Jurnalekbis.com – Industri otomotif global memasuki fase baru pada 2026. Mobil listrik, teknologi keselamatan aktif, serta sistem berbasis kecerdasan buatan diprediksi menjadi arus utama, menggantikan dominasi kendaraan konvensional berbahan bakar fosil. Di Indonesia, tren ini mulai terlihat seiring meningkatnya pilihan model, dukungan regulasi, dan perubahan perilaku konsumen.
Sejumlah produsen otomotif global telah memastikan bahwa lini mobil 2026 akan didominasi kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) dan hybrid. Teknologi mesin bensin murni masih dipertahankan, namun porsinya kian menyusut, terutama di segmen perkotaan.
Analis otomotif menilai, mobil 2026 bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan perangkat mobilitas pintar. Fitur seperti sistem bantuan pengemudi tingkat lanjut (ADAS), konektivitas internet, hingga integrasi aplikasi digital akan menjadi standar, bahkan di kelas menengah.
Di pasar Indonesia, tren mobil listrik diperkirakan semakin kuat seiring beroperasinya pabrik kendaraan listrik dan baterai dalam negeri. Pemerintah juga terus mendorong percepatan elektrifikasi melalui insentif pajak, pengembangan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta kebijakan kendaraan rendah emisi.
Data penjualan menunjukkan minat konsumen terhadap mobil listrik terus meningkat sejak 2024. Pada 2026, segmen ini diproyeksikan tidak lagi terbatas pada kendaraan premium, melainkan merambah kelas menengah dengan harga yang lebih terjangkau.

Selain elektrifikasi, desain mobil 2026 juga mengalami perubahan signifikan. Produsen mengedepankan konsep aerodinamis, kabin minimalis, serta layar digital sebagai pusat kendali. Tombol fisik semakin dikurangi, digantikan panel sentuh dan perintah suara.
Dari sisi keselamatan, mobil keluaran 2026 hampir dipastikan dibekali fitur standar seperti pengereman darurat otomatis, peringatan tabrakan, pengendali laju adaptif, hingga sistem penjaga jalur. Fitur-fitur ini sebelumnya hanya tersedia di mobil kelas atas.
Namun, tantangan masih membayangi. Harga kendaraan listrik, ketersediaan infrastruktur pengisian, serta edukasi konsumen menjadi pekerjaan rumah utama. Di luar kota besar, adopsi mobil listrik masih menghadapi kendala akses dan kepercayaan publik.
Produsen otomotif pun dituntut beradaptasi cepat. Persaingan tidak hanya datang dari merek lama, tetapi juga pemain baru, khususnya dari China, yang agresif menghadirkan teknologi dengan harga kompetitif.
Memasuki 2026, peta industri otomotif dipastikan berubah. Mobil yang efisien, ramah lingkungan, dan cerdas bukan lagi visi masa depan, melainkan kebutuhan pasar. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan, sekaligus tuntutan lebih tinggi terhadap kualitas dan teknologi kendaraan yang mereka gunakan.













