Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Upaya membuka potensi wisata desa kembali dilakukan aparat teritorial di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bintara Pembina Desa (Babinsa) Karang Bayan, Koramil 1606-08/Narmada, Pelda (K) Ni Nyoman Dewi Tri Ary Susanti, bersama perangkat desa menelusuri jalur menuju destinasi alam baru bernama Ampan Tepong, Minggu (12/4/2026).
Lokasi wisata yang masih tersembunyi ini berada di kawasan hutan dengan akses terbatas. Rombongan harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rindang dan aliran air jernih. Medan yang cukup menantang menjadi salah satu alasan kawasan tersebut belum banyak dikenal masyarakat luas.
Meski demikian, kondisi alam yang masih asri justru dinilai menjadi daya tarik utama Ampan Tepong. Suasana hutan yang tenang dan alami menghadirkan potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis alam.
“Potensi alam di wilayah ini sangat luar biasa. Jika dikelola dengan baik, Ampan Tepong dapat menjadi destinasi wisata yang membanggakan desa sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Pelda (K) Ni Nyoman Dewi Tri Ary Susanti di sela peninjauan.
Dalam kegiatan tersebut, Babinsa didampingi Sekretaris Desa Mandrawasih dan Kepala Dusun Sudiawan. Selain menjajaki lokasi, mereka juga melakukan pemetaan awal terhadap jalur akses menuju kawasan wisata. Beberapa titik yang sulit dilalui menjadi perhatian utama untuk pengembangan ke depan.
Sekdes Mandrawasih menilai, pengenalan Ampan Tepong merupakan langkah awal untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata desa. Ia menyebut wisata berbasis alam saat ini memiliki peluang besar, terutama di tengah tren wisata yang mengedepankan keaslian lingkungan.
“Wisata berbasis alam yang masih alami memiliki potensi besar untuk berkembang, terutama jika didukung oleh promosi yang tepat serta keterlibatan aktif masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Sudiawan menyampaikan bahwa masyarakat setempat menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, keterlibatan warga menjadi kunci dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi wisata desa.
“Masyarakat berharap Ampan Tepong tidak hanya dikenal sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan warga dalam menjaga dan melestarikan alam sekitar,” kata Sudiawan.
Sejauh ini, belum ada fasilitas pendukung di kawasan tersebut. Akses jalan masih berupa jalur alami tanpa penataan, sehingga diperlukan perencanaan bertahap untuk pengembangannya. Pemerintah desa bersama masyarakat disebut akan mengkaji langkah-langkah lanjutan, termasuk perbaikan akses dan promosi.
Pengembangan Ampan Tepong juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, mulai dari sektor jasa wisata, kuliner lokal, hingga usaha mikro masyarakat. Dengan pendekatan berbasis kearifan lokal, potensi tersebut dinilai dapat berkembang tanpa merusak ekosistem yang ada.
Langkah penelusuran yang dilakukan Babinsa bersama perangkat desa ini menjadi tahap awal dari upaya mengenalkan Ampan Tepong ke publik. Di tengah keterbatasan akses, semangat kolaborasi antara aparat dan masyarakat menjadi modal utama untuk mendorong destinasi ini agar berkembang.
Jika dikelola secara berkelanjutan, Ampan Tepong berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata unggulan baru di Karang Bayan, sekaligus memperkuat peran desa dalam pengembangan pariwisata daerah.














