Jakarta, Jurnalekbis.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini berada di kisaran 5,5 hingga 5,6 persen. Target tersebut dipatok lebih tinggi dibanding capaian kuartal sebelumnya, seiring dorongan belanja pemerintah melalui stimulus dan kenaikan Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN).
Airlangga menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen pengungkit konsumsi domestik, termasuk stimulus Bantuan Hari Raya (BHR) yang nilainya meningkat dibanding tahun lalu. “Stimulus BHR tahun lalu itu setengahnya dari yang sekarang,” ujarnya dalam keterangan kepada awak media. Selasa (3/3).
Selain itu, pemerintah juga menaikkan THR ASN tahun ini lebih besar dibanding periode sebelumnya. “Kemudian kenaikan THR ASN juga tahun ini sepuluh persen lebih besar,” kata Airlangga.
Menurutnya, kombinasi stimulus tersebut diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat pada awal tahun, terutama menjelang momentum Ramadan dan Idul Fitri yang secara historis menjadi pendorong konsumsi rumah tangga. Konsumsi domestik selama ini berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
“Sehingga tentunya kami berharap pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama ini akan lebih tinggi dibandingkan Q4 yang lalu. Jadi kita menargetkan antara 5,5 sampai 5,6,” tegasnya.

Tak hanya belanja pemerintah, Airlangga juga menyinggung kontribusi sektor swasta, termasuk perusahaan berbasis teknologi dan transportasi daring yang memiliki dampak signifikan terhadap perputaran ekonomi nasional. Ia menyebut sejumlah perusahaan besar seperti GoTo dan Grab sebagai bagian dari ekosistem ekonomi digital yang terus bertumbuh.
“Kemudian sisanya ada yang sepuluh, GoTo dan Grab,” ujarnya singkat ketika menjelaskan kontribusi sejumlah sektor terhadap pergerakan ekonomi.
Pemerintah menilai momentum kuartal pertama sangat krusial dalam membangun fondasi pertumbuhan tahunan. Biasanya, awal tahun menjadi fase pemulihan pasca perlambatan di akhir tahun sebelumnya. Karena itu, injeksi belanja melalui stimulus sosial dan THR dipandang strategis untuk menjaga optimisme pasar sekaligus mendorong aktivitas produksi dan distribusi.
Sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal tahun akan dipengaruhi oleh stabilitas harga pangan, inflasi yang terkendali, serta percepatan realisasi belanja negara. Kenaikan THR ASN yang mencapai lebih dari 10 persen dinilai berpotensi meningkatkan konsumsi ritel, sektor transportasi, hingga pariwisata domestik.
Dengan target 5,5–5,6 persen di kuartal pertama, pemerintah menunjukkan optimisme terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih fluktuatif. Airlangga menegaskan, koordinasi lintas kementerian dan lembaga akan terus diperkuat untuk memastikan stimulus berjalan efektif dan tepat sasaran.
Pemerintah berharap kombinasi kebijakan fiskal, penguatan konsumsi, serta peran sektor swasta dapat menjaga tren pertumbuhan tetap berada di jalur positif sepanjang tahun ini.














