Mataram, Jurnalekbis.com— Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat menggelar bedah buku Rumus Anti Nganggur dalam rangka peringatan World Book Day 2026, Rabu (13/5/2026). Kegiatan itu menjadi ruang diskusi tentang kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja dan ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Acara yang berlangsung di Gedung Serba Guna BI NTB, Kota Mataram, mengusung tema Connected by Literacy: Building Future-Ready Communities. Puluhan mahasiswa dan peserta dari berbagai komunitas hadir mengikuti kegiatan yang menghadirkan penulis sekaligus praktisi pengembangan karier, Rene Suhardono.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan tema literasi tahun ini menitikberatkan pada upaya membangun generasi yang siap menghadapi perubahan global dan tantangan masa depan.
“Tema tahun ini bagaimana kita menyiapkan generasi ke depan untuk menghadapi masa depannya. Kita tahu kondisi dunia sedang penuh ketidakpastian, mulai dari geopolitik hingga perubahan digital yang sangat cepat,” ujarnya.
Menurut Hario, kemampuan literasi menjadi bekal penting agar generasi muda tidak mudah “kaget” menghadapi perubahan zaman. Karena itu, BI NTB mencoba menghadirkan kegiatan yang lebih dekat dengan kebutuhan anak muda, terutama mahasiswa.
Dalam rangkaian World Book Day 2026, BI NTB juga meluncurkan tiga program utama. Pertama, melakukan rebranding perpustakaan BI NTB agar lebih terbuka dan bisa diakses masyarakat luas, tidak hanya pegawai internal.

“Kami ingin perpustakaan BI NTB menjadi ruang belajar bersama. Mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum bisa memanfaatkannya,” katanya.
Program kedua berupa penguatan koleksi literasi dan kerja sama pengembangan perpustakaan bersama pemerintah daerah serta instansi terkait di NTB.
Sementara kegiatan ketiga adalah bedah buku Rumus Anti Nganggur yang dipilih karena dinilai relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.
Hario mengaku tertarik dengan judul buku tersebut karena mampu memancing rasa penasaran. Meski belum menyelesaikan seluruh isi buku, ia menilai banyak pesan yang relevan dengan situasi dunia kerja saat ini.
“Ada satu kalimat yang saya ingat, kita perlu bersiap, bukan berambisi. Itu sangat relevan untuk generasi muda maupun yang sudah bekerja,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pesan dalam buku yang menekankan pentingnya memahami posisi diri sebelum menentukan arah masa depan.
“Orang sering tersesat bukan karena tidak tahu mau ke mana, tetapi karena tidak tahu sekarang berada di mana,” katanya.
Melalui kegiatan itu, BI NTB berharap budaya literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga mampu membangun pola pikir kritis dan kesiapan menghadapi tantangan ekonomi maupun perubahan sosial di masa depan.
Kegiatan bedah buku berlangsung interaktif dengan diskusi mengenai dunia kerja, pengembangan diri, hingga cara menghadapi tekanan karier di era digital.














