BisnisEkonomi

Investasi Rp1,7 Triliun Masuk NTB, Parent Stock Ayam Dibangun di Sumbawa

×

Investasi Rp1,7 Triliun Masuk NTB, Parent Stock Ayam Dibangun di Sumbawa

Sebarkan artikel ini
Investasi Rp1,7 Triliun Masuk NTB, Parent Stock Ayam Dibangun di Sumbawa

Mataram, Jurnalekbis.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai mempercepat proyek hilirisasi peternakan senilai Rp1,7 triliun yang digadang-gadang akan mengurangi ketergantungan pasokan ayam dan bibit unggas dari luar daerah. Proyek yang mendapat dukungan Danantara itu diawali dengan pembangunan parent stock (PS) atau indukan ayam di Serading, Kabupaten Sumbawa.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhamad Riadi mengatakan pembangunan parent stock menjadi proyek pertama yang diprioritaskan karena akan menjadi sumber produksi day old chick (DOC) atau bibit ayam untuk kebutuhan NTB.

“Yang mendapat penugasan dari Danantara untuk segera dibangun lebih dulu adalah parent stock di Serading. Parent stock itu nanti akan menghasilkan DOC,” kata Riadi, Rabu (1/4).

Menurut Riadi, penugasan pembangunan parent stock dan rumah potong unggas (RPU) telah diberikan kepada PT Berdikari. Sementara untuk pembangunan pabrik pakan, pulet ayam petelur, dan industri olahan unggas, Danantara masih mengevaluasi sejumlah perusahaan yang berminat.

Baca Juga :  Sidak SPBU di Mataram, Polisi Pastikan Stok BBM Aman dan Harga Stabil

Salah satu investor yang telah menyatakan kesiapan secara resmi adalah PT Agriculture Global Khatulistiwa (AGK) asal Pontianak. Perusahaan tersebut telah mengirimkan surat kepada Pemprov NTB dan siap masuk ke seluruh rantai bisnis hilirisasi peternakan.

“AGK sudah bersurat ke kami dan siap berinvestasi untuk mendukung hilirisasi ini. Mau ditempatkan di parent stock atau kegiatan lain, mereka siap,” ujarnya.

Riadi mengatakan perwakilan AGK bahkan telah meminta bertemu Gubernur NTB. Namun, pertemuan itu masih menunggu jadwal gubernur.

Lokasi parent stock direncanakan berdiri di atas lahan milik Pemprov NTB di Serading seluas 10 hektare. Lahan tersebut merupakan bagian dari aset seluas 42 hektare milik Perusahaan Modal Daerah (PMDA) NTB.

Meski begitu, proses pembangunan masih menunggu penyelesaian administrasi lahan. Pemprov telah mengajukan surat ke Badan Keuangan Daerah untuk proses appraisal, namun penilaian belum dapat dilakukan karena batas lahan yang akan digunakan masih harus ditetapkan Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Baca Juga :  BRN NTB–NTT Soroti Pungli Pelabuhan Lombok, Wisatawan Bisa Kapok

“Kita sudah minta PT Berdikari segera menentukan batas area yang dipakai. Setelah itu baru kita bersurat ke BPN dan lahan bisa dinilai,” kata Riadi.

Ia mengungkapkan Presiden meminta proyek tersebut mulai berjalan tahun ini. Karena itu, Kementerian Pertanian disebut melakukan evaluasi progres setiap pekan terhadap sejumlah daerah prioritas, yakni NTB, Gorontalo, Jawa Timur, Sulawesi, dan Sulawesi Selatan.

Selain parent stock di Sumbawa, proyek hilirisasi peternakan juga mencakup pembangunan rumah potong unggas di Lopok, Kabupaten Sumbawa, pabrik pakan di Dompu, serta pabrik pengolahan hasil unggas di Lombok Tengah.

Pabrik pakan sengaja diusulkan dibangun di Dompu karena wilayah tersebut menjadi sentra jagung terbesar di NTB.

“Kalau pabrik pakan dibangun di Dompu, otomatis bisa menyerap produksi jagung petani di sana,” ujar Riadi.

Baca Juga :  Polda NTB Tegaskan Stok Beras–Jagung Aman, Harga Dipantau Ketat

Total investasi seluruh proyek diperkirakan mencapai Rp1,7 triliun. Riadi menyebut pembangunan parent stock di Sumbawa dinilai sangat layak karena selama ini fasilitas indukan ayam di NTB hanya berada di Pulau Lombok.

Saat ini parent stock yang sudah beroperasi berada di Sembelia, Lombok Timur, milik Charoen Pokphand dan di Pringgabaya Utara milik Japfa.

“Di Pulau Sumbawa belum ada parent stock. Karena itu dipilih di Serading. Kalau ini terbangun, kita bukan lagi bicara mendatangkan bibit dari luar, tapi justru menjual keluar NTB,” katanya.

Di atas lahan 10 hektare tersebut, parent stock diperkirakan mampu menampung hingga 100 ribu ekor indukan dalam satu kandang. Dengan tingkat produksi sekitar 90 persen, fasilitas itu diproyeksikan mampu memasok kebutuhan DOC dan ayam petelur di NTB secara mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *