NewsNusantara

Wabup KLU Turun Tangan, Bendungan Empas yang Jebol Diperkuat 30 Bronjong

×

Wabup KLU Turun Tangan, Bendungan Empas yang Jebol Diperkuat 30 Bronjong

Sebarkan artikel ini
Wabup KLU Turun Tangan, Bendungan Empas yang Jebol Diperkuat 30 Bronjong

Lombok Utara, Jurnalekbis.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara bergerak cepat menangani jebolnya Bendungan Empas di Dusun Todo, Desa Bentek, Kecamatan Gangga. Kamis (2/4/2026), Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri turun langsung ke lokasi untuk memantau pemasangan kawat bronjong sebagai langkah darurat mencegah kerusakan semakin parah.

Bendungan tersebut merupakan salah satu sumber air penting bagi warga, terutama untuk kebutuhan irigasi lahan pertanian. Kerusakan yang terjadi dikhawatirkan mengganggu pasokan air bagi petani apabila tidak segera ditangani.

Dalam peninjauan itu, Kusmalahadi didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Utara M. Zaldy Rahadian bersama jajaran teknis. Pemerintah daerah langsung menyalurkan 30 unit kawat bronjong untuk memperkuat bagian bendungan yang jebol.

“Karena kebutuhan masyarakat tidak bisa ditunda, hari ini kita bergerak cepat. Bantuan kawat bronjong langsung kita kirim dan pemasangannya akan dibimbing oleh tim teknis,” kata Kusmalahadi di lokasi.

Baca Juga :  Tonight is gonna be best football match

Menurut dia, penanganan darurat perlu segera dilakukan agar aliran air tetap terkendali sembari menunggu proses perbaikan permanen. Ia menegaskan, bendungan tersebut sangat vital karena menopang aktivitas pertanian warga di Desa Bentek dan sekitarnya.

Di lapangan, warga bersama aparat pemerintah terlihat bergotong royong memasang bronjong di titik-titik yang mengalami kerusakan. Kawat bronjong dipasang untuk menahan longsoran tanah dan batu agar struktur bendungan tidak semakin terkikis ketika hujan turun.

Kepala BPBD Lombok Utara M. Zaldy Rahadian menjelaskan, kerusakan Bendungan Empas merupakan dampak bencana yang terjadi pada 2025 lalu. Curah hujan tinggi dan kondisi cuaca ekstrem menyebabkan sebagian struktur bendungan tidak mampu menahan debit air.

“Ini penanganan sementara. Kawat bronjong efektif untuk kondisi darurat, tapi tetap membutuhkan perbaikan permanen. Yang terpenting saat ini adalah mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut,” ujar Zaldy.

Baca Juga :  Lomba Masak Beras SPHP di NTB: Cara Seru Edukasi Pengendalian Inflasi

Ia mengatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran untuk perbaikan permanen bendungan. Proyek tersebut ditargetkan mulai dikerjakan pada Mei 2026 setelah proses administrasi dan teknis selesai.

Perbaikan permanen nantinya akan difokuskan pada penguatan struktur utama bendungan, termasuk perbaikan tanggul dan saluran air. Dengan demikian, bendungan diharapkan dapat kembali berfungsi optimal dan lebih tahan menghadapi cuaca ekstrem.

Selain menyoroti percepatan perbaikan, BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas penambangan di sekitar kawasan bendungan. Pemerintah menilai aktivitas penggalian di sekitar bangunan air berpotensi memperparah kerusakan dan mengancam stabilitas bendungan.

Zaldy menegaskan, aktivitas penambangan dilarang dilakukan dalam radius 1 kilometer ke arah hulu dan 500 meter ke arah hilir bendungan.

Baca Juga :  Kebakaran Hebat di Pabrik Nikel PT ITSS, 12 Orang Tewas

“Aturan ini harus dipatuhi bersama. Jangan sampai ada penggalian di sekitar bendungan yang justru memperlemah struktur bangunan,” katanya.

Bagi warga Desa Bentek, penanganan cepat tersebut menjadi harapan agar pasokan air untuk sawah tetap tersedia. Sejumlah petani mengaku khawatir jika bendungan tidak segera diperbaiki, musim tanam tahun ini bisa terganggu.

Karena itu, gotong royong antara warga dan pemerintah menjadi kunci dalam penanganan darurat di Bendungan Empas. Semangat kebersamaan terlihat sejak pagi, ketika warga bahu-membahu mengangkut dan memasang bronjong di tengah aliran sungai.

Langkah cepat yang dilakukan Pemkab Lombok Utara diharapkan mampu menjadi solusi sementara sebelum perbaikan permanen dimulai. Pemerintah juga memastikan pemantauan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan lanjutan, terutama jika cuaca ekstrem kembali terjadi di wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *