Mataram, Jurnalekbis.com– Lembaga Kajian Sosial dan Politik (Mi6) mengusulkan agar olahraga tradisional di PON 2028 mendapat ruang sebagai cabang eksebisi. Usulan tersebut dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga warisan budaya Nusantara sekaligus memperkenalkan kembali permainan rakyat kepada generasi muda di tengah dominasi olahraga modern.
Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, mengatakan Indonesia memiliki ratusan jenis olahraga tradisional yang lahir dari kearifan lokal masyarakat di berbagai daerah. Namun, sebagian besar kini mulai kehilangan peminat karena minim ruang kompetisi dan promosi dalam agenda olahraga nasional.
“Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya dan tradisi. Banyak olahraga tradisional mulai ditinggalkan generasi muda karena kurang mendapatkan ruang aktualisasi. Karena itu, kami mengusulkan agar PON 2028 memberikan tempat, minimal sebagai cabang eksebisi,” kata Bambang Mei Finarwanto, yang akrab disapa Didu, Minggu (5/7/2026).
Menurut Didu, selama ini Pekan Olahraga Nasional telah sukses menjadi ajang pembinaan atlet prestasi. Namun, sebagai pesta olahraga terbesar di Indonesia, PON juga memiliki tanggung jawab untuk memperkuat identitas budaya bangsa melalui pelestarian olahraga tradisional.
Mantan Direktur Eksekutif WALHI NTB itu menilai olahraga tradisional tidak hanya mengajarkan kompetisi. Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, sportivitas, pendidikan karakter, hingga filosofi kehidupan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.
“Olahraga tradisional adalah bagian dari memori kolektif bangsa. Di dalamnya terdapat sejarah, nilai kebersamaan, dan identitas masyarakat. Jika tidak dirawat, kita berisiko kehilangan sebagian jati diri bangsa,” ujarnya.
Mi6 mengusulkan agar tahap awal dilakukan melalui cabang eksebisi. Skema tersebut dinilai tidak akan mengganggu struktur utama penyelenggaraan PON sebagai ajang olahraga prestasi, tetapi tetap membuka ruang promosi bagi olahraga tradisional dari seluruh provinsi.
Menurut Didu, format eksebisi juga dapat menjadi dasar untuk menyusun regulasi pertandingan, standarisasi perlombaan, hingga sistem pembinaan atlet secara berkelanjutan.
“Jika perkembangan olahraga tradisional semakin baik, bukan tidak mungkin pada masa mendatang sebagian cabang dapat dipertandingkan secara resmi di PON,” katanya.
Mi6 juga meminta Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, memperjuangkan usulan tersebut kepada panitia penyelenggara PON XXII Tahun 2028 agar tersedia venue khusus bagi cabang olahraga tradisional rakyat.
Selain mendukung pelestarian budaya, kehadiran olahraga tradisional diyakini dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata. Setiap daerah memiliki permainan khas yang berpotensi menjadi daya tarik tersendiri bagi atlet, ofisial, maupun wisatawan yang hadir selama penyelenggaraan PON.
Didu menilai PON masa depan tidak cukup hanya menjadi arena perebutan medali. Ajang olahraga nasional itu juga harus menjadi etalase budaya Indonesia yang memperlihatkan keberagaman tradisi dari Sabang hingga Merauke.
“Kita ingin masyarakat yang datang ke PON tidak hanya menyaksikan pertandingan olahraga modern, tetapi juga mengenal permainan rakyat dan budaya yang hidup di berbagai daerah,” ucapnya.
Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Mi6 mendorong Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Kebudayaan, serta pemerintah daerah segera melakukan inventarisasi olahraga tradisional yang layak ditampilkan pada PON 2028.
Inventarisasi itu mencakup penyusunan aturan pertandingan, sistem penilaian, dokumentasi, hingga pola pembinaan agar setiap cabang memiliki standar yang jelas.
Mi6 juga menilai pelestarian olahraga tradisional harus dimulai dari sekolah dan komunitas. Regenerasi menjadi kunci agar permainan rakyat tidak hanya muncul saat festival atau seremoni, melainkan tetap hidup dalam aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Prestasi olahraga memang penting, tetapi bangsa yang besar juga mampu menjaga akar budayanya. PON 2028 bisa menjadi momentum mempertemukan prestasi olahraga dengan pelestarian budaya sehingga warisan Nusantara tetap hidup bagi generasi mendatang,” pungkas Didu.














