Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Demam emas melanda Desa Serage, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ratusan warga dari berbagai daerah memadati aliran air di sela perbukitan desa setempat untuk mendulang emas yang diyakini terkandung di lokasi tersebut.
Pantauan di lapangan, para penambang dadakan terlihat menyusuri bantaran sungai sejak pagi hingga sore hari. Mereka menggunakan peralatan sederhana seperti dulang, sekop, dan ember. Tak sedikit yang rela bermalam di sekitar lokasi dengan mendirikan tenda darurat demi memperbesar peluang mendapatkan butiran emas.
Aktivitas ini tak hanya melibatkan warga setempat. Sejumlah penambang datang dari luar daerah, termasuk dari Lombok Barat. Salah seorang warga asal Desa Kuripan Timur, Kecamatan Kuripan, mengaku sengaja menempuh perjalanan jauh demi mencari peruntungan.
“Untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau dapat emas, bisa dijual,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Ia mengaku sudah mendapatkan butiran emas meski belum sempat ditimbang. Bahkan, sejumlah warga lain mengklaim mampu mengumpulkan hingga beberapa gram emas dalam sehari, tergantung keberuntungan.
Namun, di balik euforia tersebut, aktivitas pendulangan emas ini berlangsung di area yang tidak memiliki izin resmi. Aparat desa bersama TNI-Polri telah berulang kali mengimbau warga agar menghentikan kegiatan tersebut. Sayangnya, peringatan itu belum sepenuhnya diindahkan.

Bhabinkamtibmas Desa Serage, Aipda Indra Jaya Kusuma, mengatakan pihaknya bersama Babinsa dan aparat desa terus melakukan penertiban serta sosialisasi kepada warga terkait dampak negatif tambang ilegal.
“Kami sudah lakukan pendekatan persuasif. Kami jelaskan risiko kerusakan lingkungan, potensi longsor, dan bahaya keselamatan bagi warga,” kata Indra.
Hal senada disampaikan Babinsa Desa Serage, Sertu Musa Retraubun. Ia menegaskan pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan pendekatan humanis agar masyarakat memahami risiko jangka panjang dari aktivitas tersebut.
“Kami tidak langsung represif. Kami ajak warga berdialog supaya sadar bahwa ini berbahaya dan melanggar aturan,” ujarnya.
Aparat khawatir aktivitas tambang ilegal ini dapat memicu kerusakan lingkungan, terutama di kawasan perbukitan yang rawan longsor. Selain itu, lonjakan jumlah penambang juga berpotensi memicu konflik sosial, terutama jika hasil dulang tidak sesuai harapan.
Hingga saat ini, petugas masih bersiaga di lokasi untuk mencegah meluasnya aktivitas penambangan. Pemerintah desa juga tengah berkoordinasi dengan instansi terkait guna mencari solusi terbaik, termasuk kemungkinan penutupan area jika situasi kian tidak terkendali.
Sementara itu, warga berharap pemerintah dapat memberikan alternatif mata pencaharian yang lebih aman dan berkelanjutan. Di tengah tekanan ekonomi, demam emas di Desa Serage menjadi potret nyata bagaimana harapan instan sering kali berbenturan dengan risiko hukum dan lingkungan.













