Jurnalekbis.com — Program Desa Berdaya Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mengembangkan usaha peternakan di sejumlah desa, mulai dari ayam petelur hingga penggemukan sapi. Namun, capaian produksinya belum merata. Usaha ayam petelur di Desa Kalijaga, Lombok Timur, mencatat produksi 74%, sedangkan di Desa Sugian baru mencapai 10%.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB, Muhamad Riadi, mengatakan keberlanjutan program bergantung pada kemampuan pemerintah desa dan penerima manfaat dalam mengelola usaha serta meningkatkan produktivitas ternak.
“Perkembangan usaha peternakan dalam Program Desa Berdaya sejauh ini menampakkan hasil yang menggembirakan. Kami berharap usaha yang telah direalisasikan ini terus dijaga, dikelola, dan dikembangkan dengan baik oleh pemerintah desa bersama para penerima manfaat,” kata Riadi, Selasa (20/10/2026).
Produksi Ayam Petelur Berbeda Antardesa
Di Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, usaha ayam petelur dengan populasi 1.000 ekor yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mencatat tingkat produksi 74%.
Capaian serupa juga terlihat di Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Usaha dengan populasi 1.000 ekor ayam itu menghasilkan telur dengan tingkat produksi di atas 70%. Pengelola menjual hasilnya melalui pengepul.
Sementara itu, usaha ayam petelur di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, baru mencatat tingkat produksi 10% dari populasi 500 ekor. Pemerintah desa mengalokasikan anggaran Rp132,958 juta untuk usaha tersebut, sedangkan sisa alokasi anggaran diperuntukkan bagi pengembangan usaha bertema pariwisata.
Perbedaan capaian tersebut menunjukkan bahwa pengembangan peternakan desa masih membutuhkan pengelolaan yang konsisten dan peningkatan produktivitas.
Anggaran Rp300 Juta untuk Peternakan
Di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, pemerintah desa mengembangkan usaha ayam petelur dengan populasi 1.000 ekor. Program ini memperoleh anggaran Rp300 juta untuk pembangunan kandang, pembelian ayam pullet, dan penyediaan pakan.
Selain ayam petelur, program Desa Berdaya Tematik juga mengembangkan peternakan sapi. Desa Kumbang memelihara 12 ekor sapi jenis Limousin dan Simmental melalui kerja sama pemerintah desa dengan peternak menggunakan sistem bagi hasil.
Adapun Desa Jagaraga, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat, menjalankan usaha penggemukan sapi dengan dukungan anggaran Rp300 juta melalui pengelolaan BUMDes.
Diversifikasi usaha tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendorong kegiatan ekonomi produktif sesuai potensi desa.
Keluarga Miskin Ekstrem Dapat 32 Ayam
Program Desa Berdaya Transformatif menyasar keluarga miskin ekstrem di Desa Lendang Nangka Utara, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur.
Melalui dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setiap keluarga penerima memperoleh bantuan senilai Rp7 juta. Bantuan tersebut berupa 32 ekor ayam petelur, kandang, dan pakan untuk dua bulan.
Pada peninjauan lapangan 14 Oktober 2026, petugas mengamati kondisi ayam dan kandang sekaligus membahas pemeliharaan ternak bersama pihak terkait. Pendampingan ini bertujuan membantu keluarga penerima merawat ternak dan mengelola usaha agar dapat menghasilkan pendapatan.
Keberlanjutan Usaha Jadi Tantangan
Riadi menekankan bahwa penyaluran bantuan saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan program. Pemerintah desa dan penerima manfaat perlu menjaga kesehatan ternak, mengelola pakan, memantau produksi, serta memastikan pemasaran hasil usaha berjalan.
Evaluasi berkala juga penting untuk mengetahui penyebab perbedaan produktivitas antardesa, terutama pada usaha yang tingkat produksinya masih rendah.
Dengan pengelolaan dan pendampingan yang berkelanjutan, Program Desa Berdaya diharapkan mampu memperkuat pendapatan keluarga, mengembangkan usaha desa, dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat NTB.












