BisnisEkonomi

MBG Jadi Mesin Ekonomi Baru, SMK Pariwisata Aik Bual Produksi 1.000 Roti per Hari

×

MBG Jadi Mesin Ekonomi Baru, SMK Pariwisata Aik Bual Produksi 1.000 Roti per Hari

Sebarkan artikel ini
MBG Jadi Mesin Ekonomi Baru, SMK Pariwisata Aik Bual Produksi 1.000 Roti per Hari

Lombok Tengah, Jurnalekbis.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya berdampak pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang nyata bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di daerah. Bahkan, dampak positif tersebut dirasakan langsung oleh UMKM yang dikelola lembaga pendidikan.

Di Lombok Tengah, SMK Pariwisata Aik Bual, Kecamatan Kopang, menjadi salah satu contoh konkret bagaimana program nasional ini mampu menggerakkan roda ekonomi lokal. Sekolah kejuruan tersebut kini kebanjiran pesanan roti untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat.

Melalui dapur praktik yang disulap menjadi unit produksi massal, guru dan siswa SMK Pariwisata Aik Bual memfokuskan diri memproduksi roti sebagai menu tambahan dalam program MBG. Setiap hari, sekolah ini mampu memproduksi hingga 1.000 buah roti yang kemudian dipasok ke dapur-dapur MBG di Lombok Tengah, Lombok Timur, hingga Lombok Barat.

Baca Juga :  Inflasi NTB Juni 2024: Lebih Rendah Dibanding Nasional, Didorong Stabilitas Harga Pangan

Tingginya permintaan roti dari dapur MBG menunjukkan besarnya kebutuhan pangan sehat dan bergizi dalam pelaksanaan program tersebut. Bahkan, karena volume pesanan yang terus meningkat, pihak sekolah mengaku sempat kewalahan dan harus membagi sebagian pesanan kepada rekanan UMKM lain di sekitar mereka.

Kepala SMK Pariwisata Aik Bual, Hairul Anam, mengatakan keterlibatan siswa dalam proses produksi ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis praktik yang nyata. Menurutnya, sekolah sengaja mengintegrasikan kegiatan produksi dengan kurikulum agar siswa memahami langsung dunia kerja dan wirausaha.

“Keterlibatan siswa dalam produksi ini adalah bentuk pembelajaran nyata, agar mereka memahami proses produksi yang nantinya akan mereka hadapi ketika sudah masuk dalam dunia kerja atau membuat usaha sendiri,” ujar Hairul Anam.

Baca Juga :  PLN Percepat Pembangunan SUTT 150 kV Jeranjang–Sekotong: Dorong Ekonomi dan Pariwisata Sekotong

Melalui skema teaching factory yang diterapkan, sekolah tidak hanya berfokus pada pencetakan lulusan terampil, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi. Dari hasil penjualan roti ke dapur MBG, SMK Pariwisata Aik Bual mampu meraup omzet hingga Rp 6 juta per bulan.

Pendapatan tersebut, kata Hairul, dimanfaatkan kembali untuk pengembangan sarana praktik, peningkatan kualitas bahan baku, serta mendukung kegiatan pembelajaran siswa. Dengan demikian, siklus produksi dan pendidikan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Ia menambahkan, program MBG secara tidak langsung telah menjadi laboratorium bisnis bagi para siswa. Produksi roti dalam skala besar dengan standar kualitas tertentu memaksa siswa untuk memahami manajemen produksi, pengendalian mutu, hingga distribusi produk.

Baca Juga :  Buka Indonesia's FOLU Net Sink 2030, Ini Paparkan Inovasi Pengelolaan Lingkungan Menurut Umi Rohmi

“Siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga mempraktikkan manajemen produksi, kualitas produk, hingga pemasaran. Ini pengalaman yang sangat berharga,” tandasnya.

Keberhasilan SMK Pariwisata Aik Bual menunjukkan bahwa program MBG memiliki efek berganda, tidak hanya di sektor kesehatan dan gizi, tetapi juga pada pemberdayaan UMKM dan dunia pendidikan. Model kolaborasi antara sekolah, UMKM, dan program pemerintah ini dinilai mampu menjadi contoh pengembangan ekonomi berbasis komunitas yang berkelanjutan di daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *