Perbankan NTB Tumbuh 14 Persen, BI Soroti Kredit Jagung

Perbankan NTB Tumbuh 14 Persen, BI Soroti Kredit Jagung

Mataram, Jurnalekbis.com— Kinerja sektor perbankan di Nusa Tenggara Barat masih menunjukkan tren positif pada triwulan I 2026. Kredit tumbuh dua digit, transaksi digital terus melonjak, dan penggunaan QRIS lintas negara makin ramai di kawasan pariwisata. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, Bank Indonesia menyoroti meningkatnya tekanan kredit di sektor pertanian akibat gagal panen jagung di Kabupaten Sumbawa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB, Hario K. Pamungkas, mengatakan kondisi perbankan daerah masih berada dalam kategori solid meski sejumlah sektor menghadapi tantangan.

“Pada triwulan I 2026, kredit berdasarkan lokasi proyek tumbuh 14,32 persen secara tahunan dengan rasio kredit bermasalah atau NPL sebesar 1,91 persen,” kata Hario dalam keterangannya.

Pertumbuhan kredit tersebut ditopang ekspansi di sejumlah sektor strategis. Pertambangan menjadi motor utama dengan lonjakan kredit mencapai 45,03 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, dana pihak ketiga atau DPK juga meningkat 4,38 persen dengan total simpanan masyarakat mencapai Rp47,23 triliun.

Baca Juga :  B50 Mulai 2026, Apa Dampaknya untuk Mobil Diesel dan Harga Solar?

Meski begitu, Hario mengingatkan sektor pertanian belum sepenuhnya pulih. Kasus gagal panen jagung di Kabupaten Sumbawa berdampak langsung terhadap kualitas kredit petani dan pelaku usaha pertanian.

“Tekanan kualitas kredit masih terjadi di sektor pertanian, khususnya akibat gagal panen jagung di Sumbawa,” ujarnya.

Di sisi lain, digitalisasi sistem pembayaran di NTB terus mengalami percepatan. Penggunaan QRIS tumbuh signifikan baik dari jumlah pengguna, merchant, hingga volume transaksi harian. Tren itu juga didorong meningkatnya aktivitas wisatawan asing di kawasan Mandalika.

Menurut Hario, penggunaan QRIS Cross Border dengan Malaysia dan Singapura mengalami kenaikan cukup tajam selama awal 2026. Fasilitas pembayaran lintas negara tersebut dinilai semakin memudahkan wisatawan bertransaksi tanpa harus menukar uang tunai.

Baca Juga :  Antisipasi Lonjakan Harga, Polda NTB Kawal Gerakan Pangan Murah Serentak Nasional

“Peningkatan transaksi QRIS Cross Border terutama terjadi di kawasan pariwisata seperti Mandalika,” katanya.

Bank Indonesia bersama ITDC juga memperluas penggunaan QRIS di kawasan KEK Mandalika dengan melibatkan puluhan pelaku UMKM. Langkah itu dilakukan untuk memperkuat ekosistem ekonomi digital sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat.

Tak hanya sektor perbankan dan pembayaran digital, BI NTB juga mencatat perkembangan pengelolaan uang rupiah sepanjang triwulan I 2026. Net inflow uang kartal tercatat sebesar Rp0,64 triliun, mencerminkan tingginya perputaran uang tunai di masyarakat.

Namun, peredaran uang palsu masih menjadi perhatian. Selama tiga bulan pertama 2026, ditemukan sebanyak 183 lembar uang palsu yang mayoritas merupakan pecahan Rp100 ribu.

Baca Juga :  Jelang MotoGP 2026, ITDC Gandeng Narmada Jadi Sponsor Air Mineral Resmi

Untuk menekan peredaran uang palsu, BI NTB menggencarkan edukasi program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan melalui sekolah, pedagang pasar, komunitas, hingga kerja sama dengan perbankan.

Bank Indonesia berharap penguatan literasi keuangan dan digitalisasi pembayaran dapat menjaga stabilitas ekonomi NTB di tengah dinamika global dan tekanan pada sejumlah sektor usaha daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *