Maulid Nabi di Denpasar: Parade Telur Rajut Kebhinekaan dari Wanasari

Maulid Nabi di Denpasar: Parade Telur Rajut Kebhinekaan dari Wanasari

Denpasar, Jurnalekbis.com — Ratusan warga Dusun Wanasari, Denpasar Utara, Bali, tumpah ruah mengikuti Parade Budaya Telur untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Minggu sore, 23 Agustus 2026.

Parade tersebut tidak hanya menghadirkan telur hias dan miniatur masjid, tetapi juga menjadi panggung kebhinekaan. Peserta mengenakan pakaian tradisional dari berbagai daerah, berpadu dengan warna merah putih sebagai simbol kecintaan terhadap Indonesia.

Beragam miniatur masjid yang dihiasi telur menjadi perhatian warga. Bentuk, warna, dan ornamen yang digunakan peserta dibuat beragam, mencerminkan kekayaan budaya Nusantara.

Iringan shalawat, musik tradisional, tarian, serta keterlibatan anak-anak hingga orang tua membuat suasana parade berlangsung semarak. Tradisi keagamaan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas generasi untuk memperkuat persaudaraan.

Peserta Parade Budaya Telur, Nunung Herma, mengatakan kegiatan tersebut menjadi cara warga Wanasari menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukan alasan untuk terpecah.

“Indonesia kaya dengan banyak pulau dari Sabang sampai Merauke. Kami cinta kebhinekaan dan bisa merangkul berbagai kalangan, dari anak kecil sampai dewasa hingga orang tua,” ujar Nunung yang mengenakan pakaian tradisional Papua.

Baca Juga :  Balita Hilang Ditemukan Tak Bernyawa di Kali Pagesangan

Menurut dia, pelaksanaan parade tahun ini memiliki makna ganda karena berlangsung berdekatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ia berharap semangat kebersamaan yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut dapat diteruskan generasi muda.

“Semoga ke depannya Indonesia lebih baik lagi dan bisa memberikan pencerahan kepada generasi muda berikutnya agar lebih semangat untuk Indonesia,” katanya.

Telur Jadi Simbol Kebersamaan

Ketua Panitia Parade Budaya Telur, Haji Abdul Hakim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan masyarakat Dusun Wanasari. Meski telur bukan bagian yang secara khusus identik dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tradisi itu telah berkembang menjadi ciri khas warga setempat.

Menurut Abdul Hakim, makna utama parade bukan terletak pada telur, melainkan pesan kebersamaan yang dibawanya.

“Momentum Maulid Nabi Muhammad adalah memperkuat ukhuwah Islamiah dan mempersatukan antarumat beragama,” ujarnya.

Ia menyebut parade juga menjadi kesempatan bagi warga untuk bersilaturahmi sekaligus memperkuat persatuan umat Islam di Denpasar.

Baca Juga :  26 Motor Knalpot Brong Ditindak di Denpasar

Abdul Hakim menjelaskan, telur dalam tradisi tersebut digunakan sebagai simbol kebersamaan. Pesan itu dinilai penting karena masyarakat memiliki latar belakang dan pemahaman yang beragam.

“Dengan adanya parade telur bisa mempersatukan umat Islam, khususnya yang mungkin selama ini banyak ada perbedaan aliran. Telur memberi simbol kebersamaan,” katanya.

Tradisi Keagamaan Bertemu Budaya Nusantara

Pemandangan sepanjang parade memperlihatkan perpaduan antara nilai keagamaan dan identitas budaya Indonesia. Peserta hadir dengan busana daerah yang merepresentasikan beragam suku dan tradisi, sementara miniatur masjid serta lantunan shalawat memperkuat nuansa Maulid Nabi.

Keterlibatan anak-anak dan generasi muda juga menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka tidak sekadar mengikuti arak-arakan, tetapi turut mengenal tradisi yang berkembang di lingkungan masyarakat Wanasari.

Parade itu memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk merawat budaya sekaligus memperkuat hubungan sosial. Semangat tersebut semakin terasa ketika warga membawa pesan persatuan dalam suasana perayaan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga :  Lalu Iqbal: Jika Muslimat NU Bergerak, Separuh Masalah Sosial NTB Selesai

Dengan mengusung semangat “Merajut Kebhinekaan dalam Cinta kepada Rasulullah SAW”, Parade Budaya Telur Wanasari menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan.

Di tengah keberagaman masyarakat, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan suku, pakaian, budaya, bahasa, maupun kebiasaan dapat berjalan berdampingan selama dibangun dengan semangat persaudaraan.

Bagi warga Wanasari, telur yang diarak bukan sekadar hiasan. Ia menjadi simbol sederhana tentang bagaimana keberagaman dapat disatukan dalam satu ruang kebersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *