Nyemulak Jadi Awal Kebangkitan Kampung Adat Sade

Nyemulak Jadi Awal Kebangkitan Kampung Adat Sade

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com— Kampung Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mulai dibangun kembali setelah sejumlah rumah adat Sasak dan Masjid Sade dilanda kebakaran beberapa waktu lalu.

Pembangunan kembali tidak langsung dimulai dengan aktivitas konstruksi biasa. Warga terlebih dahulu menjalankan tradisi Nyemulak, yakni ritual adat yang menandai dimulainya pembangunan rumah dengan menanam tiang pertama.

Tradisi tersebut menjadi penanda bahwa kehidupan di kampung adat yang sempat terpukul akibat kebakaran mulai kembali ditata.

Ritual Nyemulak diawali dengan pembacaan doa oleh pemangku adat setempat. Setelah itu, warga menanam tiang pada lokasi bekas rumah yang terbakar.

Sejumlah warga telah melaksanakan Nyemulak dan mendirikan tiang di atas lahan bekas bangunan. Sementara warga lainnya dijadwalkan mengikuti tradisi tersebut secara bertahap, menyesuaikan petunjuk dari para orang tua dan tokoh adat.

Bagi masyarakat Sade, waktu pelaksanaan juga menjadi bagian penting dalam memulai pembangunan.

Warga Sade, Sadip, mengatakan penanaman tiang pertama dilakukan sekitar pukul 08.30 WITA. Waktu tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan adat dan petunjuk orang tua setempat.

“Ritual memulai bale (rumah), meletakkan batu pertama ya. Batu pertama mulai hari ini tadi jam 08.30,” kata Sadip.

Menurutnya, warga sengaja mengejar waktu tersebut karena dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai pembangunan.

Baca Juga :  Tren Diet OMAD: Janji Langsing Sekejap, Risiko Metabolisme Mengintai?

“Orang tua sini jam 08.30 itu sudah jam yang bagus, jam yang baik bagi dia. Nah, itu yang kita kejar,” ujarnya.

Dalam pembangunan rumah adat, terdapat ketentuan mengenai jumlah dan posisi tiang yang ditanam pada tahap awal.

Sadip menjelaskan, sedikitnya delapan tiang ditanam sebagai bagian utama struktur rumah. Tiang tersebut ditempatkan pada beberapa bagian bangunan, mulai dari sisi depan, belakang hingga bagian samping.

“Yang ditanam tiang delapan. Delapan tiang,” katanya.

Delapan tiang itu ditempatkan di bagian pojok dan sisi bangunan. Namun, jumlah tersebut masih dapat bertambah sesuai kebutuhan konstruksi rumah.

Salah satunya dikenal dengan istilah separi, yakni tambahan ruang atau bagian bangunan yang digunakan untuk menyimpan berbagai perlengkapan rumah tangga.

“Separi namanya itu, dua biji lagi,” ujar Sadip.

Ia menjelaskan, bagian tersebut dapat digunakan untuk menyimpan barang, termasuk peralatan memasak dan perlengkapan dapur.

Bangun Kembali Peradaban

Pembangunan kembali Kampung Adat Sade tidak hanya dipandang sebagai proyek pemulihan bangunan setelah kebakaran.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengatakan proses rekonstruksi harus mempertahankan karakter dan nilai budaya yang melekat pada kampung adat tersebut.

Baca Juga :  IM3 Platinum: Nomor Eksklusif & Jaringan Stabil, Pilihan Gen Z!

Menurut Iqbal, membangun kembali Sade tidak cukup hanya dengan mendirikan rumah di lokasi yang sebelumnya terbakar. Setiap bangunan dan material yang digunakan harus mempertimbangkan filosofi serta nilai adat masyarakat Sasak.

“Pembangunan kampung ini sendiri tidak bisa berdiri karena ini multidisiplin. Ini kita ingin membangun rekonstruksi kembali peradaban, bukan sekadar bangunan,” kata Iqbal.

Ia menegaskan, desain dan proses pembangunan harus terlebih dahulu memahami nilai filosofis yang terdapat pada setiap bagian bangunan.

“Bukan sekadar kita desain terus bangun. Kita harus paham betul nilai-nilai, filosofi setiap bangunan, dan setiap materialnya kita sertifikasi,” ujarnya.

Konsep tersebut diharapkan membuat hasil pembangunan tetap memiliki karakter Kampung Sade yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan budaya Sasak di Lombok.

Iqbal mengatakan pemerintah ingin memastikan kampung yang dibangun kembali nantinya tidak berubah menjadi sekadar kumpulan bangunan baru.

“Sehingga nanti ketika sudah selesai, Kampung Sade ini seperti Kampung Sade aslinya yang kita bangun, bukan sekadar deretan bangunan di dalam satu lokasi,” katanya.

Status Sade Akan Diperkuat

Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menyiapkan perubahan dalam pengelolaan kawasan tersebut.

Iqbal menyebut Dusun Sade yang selama ini dikenal sebagai desa wisata akan diarahkan menjadi desa adat.

Baca Juga :  Ritual Daus Gong: Menyelami Warisan Budaya Sasak di Desa Wisata Bonjeruk

“Plus, kita akan juga revitalisasi Dusun Sade yang sebelumnya hanya statusnya sebagai desa wisata tapi jadi desa adat,” ujarnya.

Dengan demikian, pemulihan pascakebakaran tidak hanya menyasar rumah warga dan fasilitas umum yang rusak. Pemerintah juga ingin memperkuat kembali identitas budaya, tata ruang, serta nilai adat yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sade.

Tradisi Nyemulak menjadi langkah awal dari proses tersebut.

Bagi warga, penanaman tiang bukan sekadar pekerjaan pembangunan. Ritual itu menjadi simbol dimulainya kembali kehidupan di atas lahan yang sebelumnya berubah menjadi puing akibat kebakaran.

Pembangunan rumah-rumah warga akan dilakukan secara bertahap. Waktu pelaksanaan Nyemulak masing-masing keluarga mengikuti pertimbangan dan petunjuk orang tua setempat.

Dari tiang pertama yang ditanam, masyarakat Sade kini memulai kembali perjalanan untuk menghidupkan rumah, ruang sosial, dan lingkungan adat yang sempat terhenti akibat kobaran api.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *