sementara itu, anomali SST Nino3.4 menunjukkan indeks -0.68, mengindikasikan ENSO La Nina lemah yang diperkirakan bertahan hingga awal 2026. La Nina biasanya meningkatkan curah hujan di wilayah selatan Indonesia.
Angga juga menjelaskan bahwa angin baratan sudah mulai dominan, disertai belokan angin di wilayah Indonesia timur. Suhu muka laut di banyak perairan Indonesia berada di atas normal dengan anomali sekitar +0.68°C, yang mendukung potensi pertumbuhan awan hujan.

Prediksi Dasarian III: Hujan >80% Berpotensi Guyur Lombok
Pada dasarian III November 2025 (21–30 November), peluang hujan dengan intensitas >50 mm/dasarian mencapai lebih dari 80%, terutama di wilayah Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Peluang hujan lebih ekstrem, yaitu >100 mm/dasarian, juga muncul dengan probabilitas 10–30%, khususnya di sebagian Lombok Barat dan Kabupaten Bima.
Wilayah Waspada dan Siaga
BMKG menetapkan level Waspada curah hujan tinggi di sejumlah wilayah, antara lain:
Kota Mataram: Sandubaya
Lombok Barat: Gunung Sari
Lombok Tengah: Janapria, Jonggat, Praya Barat, Praya Tengah, Praya Barat Daya
Lombok Timur: Aikmel, Montong Gading, Pringgasela, Sembalun, Terara, Wanasaba
Lombok Utara: Bayan, Gangga, Kayangan, Tanjung
Sumbawa: Alas, Batulanteh, Lenangguar, Moyohulu, Orong Telu, Rhee
Sumbawa Barat: Taliwang, Seteluk, Jereweh, Brang Ene, Brang Rea
Dompu: Pekat
Kabupaten Bima: Tambora
Level Siaga ditetapkan di beberapa titik seperti Lingsar dan Narmada (Lombok Barat), Batukliang dan Praya (Lombok Tengah), Montong Gading (Lombok Timur), serta Tanjung (Lombok Utara).
Himbauan BMKG
Angga Permana menegaskan tidak ada potensi kekeringan meteorologis pada periode ini. Sebaliknya, masyarakat diminta lebih siaga menghadapi hujan ekstrem:
“Potensi hujan cukup signifikan pada 10 hari mendatang. Masyarakat diimbau memperhatikan kebersihan saluran air, waspada angin kencang, serta terus mengikuti informasi BMKG agar terhindar dari dampak bencana,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan, mengingat perubahan musim kerap memicu penyakit musiman.
Langsung ke konten













