Mataram, Jurnalekbis.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bergerak cepat membantu penanganan korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 79 tenaga kesehatan, 22 unit kendaraan, serta bantuan bahan pokok, pakaian dan obat-obatan diberangkatkan dalam aksi Solidaritas Kemanusiaan KRBNN Bali-NTB-NTT.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal mengatakan, keberangkatan tim dan logistik dilakukan kurang dari 24 jam setelah koordinasi penanganan bencana dilakukan. Menurutnya, langkah tersebut sekaligus menjadi uji kesiapsiagaan NTB dalam menghadapi situasi darurat.
“Dalam waktu kurang dari 24 jam tadi, tim kita sudah siap. Artinya, bukan saja kita siap membantu saudara kita di NTT, tetapi kita punya kesiapsiagaan yang optimal untuk kita sendiri,” kata Iqbal.
Bantuan diarahkan ke dua posko utama, yakni Ende dan Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo, tim akan menangani kebutuhan kemanusiaan di Manggarai dan wilayah sekitarnya yang disebut menjadi salah satu kawasan dengan jumlah korban dan pengungsi cukup besar.
Iqbal menjelaskan, sebagian besar kebutuhan logistik permakanan dibeli dari Bima. Sementara obat-obatan, bantuan dari rumah sakit serta sejumlah dukungan lainnya dibawa dari NTB.
Pemerintah juga menyiapkan kendaraan operasional untuk mendukung mobilisasi tim di wilayah terdampak. Sejumlah kendaraan penggerak empat roda disiapkan untuk menjangkau lokasi yang sulit dilalui kendaraan biasa.
Fokus bantuan tidak hanya pada kebutuhan dasar. Pemprov NTB turut mengirim tenaga kesehatan, termasuk tim dari Rumah Sakit Mutiara Sukma untuk memberikan trauma healing, terutama kepada anak-anak dan masyarakat yang mengalami tekanan psikologis setelah bencana.
“Yang paling penting adalah seminggu pertama ini. Kita ingin hadir memberikan bantuan, pertolongan, termasuk tim trauma healing,” ujar Iqbal.
Untuk mendukung operasi kemanusiaan tersebut, Pemprov NTB telah mengalokasikan anggaran Rp1 miliar, terdiri dari Rp500 juta untuk operasional dan Rp500 juta untuk logistik. Dukungan juga datang dari berbagai pihak, termasuk Baznas dan organisasi kemanusiaan.
Kebutuhan dokter lapangan menjadi salah satu perhatian utama. Pemprov NTB berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan NTT dan melibatkan Emergency Medical Team (EMT) MDMC Muhammadiyah, yang memiliki kemampuan mengoperasikan rumah sakit lapangan.
Pengiriman bantuan ini juga membawa pengalaman NTB saat menangani gempa 2018. Iqbal menyebut pemulihan pascabencana tidak berhenti pada penanganan korban, tetapi perlu dilanjutkan dengan pembersihan reruntuhan dan menghidupkan kembali infrastruktur agar aktivitas masyarakat dan ekonomi dapat bergerak.
“Kita bawa pengalaman kita tahun 2018 itu ke NTT,” katanya.
Bagi NTB, operasi kemanusiaan tersebut bukan sekadar pengiriman logistik, tetapi juga bentuk solidaritas antardaerah sekaligus pembuktian bahwa kesiapsiagaan bencana harus mampu bergerak cepat ketika masyarakat membutuhkan pertolongan













