Mataram, Jurnalekbis.com – Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) 2026 diprediksi menjadi ajang olahraga terbesar sekaligus penggerak ekonomi daerah. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB memperkirakan jumlah penonton selama pelaksanaan Porprov akan menembus 150 ribu orang, sementara nilai perputaran ekonomi diproyeksikan melampaui Rp100 miliar.
Ketua Umum KONI NTB H. Mori Hanafi mengatakan optimisme tersebut didasarkan pada tingginya antusiasme masyarakat bahkan sebelum seremoni pembukaan resmi digelar. Dengan melibatkan 51 cabang olahraga (cabor), Porprov dinilai memiliki daya tarik yang mampu menghadirkan ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
“Kalau dilihat dari 51 cabor dan antusias masyarakat sebelum pembukaan, kami meyakini akumulasi penonton bisa di atas 150 ribu orang,” kata Mori Hanafi.
Menurutnya, sejumlah cabang olahraga diperkirakan menjadi magnet utama bagi masyarakat. Sepak bola masih menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak, disusul berbagai cabang olahraga bela diri, bola basket, hingga bola voli indoor.
Meski demikian, Mori mengingatkan agar perhatian publik tidak hanya tertuju pada cabang olahraga yang ramai penonton. Ia berharap seluruh pertandingan tetap mendapat dukungan karena setiap atlet membawa nama daerahnya masing-masing.
“Memang ada beberapa cabor yang mungkin kurang diminati penonton, tapi jangan terlalu disorot. Semua cabang olahraga tetap penting,” ujarnya.
Selain menjadi pesta olahraga, Porprov tahun ini diproyeksikan memberi efek berganda terhadap perekonomian lokal. KONI NTB memperkirakan nilai transaksi yang tercipta selama penyelenggaraan meningkat hampir dua kali lipat dibanding Porprov 2023.
Jika pada penyelenggaraan sebelumnya dampak ekonomi diperkirakan mencapai sekitar Rp50 miliar, maka pada tahun ini nilainya diprediksi menembus sedikitnya Rp100 miliar.
Menurut Mori, peningkatan tersebut didorong oleh kedatangan ribuan atlet, ofisial, pelatih, tamu undangan, pengurus KONI pusat, pengurus cabang olahraga nasional, hingga perwakilan KONI dari berbagai provinsi.
“Kami meyakini kontribusinya bisa lebih dari Rp100 miliar karena bukan hanya kontingen daerah, tetapi juga banyak tamu dari Jakarta dan berbagai provinsi lainnya,” jelasnya.
Salah satu sektor yang langsung merasakan dampaknya adalah industri perhotelan. KONI NTB mencatat sedikitnya 4.200 kamar hotel telah digunakan untuk kebutuhan akomodasi kontingen dan ofisial yang tersebar di enam kabupaten/kota, termasuk Kabupaten Sumbawa Barat.
Dari sisi pengeluaran akomodasi saja, nilai transaksi diperkirakan telah mendekati Rp10 miliar, meski angka final masih dalam proses pendataan karena sistem pembayaran dilakukan masing-masing cabang olahraga sesuai lama pertandingan.
Tak hanya hotel, geliat ekonomi juga mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar arena pertandingan. Meningkatnya jumlah pengunjung diperkirakan akan mendorong penjualan makanan, minuman, transportasi, hingga berbagai produk lokal selama berlangsungnya kompetisi.
Mori berharap dukungan media dan publikasi yang masif dapat semakin meningkatkan jumlah penonton di seluruh venue pertandingan. Terlebih, seluruh masyarakat dapat menikmati pertandingan tanpa dipungut biaya.
“Kami berharap publikasi yang dilakukan teman-teman media semakin menarik minat masyarakat. Ini hiburan yang sangat baik dan semua pertandingan bisa ditonton secara gratis,” pungkasnya.
Dengan tingginya animo masyarakat, puluhan cabang olahraga yang dipertandingkan, serta dampak ekonomi yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah, Porprov NTB 2026 tidak hanya menjadi ajang pembinaan prestasi atlet, tetapi juga momentum penting untuk menggerakkan sektor pariwisata, perhotelan, UMKM, dan ekonomi daerah secara lebih luas.













