Lombok Tengah, Jurnalekbis.com — Sorgum yang dahulu nyaris tak bernilai di Desa Mekar Damai, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini menjadi salah satu jalan baru bagi UMKM Cempaka untuk memperluas pasar hingga mancanegara.
Kelompok usaha yang dipimpin Maimunah itu tidak hanya mengolah sorgum menjadi tortilla, tetapi juga mengembangkan opak, kerupuk hingga beras sorgum. Produk tersebut perlahan naik kelas setelah mendapat pendampingan dari Astra Motor NTB.
Salah satu capaian terbesarnya adalah produk tortilla sorgum yang telah lolos kurasi untuk pasar Selandia Baru. Produk itu bahkan telah dikirim dua kali untuk memenuhi proses pengujian dan persyaratan pasar ekspor.
“Alhamdulillah, tortilla sorgum ini juga lolos ke sana dan sempat ngirim dua kali. Itu diwajibkan untuk mengurus izin-izinnya, termasuk uji nutrisi,” kata Maimunah, Ketua UMKM Cempaka.
Menurut Maimunah, usaha tersebut bermula pada 2014 setelah melihat melimpahnya hasil pertanian di desa. Jagung dan singkong ketika itu belum memiliki nilai ekonomi tinggi. Sebagian hasil panen bahkan hanya dimanfaatkan sebagai makanan ternak.
“Dulu kalau jagung dan singkong di desa kami itu tidak dijual. Itu hanya untuk makanan ternak seperti burung dan ayam. Kalau dijual ke pasar, lebih banyak ongkos daripada hasil pendapatan,” ujarnya.
Kondisi itu mendorong Maimunah membangun usaha bersama perempuan di lingkungannya. Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, termasuk mantan tenaga kerja wanita (TKW), perempuan kepala keluarga, serta ibu-ibu yang memiliki waktu luang setelah aktivitas rumah tangga.
Awalnya, UMKM Cempaka memproduksi kue basah secara sederhana. Produksi perdana hanya sekitar lima kilogram dengan sistem semi-manual. Perubahan mulai terjadi setelah Maimunah mengikuti pelatihan pembuatan tortilla dari seorang pelatih asal Bilebante, Lombok Tengah, bernama Hj. Zainab.
“Saat mengikuti pelatihan itu, dalam hati saya langsung bilang, nah ini yang akan saya bidik di kelompok,” tutur Maimunah.
Sorgum kemudian mulai dikembangkan secara serius sejak 2021. Bagi kelompok tersebut, tanaman ini bukan sekadar bahan baku, tetapi juga bagian dari upaya menghidupkan kembali tanaman pangan yang pernah dikenal masyarakat setempat.
“Ini tanaman orang tua zaman dulu, jadi kami perlu booming-kan lagi. Salah satu kesempatan juga melalui program Astra untuk mengenalkan produk lokal,” katanya.
Peran Astra Motor NTB mulai dirasakan UMKM Cempaka sejak 2022. Pendampingan tidak berhenti pada pelatihan produksi, tetapi menyentuh aspek kemasan, pemasaran, hingga peralatan produksi.
Sebelum mendapat pendampingan, produk Cempaka masih menggunakan kemasan sederhana. Astra kemudian membantu memperbarui tampilan produk sekaligus membuka akses ke sejumlah pasar modern dan pusat oleh-oleh.
Maimunah mengakui perubahan tersebut meningkatkan kepercayaan dirinya untuk memperluas pasar.
“Yang paling terasa adalah awalnya kami enggak pede untuk masuk ke pasar modern. Tapi kami diantar langsung tim Astra, dikenalkan dengan pihak toko oleh-oleh dan NTB Mall. Alhamdulillah kami diterima langsung,” ujarnya.
Pada 2023, dukungan kembali diberikan melalui fasilitas mesin pengaduk. Peralatan itu menggantikan proses manual yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar.
Kini, UMKM Cempaka melibatkan 17 pekerja yang seluruhnya perempuan. Tiga di antaranya merupakan mantan TKW dari Arab Saudi, sementara lima lainnya adalah perempuan kepala keluarga.
Jumlah produksi normal berada di kisaran 10 kilogram per hari. Namun kapasitas dapat meningkat mengikuti permintaan. Pada masa pandemi Covid-19, misalnya, kelompok tersebut pernah menerima pesanan hingga satu ton yang diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.
Bahan baku utama berupa jagung pipil relatif mudah diperoleh karena produksi jagung di NTB cukup besar. Sementara untuk sorgum, kelompok masih menanam sebagian kebutuhannya sendiri.
Produk Cempaka juga telah hadir dalam berbagai kegiatan besar di NTB, termasuk momentum MotoGP di Sirkuit Mandalika. Sebagian produk jagung dan singkong sebelumnya juga dipasarkan melalui mitra dengan merek lain.
Maimunah mengatakan strategi tersebut tetap diperlukan karena jumlah anggota kelompok cukup banyak sehingga produksi harus berjalan dan pemasaran harus disesuaikan dengan kapasitas.
Pada 2025, UMKM Cempaka juga mengikuti kurasi produk untuk pasar Selandia Baru. Astra turut membantu memfasilitasi pengujian nutrisi sebagai bagian dari persiapan memenuhi persyaratan pasar.
Tahun ini, Cempaka mengikuti dua program, yakni UMKM Bisa dan Astra Export Champion. Program tersebut diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat kesiapan usaha menuju ekspor.
Adm Fin Manager Astra Motor NTB Ivan Pratama mengatakan UMKM Cempaka merupakan salah satu binaan dalam program Income Generating Activity (IGA) Astra.
“UMKM Cempaka milik Bu Maimunah ini menjadi salah satu binaan Astra Motor NTB yang merupakan salah satu fokus dari program IGA Astra dalam memberdayakan UMKM dan warga yang kurang mampu,” ujar Ivan.
Menurutnya, pendampingan dilakukan melalui pelatihan, dukungan modal serta strategi pemasaran. Program tersebut menjadi bagian dari fokus Astra pada pengembangan kewirausahaan dan kemandirian ekonomi.
Bagi Maimunah, perjalanan UMKM Cempaka menunjukkan bahwa hasil pertanian yang dulu dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi produk bernilai ekonomi ketika diolah, dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Dari desa, sorgum kini menjadi harapan baru untuk membawa produk lokal NTB melangkah lebih jauh, termasuk menuju pasar ekspor.













