Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Nusa Tenggara Barat, Ketut Akbar Herry Achjar, memberikan apresiasi terhadap sistem keamanan dan program pembinaan yang dijalankan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Praya saat melakukan monitoring dan evaluasi (monev), Kamis (25/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, perhatian tidak hanya tertuju pada aspek keamanan, tetapi juga pada berbagai program pemberdayaan warga binaan yang dinilai memiliki nilai ekonomi dan prospek jangka panjang.
Monitoring dilakukan sebagai bagian dari evaluasi berkala untuk memastikan seluruh layanan pemasyarakatan berjalan sesuai standar, mulai dari pelayanan kepada masyarakat hingga pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Didampingi para Kepala Bidang Kanwil Ditjenpas NTB, Ketut Akbar disambut langsung Kepala Rutan Praya, M. Syaripuddin Hazri, bersama jajaran. Peninjauan dilakukan secara menyeluruh dengan menyasar berbagai fasilitas utama di dalam rutan.
Beberapa lokasi yang diperiksa meliputi ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Pos Pengawasan dan Pemeriksaan (P2U), ruang penggeledahan, Pintu 3, dapur, blok hunian, perpustakaan, Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), hingga area kegiatan kerja warga binaan.
Salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah penerapan sistem pengamanan di area blok hunian. Menurut Ketut Akbar, disiplin petugas dalam menerapkan prosedur keamanan menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas di dalam rutan.
Ia mengapresiasi kebijakan yang mewajibkan setiap petugas maupun tamu menjalani pemeriksaan di Pintu 3 sebelum memasuki blok hunian. Selain itu, seluruh telepon genggam wajib dititipkan di loker yang tersedia di ruang Komandan Jaga sehingga area blok tetap steril dari penggunaan perangkat komunikasi pribadi.
Kebijakan tersebut dinilai mampu meminimalkan potensi gangguan keamanan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap aktivitas di dalam blok hunian.
Saat berinteraksi dengan warga binaan, Ketut Akbar juga memastikan proses pembinaan berjalan sebagaimana mestinya. Ia berdialog secara langsung dengan sejumlah WBP untuk mengetahui kondisi mereka selama menjalani masa pembinaan.
Hasil pemantauan menunjukkan situasi keamanan dan ketertiban di Rutan Praya berada dalam kondisi kondusif. Tidak ditemukan gangguan yang berpotensi menghambat pelayanan maupun aktivitas pembinaan.
Selain aspek keamanan, pelayanan kepada masyarakat juga menjadi bagian dari evaluasi. Menurutnya, kualitas layanan publik di Rutan Praya telah berjalan secara konsisten sehingga mampu memberikan kemudahan bagi keluarga warga binaan maupun masyarakat yang membutuhkan layanan administrasi.
Namun, perhatian terbesar justru tertuju pada berbagai program pembinaan kemandirian yang dikembangkan di dalam rutan. Program tersebut dinilai mampu mengoptimalkan potensi lokal sekaligus memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan.
Beberapa hasil karya yang ditinjau antara lain budidaya maggot, kerajinan tas berbahan eceng gondok, hingga pembuatan miniatur bale lumbung khas Lombok.
Menariknya, bahan baku eceng gondok yang selama ini dianggap sebagai gulma dimanfaatkan menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi. Tanaman tersebut diambil dari kawasan Bendungan Batujai sebelum diolah oleh warga binaan menjadi tas dan berbagai produk kreatif lainnya.
Menurut Ketut Akbar, pendekatan pembinaan semacam ini menjadi contoh bagaimana lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan karakter, tetapi juga menciptakan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin pembinaan tidak berhenti pada aspek pembentukan karakter, tetapi juga menghasilkan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat,” ujar Ketut Akbar Herry Achjar.
Ia berharap hasil karya warga binaan terus dikembangkan sehingga mampu menembus pasar yang lebih luas, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Pengembangan produk berbasis potensi lokal dinilai memiliki peluang besar karena mampu mengangkat identitas daerah sekaligus memberikan nilai tambah terhadap sumber daya yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
Sementara itu, Kepala Rutan Praya, M. Syaripuddin Hazri, menegaskan pihaknya akan terus memperkuat program pembinaan yang berbasis pada potensi daerah.
Menurutnya, pemanfaatan bahan baku lokal seperti eceng gondok serta pengembangan budidaya maggot merupakan bagian dari strategi untuk membangun kreativitas dan kemandirian warga binaan selama menjalani masa pidana.
Selain meningkatkan keterampilan kerja, program tersebut diharapkan mampu membuka peluang usaha ketika warga binaan telah selesai menjalani masa pembinaan.
“Kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara sistem keamanan yang disiplin dengan pembinaan yang produktif sehingga warga binaan memiliki bekal nyata saat kembali ke masyarakat,” kata Syaripuddin.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemasyarakatan yang menempatkan pembinaan sebagai bagian penting dalam proses reintegrasi sosial.
Melalui program kemandirian, warga binaan tidak hanya memperoleh pengalaman kerja, tetapi juga belajar memanfaatkan sumber daya lokal menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Monitoring yang dilakukan Kanwil Ditjenpas NTB di Rutan Praya sekaligus menjadi evaluasi bahwa fungsi pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada pengamanan, melainkan juga pada peningkatan kualitas pembinaan.
Dengan menjaga keseimbangan antara keamanan, pelayanan publik, dan pemberdayaan warga binaan, Rutan Praya dinilai mampu menghadirkan model pembinaan yang lebih produktif sekaligus mendukung upaya menekan angka residivisme melalui peningkatan keterampilan dan kesiapan warga binaan saat kembali ke tengah masyarakat.














