Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Empat kali keluar-masuk Malaysia lewat jalur ilegal untuk menjadi buruh kelapa sawit ternyata bukan akhir perjalanan Jalaludin. Setelah bertahun-tahun menggantungkan hidup di negeri orang, pria asal Desa Saba, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, itu memilih pulang dan memulai usaha yang sama sekali tidak pernah dipelajarinya: mengolah dan memasarkan kerajinan anyaman ketak.
Kini, tas berbahan tanaman ketak yang dipasarkan Jalaludin telah menembus Inggris, Prancis, Korea hingga sejumlah negara di Afrika. Dari usaha yang dirintis dengan penuh keterbatasan tersebut, omzetnya mencapai sekitar Rp20 juta per bulan.
Mantan TKI Beralih Menjadi Pengusaha Anyaman Ketak
Jalaludin bukan berasal dari keluarga perajin. Pendidikan formalnya hanya sampai Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sebelum terjun ke dunia usaha, kehidupannya lebih banyak diwarnai perjuangan mencari pekerjaan.
Malaysia menjadi salah satu tempatnya menggantungkan harapan. Ia bekerja sebagai buruh kelapa sawit dan beberapa kali keluar-masuk negeri jiran tersebut melalui jalur ilegal.
Namun, pengalaman hidup di perantauan perlahan membuatnya berpikir. Jalaludin tidak ingin selamanya mencari penghasilan dengan meninggalkan kampung halaman.
Ia akhirnya memutuskan pulang ke Desa Saba.
Keputusan tersebut sekaligus menjadi awal dari perjalanan bisnis yang tidak langsung berjalan mulus.
Modal dari Malaysia, Bisnis Pertama Justru Terpuruk
Uang yang dikumpulkan dari bekerja di Malaysia digunakan sebagai modal awal. Jalaludin mencoba menjadi pengecer bahan baku ketak.
Harapannya sederhana: memperoleh keuntungan dari perdagangan bahan baku sekaligus membangun jaringan dengan para perajin di sekitar tempat tinggalnya.
Kenyataan berkata lain.
Sebagian barang yang dijual kepada pembeli tidak langsung dibayar. Sistem utang membuat perputaran modal tersendat. Modal yang seharusnya digunakan untuk mengembangkan usaha justru semakin menipis.
Di titik tersebut, Jalaludin dihadapkan pada pilihan: berhenti atau mencari cara lain.
Ia memilih pilihan kedua.
Jalaludin kemudian mengubah pola usahanya. Tidak lagi hanya berjualan bahan baku, ia mulai menampung produk kerajinan yang dibuat warga sekitar untuk dipasarkan kembali.
Media Sosial Jadi Titik Balik Usaha Jalaludin
Perubahan strategi tersebut kemudian dipadukan dengan cara pemasaran yang saat itu mulai ia kenal lebih serius, yakni media sosial.
Jalaludin mencoba memperkenalkan produk anyaman ketak melalui internet. Foto-foto produk dipasarkan secara sederhana, dengan harapan bisa menemukan pembeli di luar daerah.
Upaya tersebut ternyata membuka pintu yang lebih besar.
“Saya coba manfaatkan media sosial untuk promosi,” kenang Jalaludin.
Tidak lama kemudian, pesanan dalam jumlah besar datang dari Bali. Sekitar 2.000 unit tas ketak dipesan dalam satu transaksi.
Bagi Jalaludin, pesanan tersebut menjadi momentum penting. Ia mulai melihat bahwa kerajinan yang selama ini dibuat masyarakat di kampungnya ternyata memiliki pasar yang jauh lebih luas.
Dari Bali, Tas Ketak Lombok Menembus Pasar Dunia
Setelah mendapatkan kepercayaan pasar, usaha Jalaludin berkembang secara bertahap.
Ia tidak bekerja sendirian. Sang istri ikut membantu menjalankan usaha, sementara dua orang karyawan tetap mendukung proses produksi dan pemasaran.
Pasar domestik pun semakin luas. Produk kerajinan tersebut dipasarkan ke Bali, Yogyakarta dan Jakarta.
Namun, perjalanan berikutnya membawa produk Desa Saba keluar dari Indonesia.
Tas dan kerajinan berbahan ketak yang dipasarkan Jalaludin mulai menjangkau konsumen di Inggris, Prancis, Korea serta sejumlah negara di Afrika.
Bahan yang tumbuh di sekitar lingkungan masyarakat diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Di tangan para perajin, tanaman ketak tidak sekadar menjadi bahan anyaman. Ia berubah menjadi tas dan berbagai produk kerajinan yang memiliki daya tarik tersendiri di pasar.
Dari Jalan Hidup yang Sulit, Muncul Harapan Baru
Perjalanan Jalaludin memperlihatkan sisi lain dari usaha kerajinan di pedesaan.
Ia pernah menjadi buruh kelapa sawit di Malaysia. Pernah pula mengalami kegagalan ketika bisnis pertamanya terhambat persoalan piutang. Namun, dua pengalaman tersebut tidak membuatnya berhenti mencari jalan.
Kini, usaha anyaman ketak yang berawal dari Desa Saba mampu menghasilkan omzet sekitar Rp20 juta setiap bulan.
Lebih dari sekadar angka, usaha itu membuka ruang bagi keterlibatan perajin lokal dan membuat produk yang lahir dari tangan masyarakat desa dapat dikenal hingga luar negeri.
Jalaludin mungkin tidak pernah membayangkan bahwa keputusan untuk pulang dari Malaysia akan membawanya ke titik ini.
Ia kembali ke kampung halaman tanpa latar belakang sebagai perajin. Namun, dari bahan ketak, media sosial, dan keberanian mencoba, ia menemukan jalan baru.
Sebuah jalan yang tidak lagi mengharuskannya mencari kehidupan di negeri orang, tetapi justru memungkinkan produk dari kampung halamannya yang pergi ke berbagai penjuru dunia.













