Lombok Barat, Jurnalekbis.com – Setelah sukses mengembangkan budidaya cabai, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lombok Barat kini mulai menanam edamame di lahan pertanian seluas 0,9 hektare di dalam area lapas. Komoditas kedelai Jepang itu dipilih karena memiliki nilai jual tinggi, masa panen relatif singkat, serta peluang pasar yang terus tumbuh.
Program tersebut tidak sekadar mengejar hasil panen. Penanaman edamame juga menjadi bagian dari pembinaan keterampilan kerja bagi warga binaan agar memiliki kemampuan produktif saat kembali ke masyarakat.
Penanaman dilakukan secara bertahap dengan melibatkan langsung warga binaan dalam seluruh proses budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga perawatan tanaman. Langkah ini dinilai menjadi upaya nyata lapas dalam membangun pembinaan berbasis kemandirian.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Lombok Barat, Irfan Diansyah, mengatakan pemanfaatan lahan pertanian terus dioptimalkan agar tidak berhenti setelah panen cabai selesai dilakukan.
“Setelah panen cabai, kami tidak ingin lahan menjadi tidak produktif. Karena itu kami memilih edamame yang masa tanamnya relatif singkat dan memiliki peluang pasar cukup baik,” ujar Irfan, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, edamame memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan dibanding tanaman hortikultura biasa. Selain permintaan pasar yang stabil, tanaman tersebut juga lebih mudah dikembangkan dengan sistem pertanian terkontrol di lingkungan lapas.
Ia menjelaskan, warga binaan yang terlibat tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga mendapat pendampingan teknis agar memahami metode budidaya secara menyeluruh. Pendekatan itu dilakukan supaya keterampilan yang diperoleh benar-benar dapat diterapkan setelah bebas nanti.
“Kami ingin mereka memahami seluruh proses pertanian, bukan hanya menanam. Ada pembelajaran tentang pengolahan lahan, perawatan tanaman hingga persiapan panen,” katanya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, menegaskan program pertanian menjadi salah satu fokus pembinaan yang terus diperkuat di dalam lapas. Menurut dia, pembinaan berbasis keterampilan kerja lebih efektif dalam membangun mental mandiri warga binaan.
“Program ini bukan semata mengejar hasil panen, tetapi bagaimana warga binaan memiliki keterampilan nyata yang bisa menjadi bekal saat kembali ke masyarakat,” ujar Fadli.
Ia menilai diversifikasi tanaman seperti edamame membuka peluang baru dalam pengembangan sektor pertanian di lingkungan pemasyarakatan. Selain meningkatkan produktivitas lahan, program itu juga berpotensi menciptakan kerja sama dengan pihak luar dalam pemasaran maupun pengembangan hasil pertanian.
Di tengah isu ketahanan pangan nasional, langkah Lapas Lombok Barat memanfaatkan lahan produktif dinilai menjadi pendekatan pembinaan yang lebih modern dan berorientasi jangka panjang. Program tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi dan kesiapan sosial warga binaan.
Dengan lahan pertanian yang terus dimanfaatkan secara maksimal, Lapas Lombok Barat berharap program pembinaan berbasis pertanian dapat berkembang menjadi sumber keterampilan baru yang bernilai ekonomi bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.














