Internasional

Trump Bekukan Visa Imigran 75 Negara, Dunia Kembali Hadapi “Tembok Baru” AS

×

Trump Bekukan Visa Imigran 75 Negara, Dunia Kembali Hadapi “Tembok Baru” AS

Sebarkan artikel ini
Trump Bekukan Visa Imigran 75 Negara, Dunia Kembali Hadapi “Tembok Baru” AS

Jurnalekbis.com – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang peta imigrasi global. Mulai 21 Januari 2026, pemerintah AS menghentikan sementara pemrosesan visa imigran bagi pemohon dari 75 negara, sebuah langkah drastis yang menandai pengetatan imigrasi paling agresif sejak Trump kembali berkuasa.

Kebijakan ini berdampak luas dan lintas kawasan—mulai dari Amerika Latin, Asia Tenggara, Balkan, Afrika, Timur Tengah, hingga Karibia. Ribuan pemohon visa yang telah menunggu bertahun-tahun kini menghadapi ketidakpastian, tanpa kejelasan kapan proses mereka akan dilanjutkan.

Pengetatan Imigrasi Kembali Jadi Senjata Politik Trump

Keputusan membekukan pemrosesan visa imigran ini menegaskan arah kebijakan Trump yang kembali mengedepankan nasionalisme ekonomi dan kontrol ketat terhadap arus pendatang. Sejak dilantik kembali pada Januari lalu, Trump secara konsisten menjadikan imigrasi sebagai isu sentral pemerintahannya.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menyebut kebijakan ini sebagai langkah “penyaringan ulang sistem imigrasi.”

Baca Juga :  Israel vs Iran: Adu Kekuatan Militer, Siapa Lebih Unggul Jika Perang Pecah?

Berdasarkan dokumen kebijakan internal, penangguhan pemrosesan visa mencakup pemohon dari berbagai kawasan strategis.

Amerika Latin

Brasil, Kolombia, dan Uruguay termasuk negara dengan jumlah pemohon visa imigran yang signifikan dan kini terdampak langsung.

Asia Tenggara

Kamboja, Laos, dan Thailand menjadi sorotan karena selama ini memiliki arus migrasi keluarga dan tenaga kerja ke AS.

Balkan

Bosnia dan Albania masuk daftar negara yang pemohon visanya kini ditangguhkan tanpa pengecualian umum.

Selain itu, puluhan negara di Afrika, Timur Tengah, dan Karibia juga terdampak, meski pemerintah AS belum merilis daftar lengkap secara publik.

Kelanjutan Arahan November: Saring Imigran Berdasarkan Finansial

Kebijakan ini bukan keputusan mendadak. Pada November 2025, Trump telah menginstruksikan diplomat AS di seluruh dunia untuk memperketat penilaian kemandirian finansial pemohon visa.

Baca Juga :  MotoGP 2026 Resmi Masuk Era Baru: Mesin Dipangkas, Aturan Dirombak Total

Setiap calon imigran kini harus membuktikan:

  • Memiliki penghasilan atau aset memadai

  • Tidak berpotensi mengakses bantuan sosial AS

  • Mampu hidup mandiri tanpa subsidi negara

Gedung Putih menilai sistem sebelumnya membuka celah masuknya imigran yang kemudian bergantung pada program kesejahteraan sosial.

“Bukan Larangan, Tapi Penyaringan Ketat”

Pemerintah AS menolak menyebut kebijakan ini sebagai larangan imigrasi. Juru bicara Gedung Putih menegaskan penangguhan bersifat sementara dan akan dievaluasi.

Namun hingga kini, tidak ada tenggat waktu kapan kebijakan ini akan dicabut atau dilonggarkan.

Gelombang Kritik: Ancaman bagi Keluarga dan Diplomasi

Kebijakan ini langsung menuai kritik dari kelompok HAM, organisasi imigrasi, dan analis kebijakan luar negeri. Mereka menilai penangguhan visa berpotensi:

  • Memisahkan keluarga lintas negara

  • Menghambat mobilitas tenaga kerja global

  • Merusak hubungan diplomatik AS

Baca Juga :  Mahasiswa Palestina Ditangkap, Ribuan Aktivis Kepung New York

Analis Migration Policy Institute menyebut langkah ini sebagai “kembalinya politik tembok imigrasi.”

Dampak Nyata: Ribuan Pemohon Terjebak Ketidakpastian

Di berbagai negara terdampak, Kedutaan Besar AS telah mulai menghentikan penjadwalan wawancara visa imigran. Banyak pemohon yang telah menjual aset, meninggalkan pekerjaan, bahkan berpisah dengan keluarga kini terkatung-katung.

Bagi sebagian pemohon, penangguhan ini bukan sekadar penundaan administratif, melainkan pukulan besar terhadap rencana hidup mereka.

Amerika Serikat dan Masa Depan Imigrasi Global

Dengan kebijakan ini, Trump kembali menegaskan visinya tentang Amerika Serikat: negara tujuan yang lebih tertutup, lebih selektif, dan berorientasi kepentingan domestik.

Langkah tersebut memperkuat citra AS sebagai negara yang semakin sulit diakses bagi imigran, sekaligus memicu perdebatan global tentang masa depan mobilitas manusia di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *