BI NTB: Pariwisata Serap 28 Persen Tenaga Kerja

BI NTB: Pariwisata Serap 28 Persen Tenaga Kerja

Mataram, Jurnalekbis.com — Pariwisata menjadi salah satu sektor penting dalam menopang perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB). Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan NTB mencatat aktivitas yang berkaitan dengan pariwisata berkontribusi sekitar 21,50 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekaligus menyerap sekitar 28 persen tenaga kerja di daerah tersebut.

Data itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan BI NTB Hario K. Pamungkas dalam Bincang Bareng Media Triwulan III 2026 bersama Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (FWE) NTB di Mataram, Rabu (2/9/2026).

Menurut Hario, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya berkaitan dengan kunjungan wisatawan atau aktivitas destinasi, tetapi memiliki efek berantai terhadap berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.

BI melihat perkembangan pariwisata melalui tiga lapangan usaha yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas wisata, yakni perdagangan, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum.

Ketiga sektor tersebut menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi daerah. Ketika jumlah wisatawan meningkat, permintaan terhadap transportasi, penginapan, restoran, pusat perdagangan hingga berbagai usaha pendukung ikut bergerak.

“Kalau kita melihat pariwisata, ada tiga lapangan usaha yang sangat terkait, yaitu perdagangan, transportasi, serta penyediaan akomodasi dan makan minum,” kata Hario.

Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen

Di tengah peran sektor pariwisata tersebut, ekonomi NTB mencatat pertumbuhan yang cukup kuat.

Baca Juga :  Sunset QRIS Run 2026 5K Dorong Digitalisasi Sekaligus Perkuat Kebersamaan Warga

Hario mengatakan perekonomian NTB pada triwulan II 2026 tumbuh 7,41 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan itu berada di atas capaian ekonomi nasional maupun kawasan Bali dan Nusa Tenggara.

Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama ditopang ekspor hasil industri pengolahan. Salah satu faktor yang memberikan pengaruh adalah dampak lanjutan dari relaksasi ekspor konsentrat tambang pada April 2026.

Konsumsi rumah tangga juga masih menjadi penyangga ekonomi. Momentum Idul Adha dan libur sekolah turut menjaga aktivitas konsumsi masyarakat.

Dari sisi struktur ekonomi, pertambangan masih memiliki porsi besar dengan kontribusi sekitar 25 persen, sedangkan pertanian berada di kisaran 21,9 persen.

Sektor perdagangan, konstruksi, transportasi, dan industri pengolahan juga menjadi bagian penting dalam struktur perekonomian NTB.

Pada triwulan II 2026, pertanian tumbuh 2,54 persen, pertambangan 30,57 persen, perdagangan 4,33 persen, sedangkan industri pengolahan tumbuh 7,45 persen.

BI Dorong Hilirisasi Tambang

Pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor pertambangan dinilai perlu diikuti penguatan industri pengolahan. BI berharap NTB secara bertahap meningkatkan nilai tambah komoditas sebelum dipasarkan keluar daerah.

Hario menilai penguatan hilirisasi menjadi penting agar NTB tidak berhenti sebagai daerah penghasil bahan mentah.

Baca Juga :  Angin Puting Beliung Terjang Dompu, Dua Rumah Warga Rusak

“Kita harapkan pertumbuhan maupun pangsa industri pengolahan semakin meningkat. Hasil-hasil tambang yang selama ini menjadi motor penggerak NTB bisa kemudian diolah, sehingga bisa menjadi komoditas ekspor maupun dijual di pasar domestik,” ujarnya.

Dengan pengolahan di dalam daerah, rantai ekonomi yang terbentuk diharapkan semakin panjang. Dampaknya tidak hanya terhadap nilai ekspor, tetapi juga aktivitas industri, perdagangan dan penciptaan lapangan kerja.

MotoGP Mandalika Jadi Pengungkit

Sektor pariwisata NTB juga mendapat dorongan dari pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika melalui konsep sport tourism.

Berbagai agenda berskala internasional menjadi salah satu instrumen untuk mendatangkan wisatawan sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu momentum yang dinantikan adalah gelaran MotoGP Mandalika pada Oktober 2026.

BI memperkirakan event tersebut dapat memberikan efek terhadap sejumlah sektor yang bersinggungan langsung dengan wisatawan, mulai dari transportasi, akomodasi, perdagangan hingga usaha makanan dan minuman.

“Kita ketahui potensi wisata di Mandalika terus berkembang dengan konsep sport tourism dan event-event internasional. Di bulan Oktober akan ada gelaran MotoGP yang mudah-mudahan semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB,” kata Hario.

Kunjungan Wisatawan Mulai Meningkat

Pergerakan wisatawan juga menunjukkan perkembangan positif. BI mencatat kunjungan wisatawan ke NTB pada Juli 2026 meningkat sekitar 5,34 persen secara tahunan.

Baca Juga :  Pasca Kebakaran Sade, BI dan Perbankan NTB Salurkan Bantuan dan Trauma Healing

Sejumlah wilayah menjadi tujuan utama wisatawan, di antaranya Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah.

Kenaikan kunjungan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mendapatkan manfaat lebih besar dari aktivitas pariwisata.

Namun, bagi BI, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan jumlah wisatawan. Dampak ekonomi dari setiap kunjungan perlu diperbesar agar manfaat pariwisata semakin luas dirasakan masyarakat.

Dengan kontribusi terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja yang cukup besar, pariwisata dipandang memiliki posisi strategis dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi NTB. Penguatan konektivitas, industri pendukung, kualitas destinasi, serta penyelenggaraan event berkelanjutan menjadi faktor penting agar sektor ini mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *