JURNALEKBIS.com — LOMBOK BARAT, Lapas Kelas IIA Lombok Barat kembali menunjukkan eksistensinya dalam program pembinaan kemandirian warga binaan. Rabu (21/10/2026), Lapas Kelas IIA Lombok Barat menggelar acara Panen Raya Edamame seluas 0,8 hektare dengan mengusung tema “Bersama Warga Binaan, Menuju Kemandirian dan Ketahanan Pangan”.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pemberdayaan ekonomi produktif. Meskipun saat ini wilayah tersebut sedang dilanda musim kemarau panjang, lahan pertanian Lapas Lombok Barat tetap menghasilkan panen yang melimpah.
Acara panen raya ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) NTB, Ketut Akbar Herry Achjar, Kalapas Kelas IIA Lombok Barat, Dadang Rais Saputro, dan para kepala unit Pelaksana teknis (Ka UPT) se-Pulau Lombok.

Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, Dadang Rais Saputro, menjelaskan bahwa program penanaman edamame ini merupakan salah satu bentuk nyata dari program integrasi dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan lapas.
“Salah satu program integrasi dan pemberdayaan masyarakat yang kita lakukan adalah menanam edamame. Hasil pertanian edamame ini sangat bagus, karena meskipun berada di tengah musim kemarau yang melanda wilayah kita saat ini, kita masih mampu melaksanakan kegiatan pertanian dengan hasil yang memuaskan,” ujar Dadang di sela-sela kegiatan.
Menghadapi tantangan minimnya ketersediaan air di musim kemarau, pihak Lapas menerapkan strategi khusus. Mengingat tanaman edamame membutuhkan pasokan air yang cukup banyak, pengelola lahan menggunakan metode penyiraman modern.
“Karena edamame ini butuh air yang cukup banyak, kita menggunakan metode sprinkler. Air dimasukkan ke dalam, kemudian disedot dan diputar sedemikian rupa sehingga bisa menyirami tanaman edamame dengan baik dan merata,” jelas Dadang.
Berkat pengelolaan yang maksimal, hasil panen kali ini terbilang sukses. Dadang memproyeksikan produksi edamame tahun ini mencapai sekitar 3 ton. Saat ini, pihaknya telah memasuki periode panen yang kedua kalinya.
Tidak hanya berhenti pada proses bercocok tanam, Lapas Lombok Barat juga telah memastikan rantai pasok hasil pertaniannya. Dadang menyebutkan bahwa hasil panen edamame tersebut telah memiliki pasar yang jelas (buyer) sehingga hasilnya dapat langsung diserap.
“Kami sudah memiliki *buyer* yang menerima hasil dari produk kami, sehingga kita tinggal menggesernya saja karena pembeli sudah siap,” ungkapnya.
Lebih lanjut, keberhasilan program ini juga berdampak langsung pada kesejahteraan warga binaan. Dadang menegaskan bahwa warga binaan yang terlibat aktif dalam pertanian edamame mendapatkan apresiasi berupa premi atau insentif dari hasil penjualan.
“Pasti, dari hasil penjualan ini ada premi yang harus kita salurkan kepada warga binaan yang ikut serta dalam kegiatan pertanian,” tegas Dadang.
Saat ini, terdapat sebanyak 6 orang warga binaan yang secara khusus diterjunkan dan dilatih untuk mengelola pertanian edamame.
Melalui program ini, diharapkan para warga binaan tidak hanya mendapatkan bekal keterampilan bertani yang mumpuni, tetapi juga tertanam jiwa kewirausahaan saat mereka kembali ke tengah masyarakat nanti.
Program Panen Raya Edamame ini menjadi angin segar bagi upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus menjadi contoh bagi instansi pemasyarakatan lain dalam menciptakan lapangan kerja produktif bagi warga binaannya.












