Mataram, Jurnalekbis.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) memastikan cadangan beras pemerintah berada dalam kondisi aman hingga tahun depan. Di tengah kesiapan menghadapi potensi musim kemarau, Bulog juga bersiap menyalurkan bantuan pangan beras alokasi Juli 2026 kepada 856.131 Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh NTB.
Pemimpin Wilayah Bulog NTB, Mara Kamin Siregar, mengatakan seluruh penyaluran bantuan pangan untuk alokasi sebelumnya telah rampung. Hingga 30 Juni 2026, realisasi distribusi mencapai 100 persen kepada seluruh penerima yang telah ditetapkan pemerintah.
“Alhamdulillah, kegiatan penyaluran bantuan pangan alokasi sebelumnya sudah selesai tersalurkan 100 persen. Bantuan yang disalurkan berupa beras 10 kilogram dan minyak goreng 2 liter yang diberikan sekaligus untuk dua bulan alokasi,” ujar Mara, Senin (6/7/2026).
Untuk alokasi Juli 2026, Bulog masih menunggu keputusan resmi pemerintah pusat terkait jadwal distribusi. Meski demikian, persiapan logistik telah dilakukan agar penyaluran dapat berlangsung segera setelah penugasan diterbitkan.
Berbeda dengan penyaluran sebelumnya, bantuan kali ini hanya berupa beras sebanyak 10 kilogram untuk satu bulan alokasi tanpa tambahan minyak goreng.
“Insya Allah pada Juli ini akan kembali disalurkan bantuan pangan berupa beras 10 kilogram. Untuk sementara jumlah penerima masih sama, yakni 856.131 Penerima Bantuan Pangan,” katanya.
Dengan jumlah penerima tersebut, Bulog NTB telah menyiapkan sekitar 8.561.310 kilogram atau sekitar 8.561 ton beras untuk memenuhi kebutuhan distribusi satu bulan.
Selain memastikan kesiapan bantuan sosial, Bulog NTB juga menjamin ketersediaan cadangan beras pemerintah tetap berada pada level yang sangat mencukupi. Hingga awal Juli 2026, stok beras yang tersimpan di seluruh gudang Bulog NTB mencapai 268.564 ton setara beras.
Jumlah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas pasokan dan mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk meningkatnya kebutuhan masyarakat maupun gangguan produksi akibat perubahan cuaca.
Menurut Mara, tingginya stok tersebut tidak terlepas dari keberhasilan pengadaan beras sepanjang musim panen tahun ini. Penyerapan gabah dan beras petani mampu melampaui target yang telah ditetapkan sehingga memperkuat cadangan pangan pemerintah di daerah.
“Stok beras kita cukup aman sampai dengan tahun depan. Bahkan saat ini kita masih terus melakukan penyerapan hasil panen petani,” ungkapnya.
Ia menambahkan, cadangan yang besar memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan daerah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang atau terjadi kekeringan sebagaimana sempat diperkirakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Bulog memastikan kondisi tersebut tidak akan mengganggu ketersediaan beras bagi masyarakat maupun pelaksanaan berbagai program pemerintah yang membutuhkan cadangan pangan.
Tak hanya memenuhi kebutuhan dalam daerah, Bulog NTB juga terus memasok beras ke provinsi lain. Hingga saat ini, distribusi ke Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mencapai sekitar 5.000 ton.
Pengiriman ke dua wilayah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemerataan stok nasional dan akan terus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.
“Insya Allah stok aman. Kalau pun ada ancaman kekeringan, kami pastikan cadangan beras pemerintah di NTB tetap mencukupi,” tegas Mara.
Dengan stok yang mencapai ratusan ribu ton, NTB menjadi salah satu daerah dengan cadangan beras pemerintah yang kuat. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas harga, menjamin kelancaran penyaluran bantuan pangan, sekaligus memberikan kepastian bagi masyarakat di tengah dinamika musim dan kebutuhan pangan nasional.














