Mataram, Jurnalekbis.com – Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia sekaligus pengusaha muda NTB, Lalu Fatahillah, menilai generasi muda saat ini perlu lebih didorong masuk ke sektor usaha riil dibanding hanya berfokus pada investasi pasar modal. Menurutnya, kondisi lapangan kerja yang masih terbatas membuat keberadaan usaha baru jauh lebih dibutuhkan karena mampu menciptakan pekerjaan secara langsung.
Di tengah meningkatnya minat anak muda terhadap investasi digital dan saham, Fatahillah justru melihat sektor usaha riil memiliki dampak ekonomi yang lebih nyata bagi masyarakat. Ia menilai bisnis yang tumbuh akan menciptakan efek berantai mulai dari perekrutan tenaga kerja hingga meningkatnya perputaran ekonomi daerah.
“Kalau pandangan pribadi saya, di tengah kondisi sekarang yang masih banyak anak muda belum bekerja, lebih baik kita membuka sektor riil. Dari sana lapangan pekerjaan bisa terbuka lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, keberanian generasi muda membangun usaha dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi pengangguran, khususnya di NTB. Sebab ketika sebuah usaha berkembang, kebutuhan tenaga kerja juga akan terus bertambah.
“Kalau perusahaan baru berkembang, otomatis dia akan merekrut lagi, merekrut lagi. Perputaran ekonomi juga akan semakin besar,” katanya.
Fatahillah mengatakan, sektor riil memberikan dampak ekonomi yang dapat langsung dirasakan masyarakat. Aktivitas bisnis menciptakan rantai ekonomi mulai dari produksi, distribusi, hingga transaksi yang melibatkan banyak pihak.
Ia mencontohkan, usaha yang berkembang tidak hanya menguntungkan pemilik bisnis, tetapi juga membuka peluang bagi pekerja, pemasok barang, hingga pelaku UMKM lain yang terhubung dalam rantai usaha tersebut.
“Secara ekonomi dampaknya lebih terlihat. Ada proses belanja, transaksi, produksi, semuanya berjalan dan manfaatnya langsung dirasakan,” ujarnya.
Selain aspek ekonomi, ia juga menyoroti pentingnya peran pengusaha dalam membangun budaya kewirausahaan di tengah masyarakat. Menurutnya, pelaku usaha memiliki tanggung jawab moral untuk membagikan pengetahuan dan pengalaman agar semakin banyak masyarakat tertarik menjadi entrepreneur.
“Kita sebagai pengusaha punya tanggung jawab moral dan sosial untuk menyebarkan ilmu entrepreneur agar masyarakat terbuka wawasannya,” katanya.
Meski begitu, Fatahillah tidak menolak keberadaan pasar modal sebagai instrumen investasi. Ia mengakui investasi saham maupun instrumen keuangan lainnya tetap memiliki manfaat, terutama untuk pengelolaan aset dan perencanaan keuangan jangka panjang.
Namun ia mengingatkan bahwa investasi juga memiliki risiko yang harus dipahami sebelum seseorang terjun ke dalamnya. Karena itu, masyarakat perlu memahami profil risiko serta tujuan finansial masing-masing.
“Semua ada risikonya. Kalau bermain di pasar modal tentu harus melihat portofolio dan memahami risikonya. Tapi bagi saya, membangun usaha adalah pilihan hidup,” ujarnya.
Sebagai pengusaha, Fatahillah mengaku tetap memilih sektor riil karena dinilai memberi manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat dibanding keuntungan individual semata.
“Kalau saya pribadi tetap lebih memilih sektor riil karena manfaatnya jauh lebih terasa bagi banyak orang,” tegasnya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda di NTB berani memulai usaha sendiri. Menurutnya, pertumbuhan wirausaha baru akan menjadi kunci memperkuat ekonomi daerah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap lapangan kerja formal yang jumlahnya masih terbatas.














