pendidikan

Atap SMA 7 Mataram Ambruk Saat Salat Zuhur, Empat Siswa Terluka

×

Atap SMA 7 Mataram Ambruk Saat Salat Zuhur, Empat Siswa Terluka

Sebarkan artikel ini
Atap SMA 7 Mataram Ambruk Saat Salat Zuhur, Empat Siswa Terluka

Mataram, Jurnalekbis.com — Suasana tenang saat salat Zuhur berjamaah di SMA Negeri 7 Mataram mendadak berubah panik setelah rangka bangunan sekolah ambruk, Senin siang. Empat siswa mengalami luka lecet akibat tertimpa material bangunan, sementara satu di antaranya harus dirujuk ke Rumah Sakit Kota Mataram karena mengeluhkan pusing pada bagian kepala.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.30 WITA ketika sebagian besar siswa tengah melaksanakan salat Zuhur berjamaah. Beruntung, ruang kelas yang roboh dalam kondisi hampir kosong sehingga korban jiwa berhasil dihindari.

Kepala SMA Negeri 7 Mataram, Ridha Rosalina, mengatakan saat kejadian hanya terdapat lima siswa di area kelas tersebut. Mereka merupakan siswa yang tidak mengikuti salat berjamaah karena berbeda agama.

Baca Juga :  Nasib Terkatung 12 Tahun, 715 Guru Honorer Lombok Tengah Turun ke Jalan

“Empat siswa alhamdulillah bisa keluar dengan selamat. Hanya lecet dan cedera ringan. Langsung kami bawa ke puskesmas yang berada di belakang sekolah,” ujar Ridha saat ditemui usai kejadian.

Menurutnya, tiga siswa sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis. Sementara satu siswa lainnya masih menjalani observasi lebih lanjut di Rumah Sakit Kota Mataram karena mengaku mengalami sakit kepala usai insiden.

“Secara fisik tidak ada luka berat, tetapi karena mengeluh pusing, akhirnya dirujuk untuk observasi lebih lanjut,” katanya.

Bangunan yang ambruk diketahui merupakan gedung lama yang dibangun sekitar tahun 2006 menggunakan dana partisipasi masyarakat dan orang tua siswa. Gedung tersebut terdiri dari dua ruang kelas dan satu perpustakaan.

Baca Juga :  Pelajar Indonesia Raih Juara Umum Ajang Karate Internasional di Portugal

Ridha mengaku tidak ada tanda-tanda kerusakan serius sebelum bangunan runtuh. Bahkan pada pagi hari sebelum kejadian, dirinya sempat memeriksa kondisi sekolah dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Pagi tadi saya keliling seperti biasa. Kondisinya terlihat baik, tidak ada tanda-tanda keretakan atau kerusakan. Tidak ada angin kencang juga,” ungkapnya.

Ia menduga kerusakan struktur bangunan menjadi penyebab utama ambruknya rangka sekolah. Terlebih bangunan tersebut pernah terdampak gempa bumi Lombok pada 2018 dan hanya mendapatkan perbaikan pada bagian plafon.

“Yang diperbaiki waktu itu hanya plafonnya. Mungkin perlu ada penilaian ulang terhadap kekuatan bangunan secara menyeluruh,” katanya.

Insiden tersebut memicu kekhawatiran terhadap kondisi bangunan lain di lingkungan sekolah. Pihak sekolah berharap pemerintah segera melakukan audit struktur agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Baca Juga :  Kerja Sama Kemendikdasmen dan KLH untuk Pendidikan Ramah Lingkungan

Beruntung, aktivitas belajar mengajar sedang tidak berlangsung di dalam ruangan saat bangunan roboh. Sebagian besar siswa berada di masjid sekolah mengikuti salat berjamaah.

“Bayangkan kalau saat itu anak-anak sedang belajar di kelas. Ini benar-benar di luar dugaan,” ujar Ridha.

Saat ini area bangunan yang ambruk telah dipasang garis pengaman untuk mencegah siswa mendekat. Aktivitas belajar sementara dialihkan ke ruangan lain sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *