Jurnalekbis.com – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) membuka peluang menempatkan pesawat pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) di wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah ini menjadi salah satu rencana penguatan respons kedaruratan, terutama untuk mendukung kawasan wisata yang memiliki risiko tinggi, mulai dari Gunung Rinjani hingga wisata penyelaman.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan rencana tersebut saat meninjau pelaksanaan operasi SAR dalam ajang MotoGP Mandalika. Menurutnya, kecepatan menjadi faktor penting dalam operasi penyelamatan, sehingga dukungan unsur udara perlu diperkuat.
“Ke depan kita perlu men-standby-kan pesawat yang ada di wilayah Bali dan Mataram sini,” kata Syafii saat menjawab pertanyaan media mengenai evaluasi dukungan SAR untuk MotoGP.
Dua Helikopter Dukung Operasi SAR MotoGP
Syafii menjelaskan, Basarnas telah mengerahkan dua helikopter untuk mendukung penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah. Personel dan unsur udara tersebut menjalankan tugas sesuai kebutuhan operasi serta standar internasional yang berlaku dalam penyelenggaraan ajang balap dunia.
Ia menyebut kegiatan berlangsung aman dan lancar, meskipun terdapat sejumlah insiden selama rangkaian acara. Syafii menilai personel SAR, awak pesawat, dan petugas lapangan telah menjalankan prosedur dengan baik ketika menghadapi kejadian tersebut.
“Dengan adanya kejadian kemarin, saya lihat semuanya sudah sesuai prosedur, khusus untuk SAR,” ujarnya.
Meski demikian, Basarnas tetap akan melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada penyelenggaraan berikutnya. Evaluasi menyeluruh terhadap MotoGP juga melibatkan pihak-pihak terkait sesuai tanggung jawab masing-masing.
Pesawat SAR Masih Didatangkan dari Luar Daerah
Salah satu perhatian Basarnas terletak pada kebutuhan mendatangkan pesawat dari wilayah lain untuk mendukung operasi di Mandalika. Syafii menyebut pesawat yang tersedia harus didatangkan dari Bogor maupun Surabaya.
Kondisi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk memperkuat kesiapsiagaan unsur udara di kawasan Bali dan NTB. Namun, Syafii belum memastikan waktu penempatan maupun jumlah pesawat yang akan disiagakan.
Ia menjelaskan bahwa Basarnas mengelola kekuatan operasional secara terintegrasi. Kantor SAR di berbagai daerah menjalankan tugas sebagai pelaksana operasi Basarnas, sehingga pengerahan personel dan sarana dapat menyesuaikan kebutuhan serta kondisi kedaruratan.
Rencana penempatan pesawat akan bergantung pada ketersediaan armada dan kebijakan pengerahan kekuatan yang dimiliki Basarnas.
Rinjani hingga Wisata Bawah Laut Jadi Perhatian
Menurut Syafii, kebutuhan penguatan SAR di Bali dan NTB tidak hanya berkaitan dengan MotoGP Mandalika. Kawasan ini juga memiliki aktivitas wisata alam yang menuntut respons cepat ketika terjadi keadaan darurat.
Gunung Rinjani menjadi salah satu lokasi yang membutuhkan kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan. Selain pendakian, aktivitas wisata bawah laut, termasuk penyelaman, juga berpotensi menghadapi situasi yang memerlukan penanganan segera.
Dalam kondisi seperti itu, dukungan pesawat dapat membantu mempercepat mobilisasi personel maupun pelaksanaan operasi sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kalau kita bicara kecepatan, pasti unsur udara itu kita kedepankan,” tegas Syafii.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan sarana udara menjadi salah satu arah pengembangan kemampuan Basarnas untuk menjangkau wilayah yang memiliki tantangan geografis dan risiko kedaruratan.
Basarnas Buka Ruang Evaluasi Internal
Selain mengevaluasi operasi MotoGP, Syafii memanfaatkan kunjungannya untuk berdialog dengan jajaran Kantor SAR Mataram. Ia mendengarkan berbagai tantangan operasional, kebutuhan sarana prasarana, serta persoalan yang dihadapi petugas di daerah.
Syafii menegaskan, masukan dari Kantor SAR menjadi perhatian kantor pusat karena seluruh jajaran menjalankan tugas dalam satu sistem Basarnas.
Dengan evaluasi tersebut, Basarnas berharap kesiapsiagaan operasi pada ajang internasional maupun kawasan wisata dapat terus meningkat. Bagi Bali dan NTB, ketersediaan unsur udara yang lebih dekat dengan wilayah operasi berpotensi menjadi faktor penting dalam mempercepat pertolongan ketika keadaan darurat terjadi.
Meski rencana penempatan pesawat masih memerlukan tindak lanjut, kebutuhan akan respons cepat kini menjadi salah satu perhatian dalam penguatan layanan SAR di kawasan pariwisata tersebut.












