Mataram, Jurnalekbis.com – Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Barat mulai mengarahkan fokus baru pada investasi strategis yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi daerah dalam jangka panjang. Tidak hanya menjaga stabilitas inflasi dan sistem keuangan, BI NTB kini aktif membuka jalan masuk investasi di sektor energi hijau hingga industri unggulan lokal.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan penguatan investasi dilakukan melalui Regional Investment Relationship Unit (RIRU). Skema itu menjadi jembatan antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan calon investor untuk mempercepat realisasi proyek potensial di NTB.
“Melalui RIRU, Bank Indonesia NTB mendorong berbagai investasi strategis di daerah seperti pengembangan energi baru terbarukan, proyek waste to energy di Kebon Kongok, investasi PLTS di Lombok Tengah, serta penguatan sektor pariwisata, rumput laut, kopi, vanili, tuna, dan mutiara,” ujar Hario.
Langkah tersebut muncul di tengah kebutuhan NTB memperluas sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor konvensional. Energi hijau menjadi salah satu fokus utama karena dinilai memiliki peluang besar menarik investasi nasional maupun global.
Proyek waste to energy di Kebon Kongok, Lombok Barat, misalnya, diproyeksikan menjadi solusi ganda bagi daerah. Selain menangani persoalan sampah yang terus meningkat, proyek itu juga diarahkan menghasilkan energi alternatif yang ramah lingkungan.
Sementara di Lombok Tengah, investasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mulai dilirik sebagai bagian dari transisi energi bersih. Kawasan selatan NTB yang memiliki intensitas matahari tinggi dianggap potensial menjadi pusat pengembangan energi surya di Indonesia timur.
Tak hanya sektor energi, BI NTB juga menaruh perhatian pada sektor riil yang selama ini menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Industri rumput laut, kopi, vanili, tuna, hingga mutiara disebut memiliki daya saing ekspor yang besar jika dikelola secara terintegrasi.
Penguatan investasi di sektor tersebut dinilai penting karena mampu menciptakan efek berantai terhadap lapangan kerja, hilirisasi produk, hingga peningkatan pendapatan masyarakat lokal.
Di sektor pariwisata, BI NTB juga mendorong investasi yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga penguatan ekosistem ekonomi kreatif dan UMKM penunjang destinasi wisata.
Dorongan investasi itu sejalan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi NTB tetap kompetitif di tengah tantangan global. Ketidakpastian ekonomi dunia, tekanan geopolitik, hingga fluktuasi harga komoditas menjadi faktor yang membuat daerah perlu memperkuat sumber ekonomi domestik.
BI NTB menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar proyek strategis tidak berhenti pada tahap perencanaan. Dukungan pemerintah daerah, regulasi yang adaptif, serta kepastian investasi menjadi faktor penting untuk menarik minat investor masuk ke NTB.
Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan posisi NTB sebagai salah satu kawasan super prioritas pariwisata nasional, peluang investasi dinilai masih terbuka lebar dalam beberapa tahun ke depan.














