Pertamina Luncurkan Trenggiling untuk Alihkan Pengguna LPG 3 Kg

Pertamina Luncurkan Trenggiling untuk Alihkan Pengguna LPG 3 Kg

Mataram, Jurnalekbis.com– Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan Program Trenggiling (Trade-In Tabung Keliling), sebuah inovasi distribusi energi yang memungkinkan masyarakat menukar tabung LPG 3 kilogram bersubsidi dengan Bright Gas non-subsidi secara keliling. Program yang digagas PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus melalui Sales Area NTB bersama Pemerintah Provinsi NTB dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) itu diharapkan mampu mempercepat penyaluran subsidi energi agar benar-benar dinikmati masyarakat yang berhak.

Peluncuran program yang berlangsung di Mataram, Selasa (28/7/2026), menjadi langkah baru dalam mendorong masyarakat mampu dan pelaku usaha beralih menggunakan LPG non-subsidi. Strategi tersebut sekaligus menjawab tantangan distribusi LPG 3 kilogram yang selama ini masih banyak dimanfaatkan kelompok yang tidak termasuk penerima subsidi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Lalu Wiranata, S.IP., M.A., menilai Trenggiling merupakan inovasi yang memiliki nilai strategis dalam tata kelola energi nasional.

“Program ini sangat potensial. Kalau ikut lomba inovasi, saya yakin bisa menjadi juara karena baru pertama di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :  Nilai Tukar Petani di NTB Mengalami Kenaikan pada Juni 2024

Menurut Wiranata, keberadaan Trenggiling tidak hanya mendorong ketepatan sasaran subsidi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program prioritas Pemerintah Provinsi NTB.

Ia mengungkapkan, Disperindag telah berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pertamina, dan Bulog untuk memperkuat program Desa Mandiri Energi yang menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan ekstrem.

“Kami sudah berdiskusi bersama Dinas ESDM, Pertamina dan Bulog untuk mendukung program Bapak Gubernur melalui pembentukan Desa Mandiri Energi. Fokus utamanya adalah mengentaskan kemiskinan ekstrem hingga nol persen di desa-desa sasaran. Disperindag siap berkolaborasi dengan siapa pun demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Selain substansi program, Wiranata juga mengapresiasi penggunaan nama Trenggiling, yang diambil dari satwa endemik dan dilindungi di NTB sebagai identitas layanan tersebut.

Senada dengan itu, Kepala Dinas ESDM NTB, H. Syamsuddin, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan subsidi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi.

“Pemerintah Provinsi NTB berperan sebagai fasilitator agar kuota LPG subsidi benar-benar tepat sasaran bagi masyarakat yang kurang mampu. Kami berharap masyarakat yang mampu dapat beralih dari tabung melon ke LPG non-subsidi,” ujarnya.

Baca Juga :  Dukung Komunitas Pengguna Kendaraan Listrik, PLN UIW NTB Resmikan SPKLU di Kantor Gubernur NTB

Ia menambahkan, sinergi pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Pertamina, dan Hiswana Migas menjadi kunci agar distribusi LPG bersubsidi sesuai regulasi.

“Target utama Bapak Gubernur adalah menurunkan angka kemiskinan ekstrem di desa-desa sasaran terutama yang masuk dalam program Desa Berdaya. Ketika subsidi tepat sasaran, masyarakat yang membutuhkan memperoleh manfaat secara optimal, sementara kelompok mampu dan pelaku usaha menggunakan LPG non-subsidi,” katanya.

Sementara itu, Sales Area Manager Pertamina Patra Niaga Wilayah NTB, Dany Hutama Aji, menjelaskan Trenggiling mengusung konsep jemput bola. Armada layanan akan mendatangi kawasan perkotaan dan pusat aktivitas ekonomi sehingga masyarakat dapat melakukan penukaran tabung LPG 3 kilogram menjadi Bright Gas 5,5 kilogram secara lebih mudah.

“Selama ini pangkalan lebih banyak menyediakan LPG 3 kilogram, sehingga masyarakat maupun pelaku usaha yang membutuhkan produk non-PSO sering mengalami kesulitan. Melalui Trenggiling, armada kami akan menyisir wilayah perkotaan dan pusat ekonomi agar konsumen dapat langsung melakukan trade-in ke Bright Gas 5,5 kilogram,” jelasnya.

Baca Juga :  Pemrov NTB Optimis 20 Emas Bisa teraih Pada Pelatda PON XXl 2024

Program tersebut menyasar pelaku usaha komersial seperti UMKM, usaha laundry, hotel, restoran, hingga rumah tangga yang telah memiliki kemampuan ekonomi menggunakan LPG non-subsidi. Untuk mempercepat transisi, Pertamina juga menyiapkan berbagai insentif berupa potongan harga penukaran tabung, program promosi, serta rencana penambahan agen Bright Gas Non-PSO di Kabupaten Lombok Utara.

Dengan pendekatan layanan bergerak dan kolaborasi lintas instansi, Trenggiling diharapkan menjadi model baru distribusi LPG nasional yang mampu menjaga subsidi tetap tepat sasaran sekaligus memperluas penggunaan energi non-subsidi secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *