BisnisEkonomi

Inflasi NTB Tembus 3,27 Persen, Kota Bima Tertinggi

×

Inflasi NTB Tembus 3,27 Persen, Kota Bima Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Inflasi NTB Tembus 3,27 Persen, Kota Bima Tertinggi

Mataram, Jurnalekbis.com  — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) NTB pada April 2026 mencapai 3,27 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,27. Kota Bima menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di NTB, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sumbawa.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin, mengatakan inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,23 persen dengan IHK 112,69. Sementara Kabupaten Sumbawa mencatat inflasi terendah sebesar 2,82 persen dengan IHK 112,04.

“Inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran,” kata Wahyudin dalam rilis perkembangan inflasi NTB, Senin (4/5/2026).

BPS mencatat kenaikan harga terjadi pada sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi sebesar 3,76 persen. Sementara kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami lonjakan paling tinggi mencapai 15,71 persen.

Baca Juga :  Daftar Barang dan Jasa yang Terkena PPN 12% Berdasarkan Aturan Menteri Keuangan

Selain itu, kelompok pendidikan mengalami inflasi sebesar 2,94 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 2,01 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,99 persen.

Di sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga tercatat naik 1,94 persen. Kelompok transportasi dan kelompok informasi, komunikasi, serta jasa keuangan masing-masing mengalami inflasi sebesar 1,37 persen.

Meski inflasi tahunan meningkat, NTB justru mengalami deflasi secara bulanan atau month to month (m-to-m) sebesar 0,11 persen pada April 2026. Sementara inflasi tahun kalender atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 1,82 persen.

Menurut Wahyudin, deflasi pada April dipicu turunnya harga sejumlah komoditas pangan setelah memasuki musim panen dan berakhirnya momentum Ramadan serta Idulfitri.

Baca Juga :  Internet Telkomsel Jadi Andalan UMKM Mebel Sekotong Tembus Pasar

“Deflasi terutama disebabkan penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, kol putih atau kubis, dan udang basah karena pasokan mulai tercukupi,” ujarnya.

Selain komoditas pangan, penurunan harga emas perhiasan juga memberikan andil terhadap deflasi bulanan di NTB. Kondisi itu sejalan dengan perkembangan harga emas dunia yang mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

BPS menilai menurunnya konsumsi masyarakat pasca-Lebaran turut memengaruhi pelemahan harga sejumlah komoditas di pasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *