Nyemulak Dimulai, Sade Bangkit dari Puing Kebakaran

Nyemulak Dimulai, Sade Bangkit dari Puing Kebakaran

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com — Kampung Adat Sade mulai dibangun kembali setelah kebakaran melanda kawasan permukiman tradisional Sasak tersebut. Rekonstruksi ditandai dengan prosesi Nyemulak, berupa pemasangan tiang pertama pembangunan rumah adat dan Masjid Sade, Kamis (3/9/2026).

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal hadir dalam prosesi di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Pembangunan kembali dilakukan bertahap setelah pendataan menunjukkan puluhan bangunan adat dan fasilitas ekonomi warga terdampak kebakaran.

Data pascakebakaran mencatat 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, serta 69 artshop mengalami dampak. Kondisi tersebut membuat pemulihan Sade tidak hanya menyangkut tempat tinggal warga, tetapi juga ruang sosial, aktivitas ekonomi, dan kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata budaya NTB.

Bagi masyarakat Sasak Rembitan, Nyemulak memiliki arti khusus. Tradisi ini menjadi bagian dari tata cara adat sebelum pembangunan rumah dimulai. Prosesi tersebut sekaligus menjadi doa dan ikhtiar agar proses pembangunan berjalan baik serta bangunan yang didirikan membawa keselamatan bagi penghuninya.

Karena itu, Nyemulak kali ini tidak berhenti sebagai seremoni. Prosesi tersebut menjadi penanda dimulainya upaya menghidupkan kembali Kampung Adat Sade dengan tetap mempertahankan karakter dan nilai budaya yang diwariskan masyarakat Sasak.

Baca Juga :  Api Melalap Kampung Adat Sade, Warga Kehilangan Rumah dan Harta Benda

Gubernur Lalu Muhamad Iqbal mengingatkan agar pembangunan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Menurutnya, karakter Sade harus dikembalikan sedekat mungkin dengan kondisi sebelum kebakaran.

“Pemasangan tiang pancang pertama atau Nyemulak ini merupakan ikhtiar panjang dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade. Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar,” ujar Miq Iqbal.

Ia menilai daya tarik Sade bukan semata-mata bangunan tradisional. Wisatawan datang untuk melihat sekaligus memahami arsitektur, ritual, tradisi, serta kehidupan masyarakat Sasak yang masih dipertahankan.

“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Wisatawan datang ke Sade karena ingin melihat bangunan yang bercerita tentang budaya masyarakat Sasak serta ritual dan kehidupan yang ada di NTB. Karena itu, nilai awal Sade harus dikembalikan,” tegasnya.

Untuk mengawal proses tersebut, pemerintah akan mendorong pembentukan Satgas Rekonstruksi Sade. Tim ini nantinya melibatkan pemerintah, masyarakat adat, dan unsur terkait untuk mengoordinasikan pembangunan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

Iqbal juga meminta bantuan yang datang dari berbagai pihak dikelola melalui rekening bersama. Mekanisme tersebut dinilai penting agar seluruh dukungan tercatat dan penggunaannya dapat dipantau secara terbuka.

Baca Juga :  TPS Jadi Meriah: Bakso Gratis Bawa Warga ke Kotak Suara

“Banyak pihak yang ingin membantu. Karena itu, bantuan yang masuk harus dikumpulkan dan dikelola secara transparan,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah juga diminta mempercepat pembangunan museum semi permanen. Fasilitas tersebut akan menjadi ruang edukasi sementara bagi wisatawan selama proses rekonstruksi berlangsung.

“Ketika wisatawan datang, mereka tetap bisa melihat dan memahami bentuk serta cerita tentang Sade. Karena proses rekonstruksi dimulai, kawasan ini tentu harus ditata,” ujar Iqbal.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan Nyemulak menjadi momentum awal pembangunan kembali rumah adat dan Masjid Sade. Ia menyebut pelaksanaan pada bulan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.

“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan waktu yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” kata Pathul.

Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, H. Lalu Muh. Faozal, mengatakan penentuan waktu Nyemulak telah melalui musyawarah dengan masyarakat Dusun Sade.

“Hari ini merupakan hari baik yang telah disepakati bersama untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujarnya.

Baca Juga :  Budidaya Madu Trigona Mendatangkan Cuan

Rekonstruksi selanjutnya akan berjalan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil perencanaan dan ketersediaan sumber daya. Pemerintah bersama masyarakat adat diharapkan dapat memastikan proses tersebut tidak menghilangkan bentuk, tata ruang, maupun filosofi yang menjadi identitas Sade.

Bagi warga, pembangunan kembali bukan hanya soal mengganti bangunan yang terbakar. Pemulihan juga berarti mengembalikan ruang kehidupan, aktivitas ekonomi, serta warisan budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Sasak Rembitan.

Nyemulak pun menjadi titik awal perjalanan tersebut. Dari puing kebakaran, Sade mulai dibangun kembali—bukan sekadar mengembalikan rumah yang hilang, tetapi menjaga agar identitas dan warisan budaya Sasak tetap hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *