Mataram, Jurnalekbis.com — Aktivitas pendakian Gunung Rinjani sepanjang 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) justru mencatatkan kenaikan dan melampaui target yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Budhy Kurniawan, mengungkapkan bahwa total pendaki yang tercatat sepanjang 2025 mencapai sekitar 132 ribu orang. Jumlah tersebut turun cukup jauh dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sekitar 180 ribu pendaki.
“Untuk jumlah pengunjung pendakian di tahun 2025 sekitar 132 ribu orang. Itu memang mengalami penurunan dibanding tahun 2024,” kata Budhy saat ditemui di Mataram.
Menurut Budhy, penurunan jumlah pendaki tidak terlepas dari kebijakan penutupan jalur pendakian yang dilakukan secara rutin pada awal tahun. Penutupan tersebut biasanya berlangsung dari Januari hingga Maret sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem dan mitigasi risiko keselamatan.
Selain itu, beberapa insiden yang melibatkan pendaki juga menjadi faktor penting yang mendorong pengelola menutup sementara aktivitas pendakian.
“Penutupan jalur juga dilakukan karena adanya penanganan musibah terhadap para pendaki. Itu berdampak cukup signifikan terhadap jumlah kunjungan,” ujarnya.
Meski jumlah pendaki menurun, komposisi pengunjung menunjukkan fenomena menarik. Budhy menyebutkan bahwa wisatawan mancanegara masih mendominasi pendakian Gunung Rinjani. Dari total pendaki, sekitar 43.236 orang merupakan wisatawan asing, sementara 36.978 orang berasal dari wisatawan domestik.

“Tipologinya memang sekitar 60 persen pendaki itu wisatawan mancanegara,” kata Budhy.
Di luar aktivitas pendakian, kawasan TN Gunung Rinjani juga mencatat kunjungan non-pendakian yang cukup besar. Sepanjang 2025, jumlah pengunjung non-pendakian mencapai 52.108 orang. Kunjungan ini didominasi wisatawan nusantara dengan porsi hampir 90 persen.
“Non-pendakian itu seperti kunjungan ke air terjun, savana, dan destinasi wisata alam lainnya di kawasan Rinjani,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi pendapatan, PNBP TN Gunung Rinjani justru mengalami peningkatan. Sepanjang 2025, penerimaan PNBP tercatat sebesar Rp25,9 miliar, naik dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran Rp22,5 miliar.
Budhy menjelaskan bahwa kenaikan PNBP salah satunya dipengaruhi oleh penyesuaian tarif yang diterapkan pengelola kawasan.
“PNBP 2025 itu sekitar Rp25,9 miliar. Ini meningkat dibandingkan tahun 2024. Salah satu faktornya karena ada kenaikan tarif,” ujarnya.
Dengan capaian tersebut, realisasi PNBP 2025 dinilai melampaui target yang telah ditetapkan pemerintah, yakni sebesar Rp24 miliar.
“Target memang ada setiap tahun. Tahun ini targetnya Rp24 miliar dan alhamdulillah tercapai bahkan melampaui,” kata Budhy.
Ke depan, pengelola TN Gunung Rinjani berharap keseimbangan antara konservasi, keselamatan pendaki, dan kontribusi ekonomi dapat terus terjaga, sehingga kawasan ini tetap menjadi destinasi unggulan pariwisata alam Indonesia tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.













