Mataram, Jurnalekbis.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja sektor tanaman pangan sepanjang 2025 menunjukkan tren beragam. Produksi padi mengalami lonjakan signifikan, sementara produksi jagung pipilan kering justru mengalami penurunan akibat faktor cuaca dan pergeseran pola tanam petani.
Ketua Tim Statistik Harga BPS Provinsi NTB, Ir. Muhammad Ahyar, mengungkapkan bahwa produksi padi NTB pada 2025 mencapai 1,71 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tersebut meningkat 255,21 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi padi tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,45 juta ton GKG.
“Peningkatan produksi padi tahun 2025 terutama dipicu oleh bertambahnya luas panen padi,” kata Muhammad Ahyar, Senin (2/2/2026).
BPS mencatat, luas panen padi NTB pada 2025 mencapai 322,90 ribu hektare, naik 41,18 ribu hektare atau 14,62 persen dibandingkan luas panen 2024 yang sebesar 281,72 ribu hektare. Kenaikan areal panen ini turut berdampak langsung terhadap peningkatan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk.
Produksi beras NTB pada 2025 tercatat mencapai 973,14 ribu ton, meningkat 145,36 ribu ton atau 17,56 persen dibandingkan produksi beras tahun sebelumnya yang sebesar 827,79 ribu ton.
Menurut Ahyar, sejumlah kebijakan pemerintah menjadi faktor penting di balik peningkatan produksi padi. Salah satunya adalah bantuan pompa air yang mendorong perluasan areal tanam sekaligus meningkatkan frekuensi tanam padi di berbagai wilayah NTB.
“Bantuan pompa air berkontribusi pada peningkatan luas areal tanam dan intensitas tanam padi,” ujarnya.

Selain itu, peningkatan bantuan pupuk, penggunaan varietas benih unggul, serta penyesuaian Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen juga memberikan dampak positif. Pemerintah menetapkan HPP GKP sebesar Rp6.500 per kilogram, yang dinilai meningkatkan motivasi petani untuk menanam padi.
Di sisi lain, kinerja produksi jagung NTB justru mengalami kontraksi. BPS mencatat luas panen jagung pipilan pada 2025 mencapai 173,09 ribu hektare, turun 0,67 ribu hektare atau 0,39 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 173,76 ribu hektare.
Penurunan luas panen tersebut berdampak pada produksi. Sepanjang 2025, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen tercatat sebanyak 1,18 juta ton, turun 34,63 ribu ton atau 2,86 persen dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 1,21 juta ton.
Ahyar menjelaskan, penurunan produksi jagung dipengaruhi oleh pergeseran komoditas tanam akibat kondisi cuaca. Curah hujan yang lebih tinggi pada 2025 membuat sebagian petani beralih dari jagung ke padi.
“Cuaca pada 2025 lebih mendukung untuk menanam padi. Akibatnya, sebagian lahan jagung dialihfungsikan untuk tanam padi,” jelasnya.
Selain itu, tingginya curah hujan juga berdampak pada produktivitas jagung. Karakteristik tanaman jagung yang tidak membutuhkan terlalu banyak air menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak optimal.
“Curah hujan yang tinggi justru membuat tanaman jagung kerdil sehingga hasilnya menurun,” kata Ahyar.
Untuk awal 2026, BPS memproyeksikan potensi luas panen jagung periode Januari–Maret mencapai 80,93 ribu hektare dengan potensi produksi sekitar 0,56 juta ton. Proyeksi ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan kebijakan pangan daerah ke depan.














