BisnisEkonomi

Daya Beli Petani NTB Tertekan, NTP Januari 2026 Turun 2,86 Persen

×

Daya Beli Petani NTB Tertekan, NTP Januari 2026 Turun 2,86 Persen

Sebarkan artikel ini
Daya Beli Petani NTB Tertekan, NTP Januari 2026 Turun 2,86 Persen

Mataram, Jurnalekbis.com– Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Januari 2026. NTP NTB tercatat sebesar 130,31, atau turun 2,86 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan melemahnya daya beli petani di perdesaan.

Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi NTB, Ir. Muhammad Ahyar, menjelaskan bahwa NTP merupakan indikator penting untuk mengukur kemampuan ekonomi petani. NTP diperoleh dari perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).

“Penurunan NTP Januari 2026 terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani turun cukup dalam, yakni 2,92 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya turun 0,06 persen,” ujar Muhammad Ahyar dalam keterangannya, Senin (2/2).

Baca Juga :  Indosat dan Google Cloud Perkuat Kolaborasi untuk Transformasi Menjadi AI Native TechCo

Ia menegaskan, meski Ib relatif stabil, penurunan harga hasil pertanian yang diterima petani menjadi faktor utama tertekannya NTP. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan petani mengalami penurunan lebih besar dibandingkan pengeluaran mereka.

Secara konseptual, NTP digunakan untuk melihat daya beli dan daya tukar petani terhadap barang konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi. Jika NTP berada di atas angka 100, petani dinilai masih memiliki surplus. Sebaliknya, jika di bawah 100, petani berada dalam kondisi defisit.

Pada Januari 2026, BPS mencatat lima subsektor pertanian di NTB masih memiliki NTP di atas 100. Subsektor Hortikultura menjadi yang tertinggi dengan NTP 237,96, disusul Subsektor Tanaman Pangan 122,08, Subsektor Peternakan 112,74, Subsektor Perikanan 109,16, serta Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 103,06.

Baca Juga :  ITDC Tutup Berkah Ramadhan Seru 2024 dengan Berbagi Kebaikan

Meski seluruh subsektor utama masih berada di zona surplus, penurunan NTP secara agregat tetap menjadi sinyal tekanan ekonomi di sektor pertanian. Fluktuasi harga komoditas hasil panen menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani.

Selain NTP, BPS NTB juga mencatat penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,18 persen pada Januari 2026. Penurunan IKRT dipicu oleh turunnya indeks pada beberapa kelompok pengeluaran utama, yakni makanan, minuman, dan tembakau, kelompok transportasi, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.

“Turunnya IKRT menunjukkan adanya penyesuaian pola konsumsi rumah tangga, termasuk rumah tangga petani,” kata Ahyar.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Provinsi NTB pada Januari 2026 tercatat sebesar 135,39, atau turun 3,05 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan NTUP menandakan meningkatnya tekanan pada usaha pertanian secara keseluruhan, baik dari sisi produksi maupun pendapatan.

Baca Juga :  Pj Gubernur Dorong Pemberdayaan Petani Bawang Putih Sembalun

BPS menilai dinamika NTP dan NTUP perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam perumusan kebijakan pengendalian harga dan perlindungan pendapatan petani. Stabilitas harga hasil pertanian dinilai krusial agar sektor pertanian tetap menjadi penopang ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *