Jurnalekbis.com — Ratusan wali santri mendatangi Pondok Pesantren AB di wilayah Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, untuk menjemput anak-anak mereka. Langkah tersebut muncul setelah informasi terkait dugaan pencabulan yang disebut melibatkan pimpinan pondok pesantren viral di media sosial.
Situasi di lingkungan pesantren berubah. Sejumlah orang tua datang untuk memastikan kondisi anak sekaligus membawa mereka pulang sementara.
Pihak komite dan pengurus pesantren memberikan izin kepada para santri untuk meninggalkan pondok hingga Kamis. Keputusan itu diambil untuk meredam situasi sekaligus memberikan ruang kepada pengelola untuk menindaklanjuti perkembangan informasi yang beredar.
Sahnan, salah satu pengurus sekaligus komite di yayasan, mengatakan proses pemulangan dilakukan karena kegiatan pembelajaran dinilai sulit berjalan optimal dalam kondisi tersebut.
“Saya izinkan dibawa pulang dulu. Toh juga di sini kami dalam keadaan begini. Nampaknya tidak mungkin terlaksana pembelajaran yang bagus,” kata Sahnan.
Ia menjelaskan, izin pulang berlaku mulai hari itu dan memiliki batas waktu hingga Kamis. Keputusan tersebut, menurut Sahpan, merupakan langkah bersama pengurus dan komite.
Pondok pesantren itu menampung sekitar 800 santri yang berasal dari berbagai wilayah Lombok. Bahkan, terdapat santri dari luar daerah, salah satunya dari Kalimantan.
Meski informasi dugaan pencabulan telah ramai di media sosial, Sahpan memilih tidak memberikan penilaian terhadap substansi kasus tersebut.
“Saya tidak berani menanggapi itu dulu, karena saya sendiri merasa antara percaya dan tidak,” ujarnya.
Menurutnya, pihak pengurus saat ini lebih fokus merespons gejolak yang muncul agar kondisi di lingkungan pesantren kembali kondusif.
Orang tua mengaku trauma
Kedatangan wali santri berlangsung setelah kabar dugaan pencabulan menyebar luas melalui media sosial.
Susanti, salah seorang wali santri asal Puyung, Lombok Tengah, mengaku terkejut setelah mengetahui informasi tersebut.
“Tidak mungkin wali santri begitu kalau tidak trauma. Ya Allah, tidak menyangka,” kata Susanti.
Ia mengaku memperoleh informasi tersebut dari media sosial. Kekhawatiran terhadap kondisi anak kemudian mendorongnya datang langsung ke pesantren.
Anaknya yang duduk di kelas 2 MA menjadi salah satu santri yang hendak dibawa pulang.
Susanti belum memastikan apakah anaknya akan kembali ke pesantren setelah masa pemulangan sementara berakhir. Menurut dia, keputusan tersebut harus mempertimbangkan kondisi dan kenyamanan anak.
“Gimana anaknya, kan kita tidak bisa memaksa anak. Untuk masa depan anak, mana yang terbaik,” ujarnya.
Ia juga mengakui tetap memiliki kekhawatiran meski belum mengetahui secara pasti perkembangan kasus tersebut.
“Munafik ya kalau bilang tidak, pasti ada. Kita punya anak, pasti kayak gitu,” katanya.
Pengurus pilih menenangkan situasi
Pemulangan sementara ini menjadi respons awal terhadap keresahan wali santri. Sahpan menyebut banyak orang tua memang datang atas inisiatif sendiri untuk membawa anak mereka pulang.
Pihak pengurus dan komite kemudian memberikan izin agar para santri dapat meninggalkan pesantren sementara waktu.
Namun, bahan informasi yang tersedia belum memuat hasil pemeriksaan aparat penegak hukum maupun penjelasan resmi mengenai status hukum pimpinan pesantren yang disebut dalam dugaan tersebut.
Karena itu, informasi mengenai dugaan pencabulan tersebut masih perlu menunggu proses klarifikasi dan penanganan dari pihak berwenang.
Bagi para orang tua, persoalannya kini bukan hanya mengenai aktivitas belajar. Rasa aman anak menjadi pertimbangan utama.
Sementara itu, pihak pesantren bersama komite memilih menjaga situasi tetap kondusif sambil menunggu perkembangan lebih lanjut.
Di tengah derasnya informasi media sosial, keputusan wali santri membawa anak pulang untuk sementara menjadi gambaran kuat tentang besarnya keresahan yang muncul di lingkungan Ponpes Abul Barokat.
Yang kini ditunggu bukan hanya kepastian mengenai keberlanjutan kegiatan belajar, tetapi juga kejelasan fakta di balik dugaan yang telah telanjur menyebar luas.












