Mataram, Jurnalekbis.com — Upaya memperluas akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mendapat momentum. Rektor Universitas Bima International (UNBIM), Apt. Ajeng Dian Pertiwi, M.Farm, melakukan kunjungan resmi ke Lombok Independent Disabilitas Indonesia (LIDI NTB) untuk menjajaki kerja sama strategis di bidang pendidikan inklusif, terutama melalui skema beasiswa.
Kunjungan yang berlangsung di Mataram itu menjadi titik awal pembahasan program konkret yang ditujukan untuk membuka peluang kuliah bagi penyandang disabilitas kelompok yang selama ini masih menghadapi berbagai hambatan, baik secara struktural maupun sosial.
Dalam pertemuan tersebut, Ajeng Dian Pertiwi menegaskan komitmen kampus yang dipimpinnya untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih ramah dan inklusif. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak boleh eksklusif dan harus dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
“Disabilitas bukanlah keterbatasan untuk meraih masa depan. Melalui jalur beasiswa ini, kami ingin memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan tinggi dan meningkatkan kualitas hidup,” ujar Ajeng dalam keterangannya.
Ajeng datang tidak sendiri. Ia didampingi jajaran pimpinan dan tim akademik UNBIM, yang menunjukkan keseriusan institusi dalam mendorong kolaborasi lintas sektor. Kehadiran tim ini sekaligus menandakan bahwa rencana kerja sama tidak berhenti pada wacana, melainkan diarahkan menjadi program nyata yang terukur.
Fokus utama pembahasan adalah penyusunan skema beasiswa bagi penyandang disabilitas. Program ini dirancang tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan pendampingan akademik dan fasilitas penunjang yang sesuai.
Di sisi lain, LIDI NTB menyambut positif inisiatif tersebut. Sebagai organisasi yang selama ini aktif dalam advokasi dan pendampingan penyandang disabilitas, LIDI menilai kerja sama ini sebagai langkah konkret dalam pemenuhan hak dasar, khususnya di sektor pendidikan.
Perwakilan LIDI NTB menyebut, akses pendidikan tinggi masih menjadi tantangan besar bagi penyandang disabilitas di daerah. Selain keterbatasan ekonomi, minimnya fasilitas yang ramah disabilitas di perguruan tinggi juga menjadi kendala utama.
“Kolaborasi seperti ini penting agar penyandang disabilitas tidak lagi tertinggal. Pendidikan adalah kunci untuk meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup,” ujar salah satu perwakilan LIDI.
Program beasiswa yang tengah disusun disebut tidak hanya menyasar penyandang disabilitas, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat umum dengan prioritas kelompok rentan. Langkah ini dinilai dapat menciptakan lingkungan kampus yang lebih beragam dan inklusif.
Selain aspek pendidikan, kerja sama ini juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing lulusan penyandang disabilitas di dunia kerja. Dengan bekal pendidikan tinggi, mereka diharapkan mampu bersaing secara profesional, mandiri secara ekonomi, serta berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Pertemuan ini juga membahas rencana teknis lanjutan, mulai dari mekanisme seleksi penerima beasiswa, sistem pendampingan mahasiswa disabilitas, hingga penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung proses belajar.
Meski masih dalam tahap penjajakan, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam jangka panjang. Implementasi program diharapkan dapat segera direalisasikan setelah tahap perencanaan selesai.
Langkah ini menjadi sinyal positif bagi penguatan pendidikan inklusif di NTB. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan organisasi disabilitas, peluang bagi penyandang disabilitas untuk mengenyam pendidikan tinggi kini semakin terbuka.
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih ada, inisiatif seperti ini diharapkan mampu mendorong lebih banyak pihak untuk terlibat dalam menciptakan sistem pendidikan yang setara. Bagi penyandang disabilitas, akses pendidikan bukan sekadar peluang, tetapi hak yang harus dipenuhi.














