BisnisEkonomiPertanian

Kelengkeng Diamond River Sukadana Jadi Primadona Baru NTB, Dilirik Program MBG

×

Kelengkeng Diamond River Sukadana Jadi Primadona Baru NTB, Dilirik Program MBG

Sebarkan artikel ini
Kelengkeng Diamond River Sukadana Jadi Primadona Baru NTB, Dilirik Program MBG

Lombok Utara, Jurnalekbis.com – Buah kelengkeng jenis Diamond River yang dibudidayakan secara organik di Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, mulai menjadi primadona baru di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain diminati konsumen dan pedagang buah, kelengkeng lokal ini juga mulai dilirik untuk mendukung kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan dan kesehatan.

Permintaan terhadap kelengkeng organik asal Desa Sukadana terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Namun tingginya permintaan tersebut belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh Kelompok Tani Lintang Utara karena masa panen utama telah berakhir dan saat ini hanya tersisa panen susulan.

Ketua Kelompok Tani Lintang Utara, Saftahandi, mengungkapkan bahwa permintaan datang dari berbagai pihak, mulai dari pengelola dapur MBG hingga pelaku usaha buah di Kota Mataram.

“Permintaan tinggi sekarang. Cuma belum bisa kita penuhi karena masa panen sudah lewat. Sekarang buah susulan ini yang terakhir. Ke depan kami fokus meningkatkan produksi agar kebutuhan pasar dan dapur MBG bisa terpenuhi,” kata Saftahandi, Minggu (31/5).

Baca Juga :  Prabowo Resmikan Wajah Baru Stasiun Abang Baru: Fokus Amankan Pangan dan Dorong Revolusi Transportasi Massal

Menurutnya, ketertarikan pasar muncul setelah ia membawa sampel kelengkeng sebanyak lima kilogram ke Mataram. Ukuran buah yang besar, rasa manis alami, dan kualitas buah yang baik menjadi daya tarik utama.

“Tanpa perawatan khusus rasanya sudah manis seperti ini. Itu yang membuat mereka tertarik,” ujarnya.

Kelengkeng yang dibudidayakan masyarakat Sukadana merupakan varietas Diamond River yang dikenal memiliki daging buah tebal, rasa manis, tekstur berair, serta tingkat produktivitas tinggi. Selain itu, buah ini memiliki daya simpan yang cukup baik dan dapat bertahan hingga lebih dari satu minggu setelah dipanen.

Saftahandi menegaskan, sebagian besar kelengkeng yang tumbuh di wilayahnya dapat dikategorikan sebagai organik karena tidak menggunakan pupuk maupun bahan kimia sintetis.

Baca Juga :  Irnadi Kusuma Bidik Investasi NTB Rp64 Triliun, Sasar Australia hingga Eropa

“Buah ini tumbuh alami. Tidak pernah diberi pupuk kimia. Hanya memanfaatkan pupuk kandang seperti kotoran kambing atau ayam dalam jumlah terbatas,” jelasnya.

Potensi pengembangan kelengkeng di Desa Sukadana juga cukup besar. Hampir setiap rumah warga memiliki pohon kelengkeng di pekarangan. Bahkan ada keluarga yang menanam lebih dari tiga pohon.

Sementara itu, anggota Kelompok Tani Lintang Utara, Karman, menjelaskan bahwa pengembangan kelengkeng bermula dari program budidaya lebah madu Trigona pada 2021. Saat itu, sekitar 2.000 bibit kelengkeng dibagikan kepada kelompok masyarakat sebagai sumber nektar lebah.

“Dari 2.000 pohon yang ditanam, saat ini sekitar 1.400 pohon masih hidup dan berproduksi. Dalam empat tahun terakhir, pohon-pohon tersebut mulai berbuah lebat,” katanya.

Berdasarkan perhitungan kelompok tani, potensi produksi kelengkeng di Desa Sukadana mencapai sekitar 30 ton per musim dengan asumsi rata-rata satu pohon menghasilkan 30 kilogram buah.

Baca Juga :  BGN Bantah Mitra MBG Untung Rp 1,8 Miliar per Tahun
0-0x0-0-0#

Manfaat ekonomi mulai dirasakan warga. Beberapa petani bahkan mampu menjual hasil panen secara daring dengan pendapatan mulai Rp600 ribu hingga Rp3 juta per pohon.

“Kami melihat kelengkeng sekarang lebih menjanjikan dibanding madu Trigona. Kalau madu bisa dipanen enam sampai delapan bulan sekali, sedangkan kelengkeng hanya membutuhkan sekitar empat bulan sejak berbunga hingga panen,” ujar Karman.

Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, kelompok tani juga tengah menyiapkan kawasan kebun kelengkeng seluas dua hektare di pinggir jalan utama sebagai cikal bakal agrowisata. Konsep yang dikembangkan memungkinkan wisatawan memetik buah langsung dari pohon.

Dengan tingginya minat pasar, dukungan program MBG, serta rencana pengembangan agrowisata, kelengkeng organik Desa Sukadana kini menjadi salah satu komoditas hortikultura yang berpotensi menjadi ikon baru Kabupaten Lombok Utara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *