BisnisEkonomi

NTB Tumbuh 13,64 Persen, Bank Indonesia Ungkap Faktor Pendorongnya

×

NTB Tumbuh 13,64 Persen, Bank Indonesia Ungkap Faktor Pendorongnya

Sebarkan artikel ini
NTB Tumbuh 13,64 Persen, Bank Indonesia Ungkap Faktor Pendorongnya

Mataram, Jurnalekbis.com — Ekonomi Nusa Tenggara Barat melesat tajam pada triwulan I 2026. Pertumbuhan mencapai 13,64 persen secara tahunan, menjadikan NTB sebagai salah satu daerah dengan laju ekonomi tertinggi di Indonesia pada awal tahun ini. Lonjakan ekspor tambang dan panen besar di sektor pertanian menjadi motor utama penggerak pertumbuhan tersebut.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah ditopang kuat oleh sektor pertambangan yang mengalami peningkatan signifikan seiring relaksasi izin ekspor konsentrat tembaga hingga April 2026.

“Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat pada triwulan I tahun 2026 tumbuh sangat tinggi mencapai 13,64 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kuatnya ekspor pertambangan,” ujar Hario.

Selain sektor tambang, konsumsi pemerintah dan rumah tangga juga ikut menopang pergerakan ekonomi daerah. Pembayaran gaji ke-14 aparatur sipil negara mendorong konsumsi pemerintah, sementara momentum Ramadan dan Idulfitri memperkuat belanja masyarakat.

Baca Juga :  Vanili Organik Lombok Merosot 40 Persen, Fusarium dan Aturan Jadi Biang Kerok

Di sektor riil, pertanian menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi NTB. Produksi padi dan jagung meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya. Data Bank Indonesia menunjukkan produksi gabah kering giling tumbuh 73,93 persen secara tahunan dengan luas panen naik 75,06 persen.

Sementara itu, produksi jagung pipilan kering melonjak 92,86 persen dengan kenaikan luas panen mencapai 95,46 persen.

“Pertanian masih menjadi sektor penyerap tenaga kerja terbesar di NTB. Nilai Tukar Petani juga tetap berada di atas 100, yang menunjukkan kesejahteraan petani relatif terjaga,” kata Hario.

Meski pertumbuhan ekonomi melesat, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian. Pada April 2026, NTB mengalami deflasi sebesar minus 0,11 persen secara bulanan. Penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan emas menjadi faktor utama pemicu deflasi, terutama di Kabupaten Sumbawa.

Baca Juga :  Melihat Eduwisata Farming Sebelah Jalur Sutt PLN Di Kecamatan Batulayar

Namun secara tahunan, inflasi NTB masih tercatat lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Kondisi itu membuat penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Bank Indonesia memproyeksikan sejumlah risiko inflasi masih membayangi menjelang pertengahan tahun. Mulai dari kenaikan harga bahan bakar akibat tensi geopolitik global, peningkatan permintaan protein hewani saat Iduladha, hingga potensi kenaikan harga minyak goreng dan bahan kemasan.

Beberapa komoditas yang rutin memicu inflasi saat Iduladha di NTB antara lain angkutan udara, bawang merah, beras, cabai rawit, ikan layang, ikan bandeng, dan tomat.

Menjelang Iduladha 2026, harga cabai rawit, minyak goreng, dan daging ayam ras mulai mengalami kenaikan. Di sisi lain, harga beras masih relatif stabil.

Baca Juga :  Bulog NTB Salurkan Beras Murah Rp11.000/Kg Lewat Empat Jalur

Untuk mengantisipasi lonjakan harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah memperluas operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah di 44 titik. Langkah lain yang dilakukan yakni inspeksi mendadak ke pasar dan distributor, distribusi cabai dari daerah surplus, hingga edukasi belanja bijak melalui media massa dan platform digital.

Selain menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana pertanian guna meningkatkan produktivitas petani di NTB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *