Ekonomi NTB Melesat 13,64 Persen, Surplus Dagang Tembus USD 1,24 Miliar

Ekonomi NTB Melesat 13,64 Persen, Surplus Dagang Tembus USD 1,24 Miliar

Mataram, Jurnalekbis.com – Kinerja ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan penguatan sepanjang semester pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi mencapai 13,64 persen secara tahunan (year on year/y-o-y), sementara surplus neraca perdagangan melonjak hingga USD 1,241 miliar. Capaian tersebut ditopang meningkatnya ekspor komoditas tambang, terutama konsentrat tembaga dan katoda dari smelter PT AMMAN Mineral.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTB, Ratih Hapsari Kusumawardani, mengatakan berbagai indikator ekonomi daerah menunjukkan tren positif yang diikuti perbaikan kesejahteraan masyarakat.

“Pertumbuhan Ekonomi NTB pada Triwulan I 2026 mencapai 13,64 persen (y-o-y), didorong secara signifikan oleh lonjakan ekspor dan peningkatan aktivitas sektor pertambangan. Pemerintah terus menjaga momentum tersebut melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati, prudent, dan tepat sasaran,” ujar Ratih, Jumat (31/7).

Data DJPb mencatat, hingga Juni 2026 nilai ekspor NTB mencapai USD 1,287 miliar. Pada Juni saja, ekspor menyumbang USD 74,02 juta dengan komoditas utama berupa konsentrat tembaga, katoda, dan mutiara. Sementara itu, nilai impor secara kumulatif berada di angka USD 45,90 juta.

Baca Juga :  IMI Beli 8.000 Tiket MotoGP Mandalika, Dukung Mario Aji dan Veda Ega

Selisih antara ekspor dan impor tersebut menghasilkan surplus perdagangan sebesar USD 1,241 miliar. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena mulai optimalnya aktivitas ekspor konsentrat tembaga dan katoda dari fasilitas pengolahan PT AMMAN Mineral.

Selain perdagangan luar negeri, stabilitas harga di NTB juga relatif terjaga. Pada Juni 2026, inflasi tahunan tercatat sebesar 3,55 persen atau sedikit di atas target nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Ratih menjelaskan, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah pengendalian harga, khususnya pada komoditas pangan strategis agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Perbaikan juga terlihat pada sejumlah indikator kesejahteraan. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB meningkat menjadi 130,95, sedangkan Nilai Tukar Nelayan (NTN) mencapai 110,85. Kedua indikator tersebut menunjukkan membaiknya tingkat penerimaan petani dan nelayan dibandingkan biaya produksi maupun kebutuhan konsumsi mereka.

Baca Juga :  BULOG NTB Gelar Gerakan Pangan Murah di 146 Titik, Stok Beras Aman Hingga Akhir 2025

Di sektor ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan menjadi 2,99 persen pada Februari 2026. Persentase penduduk miskin juga turun menjadi 11,38 persen, sementara Gini Ratio berada di angka 0,364 yang mencerminkan distribusi pendapatan masyarakat semakin membaik.

Menurut Ratih, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada sektor pertambangan, tetapi juga mulai diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, pemerintah tetap berupaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sektor unggulan lainnya agar tidak bergantung pada komoditas tambang.

“Melalui pengelolaan fiskal yang hati-hati, prudent, dan tepat sasaran, pemerintah optimistis NTB mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan sepanjang 2026,” kata Ratih.

Baca Juga :  Ekspor NTB Berpeluang Meningkat Berkat BRICS

Dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku yang mencapai Rp52,62 triliun pada Triwulan I 2026, pemerintah berharap investasi, ekspor, serta penguatan sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan usaha mikro dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *