Hukrim

Bulog NTB Serap 70 Ribu Ton Panen Petani, Baru 29 Persen dari Target 2026

×

Bulog NTB Serap 70 Ribu Ton Panen Petani, Baru 29 Persen dari Target 2026

Sebarkan artikel ini
Bulog NTB Serap 70 Ribu Ton Panen Petani, Baru 29 Persen dari Target 2026

Mataram, Jurnalekbis.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mempercepat penyerapan hasil panen petani di seluruh wilayah NTB untuk mengejar target 240.661 ton setara beras pada 2026. Hingga awal April 2026, Bulog mencatat realisasi penyerapan telah mencapai 70.428 ton atau 29,26 persen dari target tahunan.

Penyerapan tersebut dilakukan seiring mulai meratanya musim panen di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Bulog menilai momentum panen raya harus dimanfaatkan agar hasil petani terserap dan harga gabah tidak jatuh di tingkat petani.

Pemimpin Wilayah Bulog NTB Mara Kamin Siregar mengatakan pihaknya kini menerapkan strategi jemput bola dengan turun langsung ke sentra-sentra produksi.

Baca Juga :  Polisi Bekuk Pencuri Mesin Pemotong Kayu

“Kami melakukan penyerapan langsung ke petani dan Gabungan Kelompok Tani melalui Tim Jemput Pangan Bulog serta bersinergi dengan penggilingan lokal. Harga beli yang kami tetapkan sesuai regulasi pemerintah, yaitu Rp 6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen,” kata Mara Kamin Siregar, Selasa (7/4/2026).

Menurut Mara, angka penyerapan tersebut diperkirakan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan. Sebab, musim panen di sejumlah daerah di NTB, terutama wilayah Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, dan Bima, masih berlangsung.

Bulog juga mengklaim harga pembelian pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram untuk gabah kering panen saat ini cukup membantu petani. Harga tersebut dinilai mampu menutup biaya produksi sekaligus menjaga keuntungan petani di tengah meningkatnya biaya tanam.

Baca Juga :  Polres Lombok Barat Ungkap Kasus Judi Adu Jangkrik, 3 Tersangka Diamankan

“Harga itu menjadi yang terbaik saat ini karena dapat mencukupi biaya operasional yang sudah dikeluarkan petani. Kehadiran Bulog juga membuat harga tersebut menjadi patokan minimum sehingga petani bisa memperoleh harga jual yang lebih baik,” ujarnya.

Di sejumlah wilayah, harga gabah biasanya berpotensi turun ketika panen raya berlangsung akibat melimpahnya pasokan. Kondisi itu kerap membuat petani menjual gabah di bawah harga produksi. Karena itu, keterlibatan Bulog dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan petani tidak merugi.

Bulog NTB mengaku tidak bekerja sendiri dalam menyerap gabah petani. Penyerapan dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, Babinsa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), hingga gabungan kelompok tani.

Baca Juga :  Ratusan Tersangka Diamankan Polda NTB dan jajaran pada Operasi Pekat Rinjani 2024

Kerja sama tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat serapan gabah pada awal tahun ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Aparat di tingkat desa hingga kecamatan membantu memetakan lokasi panen dan mempercepat distribusi gabah ke titik penampungan Bulog.

“Pencapaian ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara Bulog, pemerintah daerah, Babinsa, dan satuan kerja PPL di lapangan,” kata Mara.

Di tengah meningkatnya penyerapan, Bulog NTB juga memastikan cadangan pangan di daerah masih dalam kondisi aman. Saat ini, Bulog m

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *